logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Nopember 2007 BUDAYA
Line

Membaca Kalatida, Membaca Zaman

COBALAH relasikan Serat Kalatidha-nya Ranggo Warsito dengan kondisi kekinian zaman. Mungkin saja, hasilnya akan sepaham dengan apa yang hendak disampaikan dalam karya tari ini.

Di Teater Kecil Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Senin (19/11) lalu, digelar sebuah karya tari bertajuk "Kalabendu". Pentas melibatkan sepuluh pemain, empat pemusik, dengan sutradara Wahyudiarto serta penata tari Eko "Pebo" Supendi dan Yuli Komang.

Membaca judul semacam itu, apa yang mungkin terbayang di angan? Zaman edan? Oh tentu, karena di sanalah memang titik sentralnya. Baik dalam seratan sang pujangga besar tersebut ataupun dari estetika gerak dalam balutan iringan yang terasa kontemporer itu.

Konstruksi olah tubuh yang terasa tak beraturan, ditambah dengan bebunyian musik yang begitu menyayat hati, merupakan hal-hal yang sangat mungkin menciptakan daya ungkap tentang edannya sebuah zaman.

Lalu lihatlah pula ketika para penari saling berebut potongan-potongan boneka di akhir sajian. Di sana, simpulan dari kalatidha itu semakin terlihat begitu dekat. "Degradasi moral yang menjadikan zaman menjadi edan, hingga orang memakan orang pun bahkan sekarang sudah terjadi," kata Eko "Pebo" Supendi.

Pengingat

Ketika menikmati sajian karya tari yang berdurasi sekitar 1 jam tersebut, penonton seperti diajak untuk membaca kalatidha. Dalam artian yang lebih luas lagi, yang tentu juga diharapkan oleh pengkarya juga sekaligus bisa membaca zaman. Di sinilah relasi itu kemudian coba disimpulkan.

"Kami hanya ingin mencoba menerjemahkan kalatidha itu melalui estetika tari. Kalau kemudian ini menjadi semacam pengingat, itu tentu akan lebih bagus karena karya ini akan menjadi bermakna," ujarnya.

Namun seperti pepeling yang berbunyi: "Sak bejo-bejaning wong lali isih beja wong eling lan waspada", kontektualitas bukan hanya satu-satunya daya tarik dari "Kalabendu". Sebab, mereka yang terlibat di dalamnya juga tidak lupa, di luar tema masih ada "hukum" karya seni yang lain, yakni harus bisa memberikan pengalaman estetis kepada penontonnya.

Pada titik ini, pilihan gerak yang tak beraturan tentu saja akan menjadi terasa manis. Sementara musik yang memiriskan hati, juga tetap saja terasa enak di telinga. Itu memang sebuah keharusan, apalagi karya tersebut akan diikutkan dalam festival seni antarperguruan tinggi di Bali pada pekan ini. Ya, zaman edan itu memang jadi terasa manis. (Wisnu Kisawa-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA