logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Nopember 2007 WACANA
Line

Membudayakan Membaca

  • Oleh Surachman Nugroho

UPAYA untuk memperoleh pengetahuan, selain bisa didapatkan melalui membaca, dapat juga dengan jalan menyimak (mendengar atau menonton televisi). Akan tetapi banyak ahli menyatakan, kegiatan membaca memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan kegiatan lain dalam proses pencarian pengetahuan.

Salah satu faktornya adalah, melalui membaca, seseorang telah melibatkan banyak aspek; meliputi berpikir (to think), merasakan (to feel), dan bertindak melaksanakan hal-hal yang baik dan bermanfaat sebagaimana yang dianjurkan oleh bahan bacaan (to act).

Apa makna sejati dari membaca? Membaca adalah cara yang paling efektif untuk menjawab segala rasa ingin tahu. Dalam lingkungan hidup yang berkembang secara tidak terbatas seperti saat ini, tidak mungkin kita bisa mencari tahu sendiri segala sesuatu.

Karena itu, alangkah bijaksananya kalau dalam hal tersebut kita mau mendengar pengalaman orang lain yang lebih senior, lebih ahli, atau para pendahulu yang telah bersusah payah melalui proses trial and error untuk sampai kepada pengetahuan yang benar tentang lingkungan yang senantiasa berkembang ini, mulai dari lingkungan fisik sampai lingkungan nonfisik.

Adapun cara mendengar pengalaman orang lain itu beragam bentuknya. Kalau orangnya masih hidup, kita bisa secara langsung mendengar penuturan pengalamannya. Tapi kalau orang itu sudah meninggal atau tidak bisa dijangkau secara langsung, cara yang efektif tentunya adalah dengan membaca tulisan-tulisan yang memuat pengalaman-pengalamannya yang kaya dan ditulis dengan seksama, disertai bukti-bukti dan metode yang tepat.

Karena itu, jelas sekali bahwa membaca karya-karya orang lain -terutama para ahli di bidangnya- merupakan cara yang paling efektif dan efisien untuk melunaskan rasa ingin tahu. Maka, membaca haruslah dipandang sebagai anugerah, sebagai blessing luar biasa.

Mengapa? Karena membaca akan dapat secara signifikan meringankan beban kewajiban kita untuk menuntut ilmu. Dengan demikian dapat memfasilitasi tugas-tugas yang berat dan meningkatkan kesejahteraan hidup kita.

Televisi Digemari

Meskipun kegiatan membaca memiliki manfaat yang luar biasa, namun tetap saja kegiatan membaca belum menjadi budaya di negara kita. Sebaliknya, kegiatan menonton televisi justru lebih digemari oleh sebagian besar masyarakat. Fenomena sosial tersebut adalah semacam lompatan budaya dalam masyarakat. Kita telah diserbu budaya media, padahal budaya baca belum tercipta dengan kuat.

Itulah, yang menyebabkan mengapa kegiatan membaca tidak menjadi aktivitas yang populis di masyarakat sampai hari ini. Di masyarakat Barat, munculnya budaya menonton televisi setelah didahului dengan terciptanya budaya baca yang kuat. Walaupun masyarakat Barat juga banyak menonton televisi, mereka tetap mampu mempertahankan budaya bacanya secara kuat. Berbalikan sekali dengan apa yang terjadi di masyarakat kita.

Gambaran nyata dari lemahnya budaya baca dalam masyarakat kita, tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2003. Penduduk berusia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya berjumlah 55,11 %, sedangkan yang membaca tabloid atau majalah sebesar 29, 22 %. Penduduk yang membaca buku fiksi 44, 28 %, dan yang membaca buku pengetahuan 21, 07 %.

Apabila melakukan pembandingan dengan kondisi sepuluh tahun sebelumnya (1993), maka akan kita dapati kenaikan tingkat membaca buku hanya sebesar 0,2 %; padahal kenaikan tingkat menonton televisi mampu mencapai 21,1 %.

Keadaan tersebut semakin diperparah, menurut laporan UNESCO, bahwa di atas 10 % warga kita masih menderita buta huruf, jauh di atas negara-negara tetangga di Asia Tenggara, kecuali kawasan Indocina. Lebih dua kali lipat dari pria, perempuan Indonesia buta huruf.

Data BPS 2006 juga menunjukkan bahwa masyarakat yang mendapatkan informasi lewat cara membaca baru mencapai 23, 5 %. Kondisi itu lagi-lagi kontras dengan perolehan informasi dari televisi yang mencapai 85,9 %.

Tampak nyata bahwa televisi begitu digemari. Padahal menurut Dharma Singh Khalsa, dalam Brain Longevity, televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan terutama sekali merusak kecerdasan spasial dan otak sebelah kanan. Bahaya paling besar dari televisi ialah mengalihkan perhatian orang dari membaca buku.

Membaca Konteks

Kita jadi bertanya-tanya, mengapa masyarakat kita tidak tertarik mengoptimalkan peran penting membaca dalam kehidupan ini. Apakah membaca merupakan kegiatan yang begitu mewah dan susah untuk dilakukan? Jawabannya tidak, karena membaca adalah kegiatan yang secara potensial telah tertanam di dalam diri setiap orang semenjak lahir. Misalnya, saat melihat awan hitam menggantung tebal di langit, kita menyimpulkan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Pada saat itu, sebenarnya kita juga tengah melakukan aktivitas membaca, yaitu membaca tanda-tanda alam, membaca konteks keadaan dan kejadian.

Lalu mengapa kebiasaan membaca konteks tersebut tidak bisa kita bawa menjadi kebiasaan membaca teks? Padahal, aktivitas membaca teks juga terus berjalin berkelindan dengan kehidupan kita. Selama menempuh pendidikan, mulai jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, aktivitas membaca tidak mungkin bisa dihindarkan. Setiap orang, dengan demikian, sebenarnya memiliki potensi kuat untuk menjadi orang yang rajin membaca buku.

Glenn Doman mengatakan, belajar membaca itu sama mudahnya dengan belajar berbicara. Malah sebenarnya lebih mudah lagi. Itu lantaran kemampuan melihat telah terbentuk sebelum kemampuan berbicara.

Sayangnya, potensi membaca yang sedemikian kuat melekat pada diri setiap individu itu belum bisa berkembang dengan optimal di masyarakat kita. Kesadaran untuk membaca belum tercipta dengan kuat; bahkan seorang sastrawan kita pernah mengeluhkan rendahnya minat membaca di kalangan mahasiswa, yang hanya berkisar 0,002 persen saja.

Mahasiswa kita lebih memilih untuk membeli pulsa daripada membeli buku. Dengan demikian, tampaknya sistem pendidikan kita belum mampu menciptakan budaya membaca yang memadai.

Di sepanjang hampir seluruh jenjang pendidikan, kita diajari membaca terutama untuk mencari informasi, bukan untuk memahami bahwa membaca berpengaruh positif terhadap kreativitas.

Kita tidak pernah diajari tentang keampuhan manfaat membaca. Akibatnya, membaca menjadi kegiatan yang kurang menarik sebagian besar dari kita. Hal yang tidak pernah diajarkan oleh guru-guru kita di sepanjang jenjang pendidikan adalah, bahwa memang benar buku (teks) memiliki hak atas makna.

Tetapi kita, para pembaca, juga mempunyai hak yang sama untuk mencipta makna. Membaca memungkinkan terbentuknya persimpangan makna antara dunia pembaca dan dunia teks. Deaaaangan demikian puncak pemehaman atas sebuah teks dapat tercapai manakala pembaca mampu memahami dirinya terlebih dulu dengan lebih baik. Maka, kini kita tahu betapa besar manfaat dari kegiatan membaca.

Siapkah kita semua, apa pun profesi kita dan siapa pun adanya kita, untuk mempelopori terciptanya budaya baca dalam masyarakat. Seperti John Wood, eksekutif Microsoft yang memilih keluar dari pekerjaannya demi memelopori terciptanya budaya baca dan memberantas buta huruf.

la mendirikan tak kurang dari 3.600 perpustakaan di Asia; menggagas room to read bagi anak-anak penyandang buta aksara, anak-anak miskin dan putus sekolah. Ia begitu tersentuh hatinya tatkala bertemu dengan anak-anak buta aksara di kaki Gunung Himalaya. Beda dari kita, John Wood sadar bahwa buku bukan hanya jendela dunia, tapi di dalam buku sejatinya ada hidup dan kehidupan itu sendiri.

Kiprah John Wood menampar kita, para kaum terpelajar (weel educated) negeri ini yang masih malas untuk membaca buku. Selamat memaknai Hari Aksara Internasional, 20 November 2007 kemarin.(68)

- Surachman Nugroho, juara Lomba Raja dan Ratu Buku tingkat mahasiswa Se-Jateng 2005. sedang menulis skripsi tentang Perilaku Konsumen Buku Masyarakat Semarang pada Jurusan Administrasi Bisnis FISIP Undip.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA