| Rabu, 21 Nopember 2007 | BUDAYA |
Menanti Momentum CintaAPA yang paling memegang peranan penting dalam permasalahan cinta? Timing. Di dalam waktulah--paling tidak menurut film Burung Burung Kertas--waktu atau momentum mampu mengatasi cinta. Namun, hanya di dalam waktu yang tepat pula cinta mampu ditundukkan kemudian dilaraskan. Jika timing, waktu atau momentum meleset, maka pergilah juga cinta entah ke mana. Dalam film drama remaja produksi Shorts Production yang mengambil lokasi syuting di Sydney, Australia, dan berdurasi 90 menit itu, permasalahan cinta remaja hadir dalam dunianya yang naif. Meski demikian, dengan cara bertutur yang apik, yaitu menghadirkan tiga cerita yang disatukan dalam satu bingkai cerita besar, mengalirlah film ini secara lancar. Cara bertutur Cassius Handoyo, Dinna Jasanti, dan Susanto Widjaja (penulis skenario) dalam menghadirkan tiga cabang cerita mengingatkan kita pada pola Alejandro Innaritu, sutradara Babel, ketika membesut Amoros Peros. Namun, dalam versi yang sederhana, film minimalis ini tetap tidak kehilangan kesegarannya. Sinematografi yang mampu menghadirkan secara detail dan menyajikan sudut gambar yang menarik, membuat film garapan anak-anak muda ini cukup menjanjikan. Hasilnya, akting Jingga (Dewi Lie), Eros (Deddy Henuk), dan Rima (Cindy Gusmala) yang tampil sebagai pelakon utama dan hadir secara natural, disajikan dengan menarik pula oleh Susanto Widjaja, Dinna Jasanti, dan Cassius Handojo yang juga bertindak sebagai sutradara. Sayang, Burung Burung Kertas tidak diedarkan dalam format layar lebar karena kendala dana dan hanya hadir dalam bentuk cakram padat VCD. Dalam film ini, mitos, keteguhan hati, pengorbanan, dan ketulusan cinta tidak akan pernah ada artinya jika momentum cinta tidak tepat datangnya. (Benny Benke-45) |