| Rabu, 21 Nopember 2007 | SALA |
Mengintip Jambore Antarumat Beragama (3-Habis)''Kita Harus Berani Mengalah...''
MENYELAMI jiwa para pemuda peserta Jambore Kerukunan Antarumat Beragama di Stadion Manahan, Solo ini, saya banyak menemukan ucapan-ucapan sarat makna. Mendapati kalimat-kalimat penuh hikmah. Menyaksikan adegan-adegan kaya muatan kerukunan beragama. Hal-hal yang biasanya diucapkan orang-orang yang telah berumur dan dihormati, terucap dari mulut remaja yang umumnya dikenal masih labil dalam berfikir dan berperilaku. Salah satu peserta muslim misalnya, berucap, ''Manusia itu menjadi musuh terhadap apa yang tak diketahuinya''. Coba renungkan! Banyak pelajaran dapat dipetik dari sebuah ucapan itu. Kalimat itu mirip-mirip dengan kata bijak, ''Tak kenal, maka tak sayang''. Karena kurangnya informasi terhadap seseorang, kita lalu menjadi tak bersimpati. Bahkan tak jarang, justru malah memusuhi. Purwanto, mahasiswa Sekolah Tinggi Hindu Dharma di Klaten yang mengaku telah dua kali mengikuti jambore berkata, ''Dalam hubungan antarumat beragama, kita harus saling toleran. Harus berani mengalah. Mengalah, bukan berarti kalah,'' katanya dengan mimik serius. Mahasiswa semester tujuh ini mengaku, dengan mengikuti jambore, juga bisa menambah teman. Namun yang paling diutamakan dia, adalah ceramah-ceramah yang disampaikan narasumber dari para tokoh keenam agama. Perlu Bekal Melalui ceramah dan diskusi, pengetahuan tentang berbagai agama akan terus bertambah. Mengapa jambore ini pesertanya terbatas pada generasi muda? ''Sebab remaja masih labil, sehingga perlu dibekali (pengetahuan soal kerukunan antarumat beragama-red),'' kata Ida Bagus Komang dari Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Jambore ini adalah kali ke lima, karena sudah digelar sejak 2002. Jambore tahun ini merekomendasikan, pelaksanaan ke depan, seluruh sarana dan prasana ditanggung penuh oleh pemerintah. Selama ini, sebagian sarana dan prasarana memang ditanggung peserta. Barangkali yang amat penting dari rekomendasi itu adalah, harapan agar jambore dapat disosialisakan kepada masyarakat lebih luas. Apa yang diperoleh dalam kegiatan itu, diharapkan dapat direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Ini akan meminimalisasi gesekan-gesekan. Menurut Kepala Dinas Kesra, Pemberdayaan Prempuan dan KB, Drs Widdi Srihanto MM, di tempat lain seluruh Indonesia, jambore seperti ini belum ada. Jika itu benar, program ini pasti akan sangat besar manfaatnya jika diselenggarakan di seluruh Indonesia. Daerah-daerah rawan koflik SARA, tepat kalau memperoleh prioritas. (50) |