logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Nopember 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Disebut Pemimpin bila Sudah Korupsi

Prof Amien Rais di Yogya pernah menyatakan, Indonesia kini mengalami krisis multidimensi yaitu di segala bidang kehidupan khususnya menyangkut tatanan pemerintahan untuk mengatur kehidupan masyarakat yang adil dan makmur seperti amanat UUD'45. Dengan kata lain 3 tahun pemerintahan SBY-Kalla belum mencapai apa yang dijanjikan yaitu mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Tapi beliau juga mengatakan tidak perlu mencari siapa yang salah. Artinya sebagai bekas ketua MPR juga legawa dengan keadaan krisis multidimensi, walau jutaan rakyat tersiksa oleh kemiskinan. Itu memang bagian dari orasi para politikus. Ya para pemimpin sudah hidup mewah, jauh berbeda dengan pikiran rakyat yang cerdas dan realistis walau tidak berpendidikan.

Tanpa bermaksud membela, tukang becak yang buta politik dan buta huruf berkata bahwa lebih enak zaman Soeharto karena mbecak dari pagi sampai sore cukup buat makan. Sekarang kerja sampai jauh malam, tidak cukup buat makan sebab harga pangan sudah lima kali lipat dari zaman Soeharto.

Memang benar memberi kemakmuran untuk rakyat tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi Kang Sastro pemilik tambal ban di pinggir jalan ngoceh. Dulu jarang pegawai di kabupaten yang punya mobil tapi sekarang hampir tiap kepala dinas punya mobil pribadi. Apa gajinya sudah puluhan juta seperti anggota DPR?

Dulu tidak pernah ada korupsi berjamaah, tapi sekarang menjadi ciri khas "baru disebut pemimpin" kalau sudah korupsi. Mengapa tidak mau belajar dari negeri China yang menghukum mati 4.000 pejabat koruptor selama 20 tahun terakhir? Korupsi dalam bentuk apa pun merupakan penghancur perekonomian rakyat.

Indonesia hanya bisa dibangun dan makmur kalau seluruh pejabat berpikir cerdas dan realistis, sebab rakyatnya sudah lebih dulu punya pikiran seperti itu hingga tidak perlu lewat pendidikan tinggi dengan gelar yang hebat. Jangan jual gelar untuk membela yang tidak benar.

Sudarjo

Jl S Parman 61, Purwokerto

Sistem Pembauran

Pada Etnis Tionghoa

Selama di SR (Sekolah Rakyat) Santo Jusuf Bandung tahun 1947-1952, saya bergaul dengan teman sekelas dari keturunan Tionghoa dan berlanjut ketika menjadi siswa SMA Pembangunan di Dago tahun 1956-1959. Pergaulan yang lama antaretnis ini menjadikan mereka tidak merasa terhina atau terlecehkan bila disebut keturunan Tionghoa atau Cina (tanpa huruf 'h').

Bahkan puluhan tahun dalam perjalanan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, sebutan ini hilang dengan sendirinya. Salah satu alasan mendasar, mereka telah berganti nama Indonesia dan berbahasa daerah di NKRI. Nama putra-putri mereka pun cenderung tidak berbau Tionghoa lagi. Tidak sedikit yang beragama Islam bahkan ada yang berpredikat ulama/ustad. Juga tak terkecuali yang beragama Nasrani.

Ke depan, peningkatan pembangunan sistem pembauran oleh pihak terkait pasti lebih menjanjikan dan tak terecoki oleh sistem politik negeri leluhur. Pada dasarnya, pembangunan sistem pembauran ini tak memerlukan dukungan program tertentu misal siaran berita dan lomba lagu berbahasa Mandarin seperti yang terprogram dan tertayangkan TV tertentu.

Sebab sedikit banyak program itu dapat menjadi penghambat pembangunan sistem pembauran. Tampaknya banyak kalangan tak menduga bahwa langsung atau tidak, pembangunan sistem pembauran telah memasuki wilayah 'rumah tangga" WNI asli yang beraspek spiritual "jodoh di tangan Tuhan".

Banyak keluarga besar NKRI cenderung memiliki "kakak misan, adik misan, bapak/ibu, menantu, cucu, besan yang WNI keturunan. Pembauran model ini tentunya tak perlu terpolusi oleh hal yang kontraproduktif seperti program TV tersebut.

Sungkowo Sokawera (081321852656)

Jl Rancamanyar I /17, Bandung

***

Alfalfa Sembuhkan

Penyakit Diabetes

Membaca artikel di harian ini beberapa waktu lalu berjudul "Alfalfa Sembuhkan Bermacam Penyakit" yang ditulis Dr Ir Dwi Retno Lukiwati MS dosen Fakultas Peternakan Undip, saya jadi teringat tetangga yang telah mengonsumsi ekstrak alfalfa. Dia guru di Kecamatan Sigaluh Banjarnegara, menderita diabetes atau biasa disebut penyakit gula.

Beliau mengalami luka pembusukan di kakinya meski sudah mencoba melakukan pengobatan baik medis maupun nonmedis. Kemudian beliau mencoba mengonsumsi ekstrak alfalfa dan mengoleskannya ke kaki yang luka. Hasilnya, dalam waktu kurang dua bulan, luka di kakinya mengering dan sembuh. Padahal seperti diketahui, luka diabetes sangat sulit kering dan sembuh.

Juga ketika mertua saya kecelakaan dan luka di wajah, oleh teman disarankan minum ekstrak tersebut serta mengoleskan di sekitar luka. Tidak sampai satu minggu lukanya mengering. Pembaca yang membutuhkan informasi, saya punya referensinya dan bisa hubungi di SDN Gunung Tawang, Kecamatan Selomerto, Wonosobo.

J Christy Nathalia (081931738171)

***

Jangan Mudah Tertipu

Keterpuruknya ekonomi bangsa ini makin menambah beban penderitaan rakyat bawah. Namun seharusnya rakyat tidak perlu mencari dana gaib, uang gaib, bank gaib dan dana hibah lainnya yang memerlukan mahar sampai puluhan juta rupiah. Hal itu semua bohong, rekayasa bahkan penipuan. Saya memberi beberapa sarana bersifat gaib sbb:

- Religius. Lakukan shalat malam dengan dzikir ayat kerezekian, hizib 1.000 malaikat, hizib maqulad AS samaawaat wal ard, hizib al Ghozali serta asmaul husna dengan keyakinan tinggi, percaya diri dan sabar.

- Metafisika, dengan mengaktifkan daya batin yang sering disebut daya karomah, sedulur sejati, khodam malaikat. Daya ini bisa membuat keberuntungan, rezeki, pelarisan, kewibawaan dan kesuksesan.

- Supranatural, dengan mendatangkan jin Islam untuk membantu menuntaskan permasalahan. Tata cara mendatangkan jin yang aman tanpa tumbal dan bisa dilakukan sendiri di rumah. Syaratnya siap mental spiritual, yakin, istikomah dan sabar. Karenanya jangan mudah tertipu dan diperbodoh oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Wid Anom (085225617689)

Tulakan RT 6/RW I Keling, Jepara

***

RRI ku Sayang

Setahun telah berlalu sejak saya menjadi anggota Paguyuban Pendengar RRI Semarang/Paperris. Di saat bisa nimbrung telepon interaktif, hati saya merasa bangga berbunga-bunga serta terharu menerima salam dari sesama rekan se-Nusantara. Di samping itu saya juga sedih karena pancaran RRI sering tidak termonitor di Banyumas dan Pantura.

Masukan selanjutnya, kurang lengkapnya pustaka musik campursari, pop, dangdut, keroncong mancanegara serta Jawa/klenengan terutama pada lagu-lagu baru yang meledak di pasaran. Saya bosan dengan lagu-lagu Ali-ali, Eling-eling Banyumasan, Lungiting Asmara, Kutut Manggung serta Jambu Alas yang hampir setiap hari diputar.

Sambil menunggu perbaikan, saya masih tetap setia mengikuti program RRI yang banyak memberi informasi dan menghibur pendengarnya. Bagaimana pun saya masih sayang kepada RRI yang dalam sejarahnya berkait erat dengan perjuangan Kemerdekaan 1945. Sekali diudara tetap di udara, teriring acungan jempol kepada Mbak Rini, Mbak Eni dan Mas Ardhi, pengasuh siaran hiburan yang simpati dan favorit.

Adhianto

Jl Mahesa Mukti A36, Semarang

***

Saatnya RT/RW Diatur

Kehidupan RT/RW perlu segera diatur baik aturan main tentang kedudukan ketuanya maupun jumlah maksimal anggota serta masa jabatannya. Susunan geografis wilayahnya juga diatur karena sering tidak sesuai dengan perkembangan. Contoh dua rumah berhadapan tapi RT bahkan RW-nya berbeda sehingga berbenturan ketika mengadakan kegiatan.

Masa jabatan mereka juga perlu pengawasan lurah sehingga tidak terjadi ketua menjabat terus meski secara organisatoris sudah impoten. Masyarakat perlu diberi pengertian bahwa kedudukan RT sangat strategis baik dari sisi sosial, ekonomis maupun yuridis. Dengan demikian mungkin tidak terjadi warga melecehkannya.

Bappeda perlu memikirkan instrumen yang mengatur posisi ketua, kalau perlu dipikirkan subsidinya.

sehingga mereka tidak harus seorang bos yang banyak uang. Ada anggapan di masyarakat bahwa yang pantas jadi ketua RT/RW harus seorang bos. Hal itu tidak betul dan karenanya perlu diatur sehingga terwujud satu tatanan masyarakat yang ayem tentrem.

Parmanto SH MHum

Jl Meranti Raya 301, Semarang

***

Sayang Anak

Wartawan sering mencatat atau memotret pemandangan aneh ketika berlangsung lomba melukis atau mewarnai yang diikuti ratusan anak. Pada sudut area tertentu akan mudah ditemui bahwa yang mengerjakan karya lomba itu justru para orang tua atau mereka memaksakan ide untuk lukisan anaknya.

Inilah perwujudan rasa sayang atau cinta orang tua kepada anak dengan cara yang keblinger, keliru dan justru menggoreskan trauma bagi perkembangan masa depan anak mereka. Motivasi orang tua tidak lain agar "karya" anaknya memenangi lomba lalu memperoleh hadiah.

Sebagai bekas mentor/guru melukis anak, saya meyakini aktivitas melukis bagi anak selain meningkatkan bakat artistik juga tidak kalah pentingnya yaitu menumbuhkan rasa percaya diri (selfconfidence). Melalui melukis anak didorong tidak takut memilih warna, bentuk, perspektif, sampai pengembangan ide yang paling orisinal. Anak belajar mengolah dan menghargai orisinalitas.

Dalam pengalaman saya, anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi akan membincangkan atau "menghukum" anak lain yang karyanya dianggap menjiplak. Seperti lukisan wajib siswa SD yaitu dua gunung, matahari, jalan dan bentang sawah, akan hanya menjadi bahan olok-olokan belaka.

Lomba melukis dan apalagi mewarnai, senyatanya hanya memiliki nilai edukatif yang diragukan, baik bagi pengembangan artistik maupun kepribadian anak di masa paling sensitif dalam pertumbuhannya.

Anak-anak mungil dan manis itu senyatanya semata dijadikan obyek pemaparan (exposure) sampai pemasaran sesuatu produk dan jasa. Demi hadiah uang, para orang tua justru tega merampok benih rasa percaya diri anak.

Bambang Haryanto (0813Z9306300)

Jl Kajen Timur 72, Wonogiri

***

Celathu Butet

Butet menurut sahibul hikayat adalah nama perempuan Batak. Sedang nama Butet Kertarejasa adalah pemberian Pak Bagong, ayahnya, ketika si istri mengandung dan berjanji kelak anaknya lahir perempuan atau lelaki akan diberi nama Butet. Lahirlah anak laki-laki yang menyandang nama perempuan yaitu Butet sekarang.

Seandainya Pak Harto tidak sering mengucapkan mangkin dan daripada, mungkin si Butet tidak akan dikenal sebagai raja monolog. Tapi untunglah, lelaki bintang iklan kendaraan bermotor ini mendapat rezeki dari "penderitaan" orang lain. Aktingnya dalam pementasan Matinya Toekang Kritik tak mendapat sambutan dari yang kena kritik.

Perannya di Petualangan Sherina adalah pembuka jalan menuju ke layar kaca. Dapatlah disebut sebagai Si Butet Yogya dalam News Dot Com di TV swasta. Tulisan Celathu Butet di harian ini adalah pergulatan batin atas ketimpangan yang terjadi selama ini. Ungkapan humor satire sering diangkat dalam tema.

Dapat dibayangkan ketika menulis, seolah lelaki ini sedang bermonolog. Maka lahirlah atmosfer kelucuan yang ditimbulkannya. Ungkapan "Apalah artinya sebuah kritik", seyogianya tak menjadikan kendor dalam berkarya. Ingat, batu jika kena tetes air terus-menerus akan berlubang.

Agus Eko Santoso SE

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak

***

Sepak Bola Mandiri

Plus minus simbiosa olahraga dengan politik dari dulu selalu melahirkan cerita bersambung. Dulu ada lomba lari spektakuler internasional 10 Km dengan menghadirkan para pelari top dunia berhadiah tak tanggung-tanggung Rp 1 miliar. Saat itu Indonesia benar-benar menjadi fokus dunia, atas prakarsa ketua PASI, konglomerat Bob Hasan.

Tapi seiring dengan dipenjarakannya raja kayu nasional kroni Cendana tersebut karena korupsi, maka lomba lari internasional 10 Km kembali vakum. Sekarang kita punya ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang juga ditengarai korupsi pengadaan beras. Sampai AFC pun ikut gerah atas status hukum anggotanya tersebut.

Apalagi sepak bola merupakan olahraga paling populer yang melibatkan komunitas massa. Itulah mungkin sebabnya jabatan ketua umum klub sepak bola banyak diisi pejabat atau pengusaha top sehingga namanya makin populer. Di sisi lain persoalan anggaran, tidak sedikit pun bisa teratasi.

Repotnya bila langkah ketua umum yang notabene pejabat pemerintah, lagi tidak klop dengan seterunya maka persoalan dana akan muncul kembali. Hal itu karena dana sepak bola tergantung kebijakan wakil rakyat karena memang melalui APBD, tak peduli meski kompetisi masih separuh jalan dan kas sudah kosong.

Ini merupakan proses pembelajaran yang berharga buat pengurus PSIS khususnya menyangkut dana untuk menuju PSIS yang mandiri dan profesional. Yang jelas masyarakat Semarang tidak rela seandainya tim raksasa PSIS harus balik kanan bubar jalan.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

''Kula Paringi''

Mungkin kita sering mendengar kalimat itu yang diucapkan anak kecil, remaja bahkan kadang orang dewasa dalam percakapan sehari-hari. Sepengetahuan saya kalimat itu salah menurut kaidah bahasa Jawa. Yang dimaksud adalah saya memberi(kan), seharusnya kalimat yang digunakan kula caosi, kula aturi atau kula sukani. Namun kalimat salah itu masih tetap saja banyak digunakan.

Ternyata kebiasaan salah jika sudah mengakar seolah dianggap sebagai kebenaran. Mengapa demikian? Keyakinan saya mengatakan, mereka yang melakukan kebohongan, kesewenangan, korupsi pun berdalih hanya menjalankan perintah, menegakkan keadilan, sudah sesuai UU dan berbagai alasan lain.

Karena ucapan tersebut berlangsung terus dan sudah mengakar pada jiwa orang, maka mereka menganggap hal itu sebagai kebenaran. Kalau orang menyadari bahwa kebohongan, kesewenangan dan korupsi adalah tindakan salah dan merugikan orang lain, mestinya hal itu tidak dilakukan. Tapi kenyataan masih saja terjadi. Artinya mereka yang melakukan tidak ubahnya pengikut aliran sesat. Kurangi keinginan maka akan terasa ringan kefakiran. Dunia adalah ujian bukan tempat kebahagiaan.

Sobirin

Tosari RT 3/RW 1 Brangsong, Kendal

***

Menhan Terlalu Tua

Menhan Bapak Juwono Sudarsono rasanya terlalu tua sehingga tidak bisa menjalankan tugas secara maksimal. Contoh beberapa pulau kita hilang "ditelan" Malaysia yaitu Ambalat dan Sipadan. Yang lain, manuver beberapa pesawat dan kapal tetangga masuk wilayah kita tanpa bisa dicegah.

Juga perundingan dengan Singapura banyak merugikan kita dan yang terakhir kasus percaloan Alutsisa oleh sementara oknum DPR. Untuk itu, Aspri dan penasihatnya harus berperan mendampingi beliau dalam semua perundingan termasuk percaloan oleh sementara anggota Dewan perlu dituntaskan. Sebab percaloan itu merugikan negara.

Negara terpuruk karena banyak elite politik hobinya percaloan dan menguras harta negara dengan menghalalkan segala cara. Dari pihak DPR sendiri, terutama para pimpinan dan Badan Kehormatan (BK) harus proaktif menelusuri, meneliti dan memberi sanksi kepada anggota yang nakal. Jangan berkesan malah melindungi. Rakyat sudah muak mendengar berita miring dari sementara anggota DPR maupun para eksekutif.

H Erlangga Chandra (EI)

Bantulan RT 1/RW 1, Banyudono


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA