| Rabu, 21 Nopember 2007 | BUDAYA |
Ketika Ngesti Tak Terganggu Bising Lagi
TAK banyak yang menyadari, pentas Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu (17/18) malam lalu, memiliki nilai istimewa. Dibandingkan pementasan-pementasan sebelumnya, wayangan malam itu terasa lebih bisa dinikmati. Antawacana ki dalang yang yang mengantar pertunjukan itu terdengar jelas, bahkan hingga di kursi paling belakang. Dialog antarpemain juga bisa ditangkap telinga penonton. Ketika para panakawan melontar lelucon, serta merta penonton bisa membalas dengan ketawa. Pertunjukan dengan lakon "Begawan Doraweca" itu semakin pas untuk mat-matan, dengan ilustrasi gamelan dan suara waranggana. Suara tiap-tiap peranti musik Jawa itu juga bisa dinikmati dengan jelas. Bukankah setiap pementasan wayang orang memang harus demikian? Vokal pemain terdengar jelas, begitu juga suara sinden dan bunyi gamelan yang mengiringinya? Lantas, apa istimewanya? Dinar, salah seorang awak Ngesti Pandowo menceritakan, sejak dua tahun terakhir, situasi semacam itu amat sulit ditemukan. Pentas wayang orang, juga pentas teater atau perhelatan kesenian lainnya, nyaris tidak bisa dinikmati karena selalu terganggu dengan bising yang ditimbulkan oleh Wonderia. Dia menceritakan, setiap kali pentas malam mingguan, para pemain harus "bersaing ketat" dengan suara gaduh dari tetangga mereka, Wonderia. Oleh karena kegaduhan itu berasal dari mesin, acapkali suara anak wayang takluk dan nyaris tidak terdengar oleh penonton. "Berbeda dari pertunjukan tadi (Sabtu malam-Red), bisa dirungokke cetha," tutur Dinar, yang malam itu berperan sebagai Begawan Doraweca. Hal itu bisa terjadi karena sejak Jumat (16/11) sore, Wonderia ditutup untuk umum, menyusul insiden jatuhnya balon plane tower beberapa hari lalu. Pernah Diprotes Suara gaduh yang berasal dari aktivitas di Taman Rekreasi Wonderia, pernah menuai protes dari para seniman di TBRS. Suara Merdeka mencatat, tahun lalu para seniman pernah menyampaikan keluhan kepada sejumlah media, mengenai kebisingan dari Wonderia. Suara bising dari berbagai wahana maupun pentas musik di taman hiburan itu, oleh para seniman dianggap sangat mengganggu aktivitas kesenian di TBRS. Pentas rutin malam mingguan Ngesti Pandowo, merupakan salah satu "korban". Selain itu, kebisingan taman rekreasi itu juga mengganggu pentas wayang kulit malam Jumat Kliwon, yang rutin digelar Teater Lingkar. "Konsentrasi pemain pasti juga terganggu," ujar salah seorang seniman. Ya, selama ini, kegaduhan di kawasan eks kebun binatang Tegalwareng itu mencapai puncak pada Sabtu malam. Biasanya, pada malam itu Wonderia acap menggelar pentas musik untuk menarik pengunjung. Kalau sudah begitu, menikmati pementasan wayang orang, wayang kulit, atau teater di TBRS merupakan hal yang "mewah". (45) |