logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Nopember 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Pemimpin, Mendekatlah Terus kepada Rakyat

Mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri melakukan safari politik ke beberapa daerah di Jawa Tengah. Seperti juga pernah dilakukan sebelumnya, ia melakukan jumpa "fans" untuk menyerap lebih banyak aspirasi, sambil menyentil sana-sini. Seperti biasa juga, ia tak terlalu banyak bicara, bahkan sebaliknya lebih banyak mendengar. Megawati mendengar keluhan nelayan tentang harga solar yang mahal, tentang harga bawang merah yang cenderungan rendah, dan sebagainya. Sebagai mantan presiden, tentu dia punya catatan tersendiri tentang kondisi perekonomian nasional yang boleh saja diperbanding-bandingkan bagaimana dulu dengan sekarang.

Siapa pun berhak untuk menyampaikan hal itu. Apakah itu Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, maupun Megawati. Bukankah mantan Presiden Habibie juga dengan bangga menceriterakan kesuksesannya mengendalikan mata uang rupiah di saat krisis ekonomi terjadi. Gus Dur dengan bangga menceriterakan kisah suksesnya mendorong partisipasi sipil dan demokrasi. Lalu, sekarang kita mendengar Megawati menyebut dirinya lebih baik dalam mengelola ekonomi dibandingkan dengan pemimpin sekarang. Nah, kita telah mendengar semua apa yang pernah dilakukan oleh semua pemimpin bangsa itu. Dan, sekarang kita tengah merasakan juga bagaimana nuansa kepemimpinan sekarang.

Jika Megawati mengkritik pemerintahan sekarang tentu sangat sah, dan sangat diperkenankan dalam konteks politik. Pengambilan posisi PDI-P sebagai partai oposisi memang mengharuskan peran kritis seperti itu secara terus menerus. Kritik, koreksi, bahkan tekanan dari partai oposisi justru mendinamiskan kehidupan bernegara agar siapa pun yang berkuasa senantiasa hati-hati jangan sampai terjerembab dalam penyalahgunaan wewenang. Kritik dan koreksi dari oposisi seperti itu seharusnya malah bisa dijadikan sebagai bukan sekadar masukan, tetapi justru koreksi agar jika terjadi ketidakberesan segera bisa dilakukan koreksi atas kebijakan yang sedang berlangsung.

Tidak ada larangan untuk melakukan kiritik atau pun koreksi dengan tunjuk hidung. Rakyat sudah terlalu pintar untuk bisa membedakan mana kritik yang asal bunyi, atau pun kritik yang benar. Termasuk juga mampu membedakan mana yang kritik sungguhan dan mana yang bernuansa "seolah-olah" sebagai bagian dari negosiasi meminta jatah. Karena ternyata sudah cukup banyak bukti bahwa beberapa anggota parlemen yang kelihatannya galak, ternyata hanya sebatas bagian dari negosiasi meminta jatah saja. Semua yang terjadi itu, rakyat mencatat dengan seksama dan manakala sudah sangat membuncah maka ketidakpedulianlah yang segera menghampiri.

Kini Megawati datang mendengar rakyat berkeluh kesah. Kita tentu sangat berharap bahwa kunjungan ini benar-benar ingin mendengarkan keluhan tentang hidup yang makin susah, bukan sekadar mencari simpati untuk kepentingan pemilu semata. Keluhan yang didengarnya semoga bisa dijadikan referensi untuk pengambilan keputusan strategis yang nantinya harus ditindaklanjuti oleh jajaran partai, termasuk para bupati/walikota/gubernur dan legislator yang berasal dari PDI-P. Tetapi manakala yang dilakukan hanyalah tebar pesona maka selain capek juga tidak ada gunanya. Bahkan, bisa kontra produktif karena rakyat sudah bosan dengan janji-janji yang biasa disodorkan para pemimpin.

Jawa Tengah termasuk propinsi termiskin di Jawa. Maka, kedatangan Megawati di daerah ini pastilah banyak mendengar keluhan orang-orang miskin yang datang dari kaum petani, nelayan, buruh dan sebagainya. Permintaan orang miskin pun biasanya sederhana saja seperti merasa mudah mencari makan, harga kebutuhan pokok tidak terlalu melambung dan suasana pun aman-aman saja. Nyaman karena tidak terlalu susah mencari makan, aman juga di kesehariannya. Untuk mengetahui secara persis kebutuhan rakyatnya seperti inilah, maka pemimpin harus mendekat terus kepada rakyat agar mampu mendengar dengan baik. Menjadi pemimpin selain mau didengar, juga seharusnya mau mendengar !


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA