logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Nopember 2007 BANYUMAS
Line

BP Tolak Cabut Surat Pernyataan Koalisi

PURWOKERTO-Akibat tidak bersedia mencabut surat pernyataan yang sudah ditandatangani dengan tiga partai koalisi, calon bupati Bambang Priyono (BP) yang awalnya menjadi kandidat terkuat di PDI-P, tidak direkomendasikan oleh DPP.

Demikian salah satu butir kronologi hasil akhir proses turunnya rekomendasi DPP yang dilansir oleh DPC ke jajaran kader, simpatisan pengurus kecamatan, ranting, pengurus DPC dan berbagai pihak mulai kemarin.

Kronologi tersebut dikeluarkan untuk memberikan penjelasan tentang kondisi yang sebenarnya kenapa DPP yang semula sudah sepakat mau mengusung calon bupati BP akhirnya memutuskan nama Aris Wahyudi.

''Kalau saat ditelepon Ibu Mengawati (16/11) sekitar pukul 18.00 yang didengarkan oleh 29 peserta rapat pleno, BP bersedia mencabut surat pernyataan diusung tiga partai koalisi dan siap dicalonkan lewat PDI-P, rekomendasi pasti jatuh ke dia,'' kata Ketua DPC Suherman, kemarin dalam klarifikasi menanggapi pernyataan BP (SM 21/11-Red).

Dalam kronologi tersebut juga dilampirkan foto copy bukti surat pernyataan/kontrak politik yang dibuat oleh BP dengan tiga partai koalisi, dimana BP tetap menginginkan calon wakil bupati yang mendampingi adalah Tossy Ariyanto, apapun hasil rekomendasi DPP PDI-P. Surat pernyataan tersebut tertanggal 9 November 2007 dan ditandatangani oleh BP dengan disaksikan tiga pimpinan partai tersebut.

''Surat pernyataan tersebut membuat kami (DPC) tidak bisa menjawab apa-apa dihadapan Ibu Megawati. BP sendiri juga tidak pernah cerita kalau membuat surat seperti itu. Namun kenapa surat pernyataan tersebut bisa sampai ke tangan Ibu Mega. Saat rapat juga ditunjukan ke peserta dan para pendukung BP di DPP juga kaget,'' aku Herman menceritakan pengalamannya di DPP.

Kronologi

Dalam kronologi itu juga diungkapkan, saat rapat pleno Jumat (16/ 11), dua nama pasangan calon bupati menguat. Yakni BP-Asroru dan BP-Shinta Laila. Setelah diminta pertimbangan ke DPD dan DPC siapa calon bupati yang kuat, keduanya menyebut BP. Untuk calon wakil bupati DPD condong ke Shinta, sedangkan DPC ke Asroru.

Untuk menyakinkan itu, Megawati lewat telepon ketua DPC dihubungkan dengan BP. Saat di telepon Megawati, BP menjawab benar kalau dirinya memang membuat surat pernyataan tertanggal 9 November. Namun saat ditanya kesediaannya untuk mencabut surat pernyataan itu dan bersedia dicalonkan lewat PDI-P, BP tidak menjawab dan hanya diam. Pertayaan itu diulang sampai dua kali.

Kata Suherman, ketua Umum seolah tak dihormati sehingga memerintahkan Tjahyo Kumolo dan Pramono Anung untuk menghubungi Acong untuk menanyakan kesediaannya kalau dicalonkan bersama Aris. Saat kali pertama ditanya calon bupati yang dinginkan adalah BP.

Karena belum ada titik temu rapat berjalan sampai pukul 19.00, sehingga rapat membuat catatan/ resume calon yang akan direkomendasikan adalah AW-Shinta. Berita itu langsung menyebar sampai ke Banyumas sehingga sempat membuat geger kader-kader dan pengurus PDI-P yang sejak awal menginginkan BP-Acong.

''Saya menghargai sikapnya. Itu pilihan dan ini resiko politik. Saya secara pribadi bisa legawa meskipun komponen PDI-P sudah lama mensosialisasikan BP sebagai kader yang akan dicalonkan.'' (G22,in-55)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA