| Rabu, 21 Nopember 2007 | KEDU & DIY |
BI Bantu Pulihkan Perekonomian Perajin KulitBANTUL - Untuk memulihkan perekonomian perajin kulit di Desa Manding, Bantul, Bank Indonesia (BI) telah membangun berbagai sarana yang hancur akibat diterjang gempa bumi tahun lalu. Bantuan yang diberikan itu meliputi tempat parkir, pembangunan ATM, gapura Desa Manding, dan balai pertemuan bagi para perajin yang ada di desa itu. Dengan adanya sarana itu, diharapkan segera bisa memulihkan perekonomian perajin kulit di sana. ''Kami senang dan bangga karena diberi kesempatan membantu memulihkan perekonomian perajin kulit yang sempat hancur akibat bencana gempa bumi tahun lalu,'' kata Miranda S Ghultom, Deputi Gubernur Senior BI, saat meresmikan berbagai sarana yang disebut Program Desa Kita di Desa Manding, Bantul, Selasa (20/11). Dalam peresmian berbagai sarana bantuan BI itu, dia didampingi Kepala BI Yogyakarta Ny Endang Setyadi, Bupati Bantul Drs HM Idham Samawi, dan sejumlah pejabat Pemkab. Miranda mengungkapkan, melalui bantuan itu dia berharap mampu menjadi stimulus bagi pembangunan yang berkesinambungan di desa serta dapat membantu memulihkan kehidupan perekonomian masyarakat pascagempa. Namun, lanjut dia, yang lebih penting dari Program Desa Kita adalah sektor nonfisik yang menitikberatkan pada pengembangan keterampilan perajin kulit dalam meringankan kualitas produksi dan pemasaran. Terus Berjalan Dengan demikian dapat meningkatkan kompetensi mereka dalam menjalankan roda perekonomian keluarga dan desanya. Untuk itu, bila suatu saat nanti program itu telah berakhir, semangat warga dalam mengembangkan desanya tetap terus berjalan. Sementara itu, Samsudin, ketua Paguyuban Perajin Kulit Karya Sejahtera Manding ketika ditanya wartawan mengatakan, sejak gempa bumi melanda Bantul tingkat perekonomian para perajin turut hancur. Sebab modal yang dikumpulkan selama ini habis untuk memperbaiki rumah, toko, dan membeli peralatan. Pascagempa tahun lalu, tutur dia, keramaian Desa Manding sama sekali belum pulih benar. Bahkan, hasil kerajinan mereka yang dulunya diekspor ke berbagai negara kini terpaksa terhenti. Hal itu disebabkan tidak adanya dana dan mencari bahan baku sulit, kalaupun ada harganya kini relatif mahal. ''Penghasilan saya sebelum gempa setiap bulannya rata-rata Rp 50 juta, tapi sekarang hanya sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta saja,'' ucapnya yang kini mempunyai karyawan 18 orang. Kondisi yang sama juga dialami Ny Sudarmini, sebelum gempa omzet pemilik Dika Collection ini sehari rata-rata penghasilannya antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta, tapi sekarang omzetnya sehari hanya Rp 500.000. ''Sebelum gempa kami mempunyai karyawan 18 orang, tapi sekarang ini hanya tinggal tiga orang. Mereka pindah ke tempat lain,'' katanya. Meski demikian, kini keduanya mengaku senang karena ada upaya Pemkab Bantul dan BI untuk membantu memulihkan perekonomian di Desa Manding sebagai salah satu pusat kerajinan kulit yang ada di Yogyakarta. (sgt-70) |