| Kamis, 22 Nopember 2007 | EKONOMI |
11 Perusahaan Tekstil Jateng Dapat Bantuan RestrukturisasiSOLO-Sebanyak 11 perusahaan tekstil di Jateng telah disetujui pemerintah memperoleh dana bantuan restrukturisasi mesin. Realisasi dana bantuan itu, rencananya diserahkan akhir tahun ini. Hal itu diungkapkan Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng, Joko Santoso di Solo kemarin. Dikatakan, jumlah perusahaan tekstil di Jateng mencapai ratusan. Tetapi tidak semua mengajukan bantuan restrukturisasi kepada Departemen Perindustrian. Alasannya, terkendala persyaratan yang cukup berat. Salah satu syarat perusahaan yang mengajukan bantuan, harus memiliki dana sepuluh kali lipat dari besarnya dana bantuan. ''Besarnya bantuan itu maksimal Rp 5 miliar. Agar bisa memperoleh Rp 5 miliar, perusahaan itu harus menyediakan dana sendiri Rp 50 miliar,'' katanya. Dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, banyak perusahaan yang kesulitan dengan persyaratan itu. Karena yang memperoleh bantuan hanya 11 perusahaan, yang belum memperoleh tahun ini dimasukkan dalam daftar tunggu. API Jateng berharap, yang masuk daftar tunggu itu bisa direalisasi pada 2008. Selanjutnya bantuan itu harus dipergunakan untuk membeli mesin baru. Tidak sembarang mesin baru diizinkan dibeli, melainkan mesin tekstil yang kualitasnya lebih bagus dan produktivitasnya lebih tinggi dari mesin sebelumnya. Dana bantuan juga bisa untuk membeli forklif, generator dan boiler. Belum Signifikan Mengingat banyaknya perusahaan yang belum akan menerima bantuan, dia menyatakan, permasalahan restrukturisasi perusahaan tekstil di Jateng masih belum dapat diselesaikan dalam waktu singkat. ''Bantuan ini belum terasa signifkan. Bantuan ini hanya pendorong, tetapi kami tidak mengecilkan arti bantuan ini, sebab kemampuan negara terbatas,'' katanya. Ia berharap bantuan ini akan merangsang perusahaan tekstil di Jateng untuk membenahi diri, sehingga bisa berkembang lebih baik. Seiring adanya perhatian pemerintah, perbankan kini mulai melirik kembali industri tekstil. ''Perbankan mulai terbuka matanya, bahwa industri tekstil tidak sunset, melainkan justru sunrise,'' katanya. (bt-33) |