logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Nopember 2007 EKONOMI
Line

Pebisnis Mulai Berburu Dinar Irak

TREN baru bisnis mata uang asing, negara yang sedang mengalami sengketa perang telah menjamur. Salah satunya mata uang dinar Irak, sebuah negara yang kini masih ''dikuasai'' negara adikuasa Amerika Serikat. Banyak yang berpikiran perang yang digagas Amerika itu, sebenarnya hanya kamuflase atas penguasaan sumber daya Irak, berupa ladang-ladang minyaknya.

Lepas dari perang tersebut, ada sejumlah pebisnis yang memanfaatkan kesempatan untuk berinvestasi memburu dinar, dengan harapan nilainya kelak bakal meningkat. Bagaimana tidak mungkin, dalam kurun waktu tidak terlalu lama apresiasi nilai dinar Irak terus mengalami peningkatan.

Untuk mendapatkan informasi dan melakukan bisnis investasi dinar Irak pun, tidak akan mendapatkan kesulitan. Bagi para internet mania, untuk mencari informasi apa saja bisa didapat, seperti lewat Google. Dan tinggal klik dinariraq, maka akan muncul berbagai situs yang memudahkan siapa saja mendapat informasi bisnis itu.

Stanly Gunawan, pelaku bisnis dinar Irak yang juga penggarap situs www.jualdinariraq.com mengatakan, dinar Irak pada tahun 1990-an merupakan mata uang paling kuat di Timur Tengah. Jatuhnya sanksi PBB, disusul invasi Amerika membuat dinar merosot ke titik terendah dalam sejarah negara itu.

Sebelumnya nilai tukar dinar Irak begitu berjaya, di mana 1 dinar sama dengan 3,29 dolar AS. Semasa invasi nilai tukar dinar turun tajam mencapai 6.000 Dinar sama dengan 1 dolar AS. Pascaperang akhir 2006 lalu kembali mengalami peningkatan 1.400 dinar tiap 1 dolar AS. Awal tahun 2007 nilai tukar kembali membaik menjadi 1.300 dinar tiap dolar AS. ''Para pemain bisnis ini berharap Dinar dapat terus meningkat. Bukan tidak mungkin investasi dinar sekarang bakal terus berlipat keuntungan,'' ujar Stanly.

Momentum

Di balik keterpurukan dinar Irak itulah, justru banyak orang yang ingin memanfaatkan momentum agar mendapatkan keuntungan besar. Ide itu muncul berdasarkan pengalaman terhadap negara-negara, yang baru saja mengakhiri perang dan melibatkan Amerika Serikat.

Sebagai penghasil minyak bumi dan gas alam, Irak diperkirakan memiliki fundamental ekonomi kuat. Bukan tidak mungkin pada masa mendatang mata uang dinar Irak, bakal diperhitungkan dunia. Sebenarnya bisnis mata uang asing tidak berbeda, ketika sejumlah orang di Indonesia mendapat rezeki nomplok saat dolar AS melonjak cukup tinggi, setelah krisis ekonomi 1997 lalu.

Sejumlah orang yang memiliki dolar AS dalam jumlah lebih, baik sengaja atau tidak sengaja, langsung dibuat keblinger. Bagaimana tidak? Hanya dalam kurun beberapa bulan, dolar AS yang awalnya senilai Rp 2.500 melonjak hingga Rp 10.000. Bayangkan, keuntungan yang berlipat ganda yang diterima pemiliknya. Bukan tidak mungkin, nilai apresiasi dinar akan terus meningkat pula.

Meski demikian, siapa saja harus melihat bahwa ada risiko dalam setiap kegiatan bisnis. Tetapi kata pebisnis, semakin besar risiko, maka semakin besar pula peluang keuntungan yang bakal diraih.

Silakan pilih, mau ikut, coba-coba, atau tidak sama sekali. Namun dengan alasan yang cukup kuat, pasti banyak orang yang bakal tergiur dengan makin meningkatnya apresiasi mata uang asing itu. (Surya Yuli P-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA