| Rabu, 21 Nopember 2007 | NASIONAL |
Mega: Pria Tak Mengerti Cabe, Terasi...REMBANG- Mengurus negara seperti mengurus rumah tangga. Begitulah yang ada di benak Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri. Karena itu untuk urusan rumah tangga, ibu-ibulah yang paling mengerti. "Nek lanang iku, wis to ora ngerti atur-ature rumah tangga. Nggak ngerti cabe, terasi, ikan asin, dan biasanya minta diladeni. Tinggal makan bae. (Pria itu tidak mengerti bagaimana mengatur rumah tangga, tidak mengerti cabe, terasi, ikan asin, dan biasanya minta diladeni. Tinggal minta makan saja)," ungkap Mega di hadapan massa yang memadati tempat pelelangan ikan Pandangan Rembang, Selasa (20/11). Dari analisanya, dia mengatakan, kekalahannya pada Pilpres 2004 karena kaum ibu tidak memilihnya lagi. "Saya mendapat kesimpulan, saya ini menjadi kurang suaranya karena ibu-ibu tidak mau memilih ibu lagi. Mereka justru milih lanang (laki-laki)." Mega menjelaskan, kedatangannya untuk mendapatkan masukan, bukan untuk mengambil keputusan. "Mengapa saya sebagai ketua DPD PDI-P langsung melihat ke tempat-tempat rakyat, karena saya tidak mau mendengar laporan di Jakarta. Karena laporannya asal ibu senang saja, akibatnya keadaan saat ini tidak terpantau dengan baik," tandasnya. Saat di kawasan wisata Goa Terawang, Kecamatan Todanan, Blora, Mega menerima keluhan dari petani Blora mengenai harga pupuk yang makin mahal. ''Di Todanan ini, harga pupuk sangat mahal, Rp 1.750-2.000/kg. Saya tidak tahu apakah di daerah lain juga sama,'' ujar salah seorang petani. Nasib para petani semakin merana ketika panen tiba, sebab harga jual hasil panen turun drastis. Antara pengeluaran dan pendapatan tidak seimbang. Sejumlah tokoh masyarakat juga mengeluhkan kondisi perekonomian dan pertanian bangsa yang tidak semakin baik. Padahal di tahun 80-an, Indonesia merupakan negara pengekspor berbagai komoditas pertanian seperti beras, kelapa sawit dan karet. ''Dulu negara kita bisa berswasembada beras dan bahkan mengekspor. Sekarang justru mengimpor beras,'' ujar Pramugi, salah seorang tokoh masyarakat komunitas Samin, Kecamatan Sambong. Megawati meminta Fraksi PDI-P DPR-RI menyikapi berbagai keluhan warga tersebut, yakni dengan cara mendesak pemerintah lebih memperhatikan nasib para petani. Menurutnya, apa yang dikeluhkan petani tersebut merupakan kondisi riil yang dirasakan sebagian besar warga. Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla menilai kunjungan Megawati ke Jabar, Jateng, dan Jatim diperlukan untuk menciptakan hubungan antara partai dan konstituennya. ''Kalau kita ke daerah boleh macam apa saja. Boleh marah, boleh tebar pesona, boleh jabat tangan, boleh tebar apa saja. Tebar bibit juga boleh,'' kata Kalla. Dia berpendapat, kujungan Mega ke daerah-daerah di Pulau Jawa adalah biasa dan wajar. Sebab semua ketua umum partai dapat mengunjungi konstituennya setiap saat. Dia sendiri teratur berkunjung ke daerah-daerah untuk menciptakan hubungan antara pimpinan dan konstituennya. Sebagai pesaing politik, Kalla tak khawatir safari Mega ke daerah-derah itu akan mempengaruhi perolehan suara partainya pada pemilu 2009. Sebab publik akan menilai apa yang akan dan apa yang telah dilakukan. ''Golkar telah berbuat banyak. Kalau tidak berbuat banyak bagaimana Golkar bisa begini lama menjadi partai,'' tandasnya. (H18,di,A20,H19,dtc-48,76,46) |