| Rabu, 21 Nopember 2007 | INTERNASIONAL |
Chavez-Ahmadinejad Bersatu Lawan ASTEHERAN - Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyatakan bahwa mereka bersatu untuk melawan pengaruh Amerika Serikat. Chavez mengatakan, kemerosotan nilai dolar merupakan tanda-tanda kejatuhan ''kekaisaran AS''. Dia juga bergurau bahwa dia sedang mengembangkan bom atom sendiri. Gurauan itu jelas sindiran terhadap Washington yang menuduh Iran berusaha membuat bom nuklir. ''Media imperialis mengatakan saya datang ke sini untuk mencari bom atom. Jika ada yang menyerang saya, maka saya akan membalasnya,'' ujar dia berkelakar. Namun gurauan itu tidak direspons oleh Ahmadinejad saat dia mendapat giliran berbicara. Chavez menyatakan mendukung program nuklir sipil yang dijalankan oleh Teheran. Ini merupakan lawatan keempat Chavez ke Iran. Kunjungan Chavez ke Iran itu dilakukan setelah dia dan Ahmadinejad gagal membujuk para pemimpin OPEC (organisasi negara pengekspor minyak) untuk menetapkan harga minyak dalam berbagai mata uang, bukan hanya dolar. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OPEC akhir pekan lalu, aliansi Venezuela-Iran terlihat masih lemah, namun keduanya bisa menjadi masalah bagi Washington dan sekutunya di Arab. ''Kami adalah dua negara yang bersaudara. Kami bersatu seperti kepalan tinju,'' kata Chavez saat tiba di Teheran. ''Atas kehendak Tuhan, seiring dengan kemerosotan dolar ini, imperialisme AS akan segera ambruk.'' Saat dolar melemah, harga minyak melambung sampai mendekati 100 dolar per barel. Dalam pertemuan OPEC Chavez mengatakan, harga minyak dapat mencapai 200 dolar per barel jika Washington menyerang Iran atau Venezuela. ''Kekaisaran AS di ambang kejatuhan,'' kata Chavez. Dia menganggap mata uang euro sebagai opsi yang lebih baik dalam menetapkan harga minyak. Menurutnya, negara-negara Amerika Latin juga mempertimbangkan euro sebagai mata uang bersama.(rtr-ben-26) |