logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 21 Nopember 2007 KEDU & DIY
Line

Sabar, Puluhan Tahun Menggeluti Wayang Kulit

  • Oleh Agung PW

WAYANG kulit mulai ditinggalkan? Beberapa tahun terakhir ini sepertinya begitu. Namun bagi Sabar, meskipun sudah mulai ditinggalkan, dia masih setia menekuni pembuatan wayang kulit. Memang, usahanya sempat terseok-seok ketika orang mulai melirik hiburan lain dan mengesampingkan wayang. Yang berikutnya, hancur akibat bencana gempa Mei 2006 lalu.

''Sejak dulu leluhur kami sudah membuat wayang kulit, jadi saya tinggal meneruskan saja sampai sekarang ini,'' kata warga Pucung, Wukirsari, Imogiri, Bantul yang mulai menggeluti pembuatan wayang tahun 1982 itu.

Namun dia tak begitu saja langsung dapat meneruskan usaha turun-temurun tersebut. Menurutnya, harus ada darah seni kalau seseorang ingin memasuki dunia pewayangan. Tanpa itu, dia tak bisa berkarya sedemikian lama dan tekun. Kendala modal yang kerap menjadi halangan baginya bukanlah persoalan.

Bisa dibilang, kelangsungan hidup keluarganya memang dari wayang. Sejak dahulu ayahnya sering mengajari dia cara membuat wayang sekaligus memasarkannya. Kebetulan dia menyukai wayang kulit. Jadi dia tahu persis mulai dari proses pembuatan hingga penjualan. Sering dia diajak mengantar dagangan keliling Yogyakarta. Melelahkan namun menghasilkan.

Kini, hasil karyanya dapat dijumpai di berbagai tempat di Kota Pelajar bahkan juga sudah merambah Bali dan Jakarta. Pemesanan paling banyak awalnya memang lokal namun sekarang malah lebih banyak dari luar daerah seperti Bali. Di sana ternyata tokoh-tokoh wayang juga sangat digemari.

Bangkit dari Gempa

Usaha yang sudah berjalan puluhan tahun dan mapan tersebut hancur lebur akibat gempa setahun silam. Selama beberapa bulan dia menghentikan proses produksi dan harus berkosentrasi untuk mengurusi keluarga. Rumah tak lagi tersisa, rata tanah diterjang gempa.

''Semua daya dikerahkan untuk mengurusi gempa, mulai dari membersihkan puing rumah sampai membangun kembali pelan-pelan. Modal yang harusnya untuk usaha kami gunakan memperbaiki rumah,'' tutur dia yang kini berusia 47 tahun.

Memang, ketika gempa melanda Jateng dan Yogyakarta 2006 lalu, kawasan tempat tinggalnya rusak parah. Hampir semua bangunan di sana hancur tak tersisa. Pusat gempa diperkirakan tak jauh dari sana. Namun masyarakat setempat cepat bangkit dan kembali menata kehidupan.

Beruntung, dia memperoleh suntikan modal dari sebuah bank. Sekarang dia bisa bernapas agak lega karena proses produksi dapat berjalan kembali. Pekerjanya pun saat ini ada 26 orang. Jumlah tersebut buatnya sangat banyak karena merekalah yang menghidupi keluarga masing-masing.

Wayang buatan Sabar menggunakan kulit kerbau sebagai bahan dasar karena kuat, tak mudah rusak atau melengkung, mudah ditatah. Dalam sebulan dia menggarap satu kuintal kulit yang dapat menjadi 200-an wayang. Sisa-sisa berupa potongan kecil dapat dijadikan hiasan. (70)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA