logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Nopember 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kecewa KFC Candi

Tanggal 9 November 2007 pukul 14:06:42 saya bersama teman makan siang di KFC Candi Semarang. Kami memesan 2 nasi, 2 dada ayam, 1 botol aqua dan 1 pepsi medium. Setelah selesai makan saya baru menyadari terdapat lalat di minuman pepsi yang tertumpuk es batu sehingga baru terlihat setelah saya minum 3/4- nya.

Saya memberitahu pelayan bahwa terdapat lalat di minuman pepsi tetapi dia hanya mengambil dan melihat gelas minuman tanpa meminta maaf. Dia kemudian membuang pepsi tersebut. Saya mengira saya akan mendapatkan minuman pengganti, tetapi ternyata tidak. Saya kecewa atas layanannya. Apakah memang seperti cara mereka memperlakukan konsumennya ?

Sugiharto Purnamasidi

Jl Citarum Tengah II/37, Semarang

Soal Layanan Joglosemar

Tulisan saya soal "Pelayanan Joglosemar", langsung direspon pihak manajemen yang intinya minta maaf telah mengecewakan pelanggan dan berjanji membenahi kinerja perusahaan. Secara pribadi saya berterima kasih sudah ada respon sebab bukan imbalan atau ganti rugi yang saya harapkan tetapi hanya ke depan bisa lebih baik lagi.

Bisnis di bidang pelayanan publik ini agar tetep eksis dan tidak kalah bersaing, semestinya harus membenahi sumber daya manusia terlebih dulu di antaranya kerja sama tim, koordinasi antarbagian dalam menjalankan tugas.

Pihak manajemen perlu waktu untuk mengadakan kegiatan misal outbound untuk meningkatkan kinerja dan kerjasama antar karyawan yang tersebar di Semarang, Solo, Jogja yang mungkin tidak saling kenal. lni hanya salah satu masukan dari pelanggan yang menggunakan layanan jasa Joglosemar.

Nunuk H Setyowati

Jl Tmn Lamongan II/14, Semarang

***

Nasihat sang Resi

Dalam kisah Mahabharata, resi Bhisma adalah junjungan wangsa Bharata yang dihormati baik oleh Pandawa maupun Korawa. Bhisma muda yang tampan, gagah, arif, bijaksana serta sakti mandraguna bernama Raden Dewabrata. Beliau selalu konsisten pada sumpahnya.

Inilah kebijaksanaan pertama dari sang resi muda Dewabrata, tatkala dia lebih memilih menyerahkan warisan tahta kerajaan Hastina pada anak keturunan calon ibu tirinya yakni Dewi Setyowati atau Dewi Durgandini. Dewabrata juga memilih tidak menikah selamanya agar tidak punya keturunan.

Padahal pewaris tunggal kerajaan Hastina seharusnya jatuh padanya karena dia putra satu-satunya dari raja Hastina yakni Prabu Sentanu. Hal ini dilakukan karena demi cinta dan sayangnya kepada ayahandanya. Apa nasihat penting terakhir ketika resi Bhisma terbaring di Padang Kurusetra dalam perang Bharatayuda?.

Beliau nimbali: "Yudhistira cucuku, setelah engkau mengalami berbagai rintangan dan cobaan, akhirnya tahta dan kerajaan Hastina kembali ke tanganmu. Aku bersyukur dan berbahagia untukmu", kata sang resi pelan.

"Terima kasih kakek, sayangnya demi kekuasaan seperti ini banyak darah harus tumpah. Banyak ksatria perkasa harus terbunuh demi terpasangnya mahkota Hastina di kepalaku. Kakek Bhisma pun ikut menjadi korban...", kata Yudhistira sambil menunduk menahan kepedihan.

"Benar cucuku, tapi ketahuilah perang Bharatayuda memang harus terjadi akibat kesalahan kita semua. Perang ini menjadi alat penebus dosa kita semua. Kakek juga ikut bersalah, karena itu kakek mengalami nasib seperti ini", kata Bhisma sembari menahan rasa sakit. Yudhistira mengangguk.

"Cucuku, setelah kau menjadi raja penguasa Hastina, ada beberapa hal yang harus selalu kau ingat. Penguasa harus selalu memperhatikan rakyatnya sebab maju mundurnya suatu negeri bukan dinilai dari kemegahan istana rajanya atau kemakmuran para birokratnya, melainkan dari kesejahteraan seluruh rakyatnya.

Bijaksanalah dalam menghadapi rakyat, karena kekuatan rakyat laksana air danau yang tenang namun sewaktu-waktu bisa meluap menghancurkan tanah subur di sekitarnya. Itulah yang dinamakan revolusi. Sebagai seorang pemimpin, kau harus senantiasa di depan memberi teladan kebaikan. Pemimpin harus ikut menderita saat rakyatnya sedang sedih dan menderita.

Tetapi, pemimpin tidak boleh tenggelam dalam penderitaan. Kau harus bangkit dan berusaha keras mencari cara untuk membuat rakyatnya bahagia. Politik adalah bagaimana cara membuat rakyat bahagia bukan malah membuat sengsara", kata Bhisma seraya menarik nafas dalam-dalam.

Sementara Yudhistira berserta ke empat adiknya terdiam mendengarkan nasihat sang kakek. Bhisma melanjutkan "Aku akan menceritakan, sebuah perumpamaan tentang bagaimana seorang raja harus bertindak dalam keadaan yang sulit dan genting".

Cerita Mahabharata ini digemari rakyat, tetapi saya yakin nasihat resi Bhisma tersebut tidak akan disukai para penguasa. Penguasa justru lebih senang bagaimana cara mempertahankan kekuasaannya daripada mendengarkan seribu nasihat untuk menjadi pemimpin yang baik.

Suprayitno (081325736405)Jl. Tlogomukti Timur I/878 Semarang.

***

Respon Telkomsel

Menanggapi tulisan saya di Surat Pembaca 9 Oktober 2007 menyangkut keluhan terhadap Telkomsel, saya berterima kasih kepada Bapak Helmi, Bapak Wawan dari Telkomsel Semarang serta Bapak Asep dari Telkomsel Makassar. Atas bantuan dan perhatiannya, kartu saya mulai hari itu juga sekitar pukul 15.00 WIB sudah bisa digunakan lagi untuk outgoing.

Saya bangga menjadi pelanggannya karena layanan yang begitu cepat dan ramah serrta sopan. Semoga kejadian ini menjadi contoh operator lain bagaimana memberikan kepuasaan dan kenyamanan kepada konsumennya.

Djunarto (08124483619)

Kalasey Satu Jaga I Pineleng, Minahasa

***

Gramedia Pandanaran

Sehari setelah Surat Pembaca saya dimuat, datanglah Mas Gilang dan Pak Harjono ke rumah saya. Mereka mewakili Gramedia Pandanaran Semarang untuk menyampaikan surat permohonan maaf atas layan - pesan buku yang saya komplain. Selain itu saya juga mendapat 3 buku dari mereka. Saya salut atas respon profesionalnya, semoga pelayanannya makin memuaskan dan membuat saya tetap bangga sebagai pelanggan.

Ratna Asmarani

Jl Aryamukti 841, Semarang

***

Saatnya Pasar Perumnas

Banyumanik Dibenahi

Sebagai warga Kota Semarang rasanya nyes ketika Pak Wali beberapa waktu lalu, mampir di mesjid Muhajirin Perumnas Banyumanik. Namun saya agak kecewa Pak Wali tidak menyinggung peningkatan SDM lewat keberadaan rumah pintar dan pondok baca yang ada di kompleks ini. Harapan, Pak Wali meningkatkan perhatiannya terhadap usaha yang membuat pintar warganya.

Perkembangan masyarakat yang makin menggelembung, rasanya perlu juga mendapat perhatian serius. Di antaranya pasar Jati di kompleks Perumnas Banyumanik yang sudah waktunya ditata kembali agar lebih tertib. Jumlah pedagangn makin bertambah, membutuhkan tempat yang tertata rapi. Juga pasar Damar setali tiga uang.

Keberadaan pasar yang tertata baik juga akan meningkatkan pendapatan asli daerah. Pembangunan pasar Jati dan Damar secara permanen kiranya sudah mendesak termasukl pengaturan arus lalu lintas di sekitarnya. Kalau hal ini terlambat tentu akan menimbulkan gejolak.

Semoga hal ini membangkitkan ingatan yang berwenang mengatur pasar untuk membuat program mendatang. Barangkali melalui program yang mantap kawasan Banyumanik akan menjadi Kota Satelit andalan sebagai salah satu bagian dari Program Semarang Pesona Asia.

Parmanto SH MHum.

Jl. Meranti Raya 301, Semarang.

***

Jabatan Stategis

Biasanya setiap orang akan bersyukur ketika memegang jabatan strategis. Terbayang adanya peningkatan status sosial, taraf hidup dengan jaminan fasilitas menggiurkan. Namun ini dunia fana, tidak ada sesuatu yang langgeng.

Survei membuktikan, banyak kini jadi pejabat, bulan depan sudah menjadi penjahat. Jabatan berpotensi menjadi bumerang bila nawaitu-nya tidak semata ibadah.

Seharusnya yang ada dalam benak pejabat adalah bagaimana melayani rakyat sebaik dan semaksimal mungkin. Memang hal itu tidak umum sebab sekarang yang lebih penting bagaimana mendapat pelayanan dari rakyat semaksimal mungkin.

Lihat ekspresi kegembiraan dan keceriaan di wajah pejabat dan keluarganya bila ada yang diangkat menjadi pejabat. Bahkan ada yang sujud syukur segala. Saran, bila belum kuat menjaga amanah lebih baik menjadi rakyat biasa saja. Sekarang rakyat sudah susah mencari sesuatu yang dapat dibanggakan di negeri ini.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Hantu Selebritis

Jika di alam hantu ada bioskop, mereka akan ramai-ramai memproduksi film tentang kejahatan manusia. Sebab di alam manusia kini lagi marak film tentang hantu. Ada Pocong, Kuntilanak, Sundel Bolong, Suster Ngesot, Jelangkung dan lainnya. Film tentang mahluk halus ini kebanyakan bertutur tentang "kejahatan" hantu terhadap manusia.

Padahal selama ini hantu tak pernah menyatakan perang kepada manusia. Malah manusia satu dengan lainnya justru sering berseteru. Dengan begitu film ini bukan dari jenis thriller namun bisa dikategorikan komedi. Lain halnya dengan Warkop DKI dulu. Sejatinya bukan film komedi lapstick tapi jenis film ironi. Betapa tidak, sepanjang film terjadi celaka terus menerus.

Sifat manusia memang selalu ingin tahu termasuk keinginan melihat "hantu" di bioskop. Jadilah hantu jadi besar kepala. Sebab "dunianya" telah dipopulerkan manusia. Walau tidak mendidik, jenis film ini lagi laris manis. Terbukti satu judul film dibuat berseri. Mirip sinetron televisi. Bagaimana merubah selera penikmat melihat tayangan yang realitas.

Tak kurang Dedy Mizwar dengan karya kreatifnya memproduksi film bermutu. Taruhlah film religi tanpa menggurui. Juga Naga Bonar Jadi Dua dan lainnya. Mengundang hantu untuk jadi selebritis adalah kemustahilan. Maka jadilah selebritis yang "dipermak" jadi hantu. Dengan begitu penonton melihat "penampakan" hantu palsu. Dan ini yang dimaui masyarakat.

Agus Eko Santoso SE

Pondok R Patah Blok K1/21, Demak.

***

Telur Asin

Telur asin, siapa yang tak kenal dan tak suka. Siapa pun pasti mengenal bahkan menikmati di meja makan keluarga. Telur asin kini naik peringkat sebagai benda untuk oleh-oleh sanak keluarga/tetangga. Salah satu kota sentranya berada di Brebes yang berbatasan dengan Cirebon.

Meski kota kecil, namun Brebes dikenal sebagai kota sekaligus sentra penghasil bawang merah. Tidak heran, saat lebaran lalu sepanjang jalan menuju Kota Brebes baik dari arah Jakarta maupun dari arah Tegal, berderet kios-kios kecil di pinggir jalan sebagai tempat dagang telur asin dan bawang merah.

Sebagian besar penduduk Brebes adalah pedagang atau wiraswastawan dan sebagian lagi kerja kantoran (PNS), guru atau kerja lainnya. Telur asin memang mak nyuus... (istilah Bondan Winarno), enak, sip dan memang yahud tak ada duanya. Apalagi bila dimakan dengan nasi yang masih panas kebul-kebul akan terasa nyuuus...

Bagaimana dengan manajemen politik telur asin. Bagaimana dengan "Demokrasi telur asin dan bagaimana dengan kaum yang terpinggirkan di Kota Brebes sendiri. Nah inilah persoalan yang harus dipikirkan dan dituntaskan oleh bupati setempat.

Wisnu Widjaja

Jl Sindoro I/1 Panggung, Tegal

***

Petunjuk Alam

Manusia adalah makhluk paling mulia melebihi tetumbuhan atau hewan dan jin. Meski demikian dapat menjadi makhluk yang derajadnya lebih rendah daripada hewan bila tidak mau memperhatikan dan melaksanakan petunjuk-Nya yang berupa wahyu yang diturunkan melalui para Nabi dan RasulNya. Juga lewat berbagai hal yang ada di alam semesta .

Bila manusia mau membaca alam dia akan mengetahui berbagai kebaikan Misal, bintang dapat memberi petunjuk arah kepada orang yang berjalan di kegelapan malam. Pepohonan yang hidupnya memerlukan tanah serta air tetapi dapat memberi kebaikan pada lingkungan tanah, air dan udara serta memberikan manfaat pada kehidupan.

Lebah memberikan produk yang menyehatkan serta menjadi obat berupa madu. Manusia dengan akal dan ilmu pengetahuannya dapat mengatur dirinya sendiri dan berbagai hal yang ada di lingkungannya agar lebih bermanfaat bagi kehidupan dan alam.

Hanya saja mampukah melaksanakan semua itu mengingat banyak yang hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri saja. Mereka tak mau memperhatikan kebutuhan lingkungan bahkan malah menimbulkan kerusakan. Janganlah hidup ini hanya berbuat kerusakan.

Agung Widiyoutomo

Krajan RT 1/RW 1 Grabag, Magelang.

***

Kecewa, Agen

PO Nusantara

Rencana pulang kampung halaman di Kudus beberapa waktu lalu terpaksa gagal akibat ketidakprofesionalan PO Nusantara. Sebenarnya kondisi ini telah terbaca saat saya sekeluarga (6 orang) memesan tiket sebulan sebelumnya ke jurusan Kudus untuk tanggal 12 Oktober 2007. Pesanan hanya dicatat oleh agen di Sukasari Bogor, tanpa meminta uang muka.

Alasannya belum tahu harga pastinya dan akan dikonfirmasi sekitar minggu ketiga bulan itu. Tetapi karena tidak menerima konfirmasi sehingga saya 23 September 2007 menelepon ke agen. Ternyata nama saya sekeluarga tidak terdaftar dan kursi yang saya pesan sudah diserahkan kepada orang lain.

Ketika saya tanya apakah mungkin mendapatkan pengganti, pihak agen menyatakan masih ada kursi untuk 6 orang. Karena sudah sore, agen menyarankan esok harinya saja datang kembali. Esoknya saya datang untuk memberi uang muka sebesar Rp 100.000/tiket (6 tiket = Rp 600.000) dan tanggal 11 Oktober membayar lunas tiket sebesar Rp 225.000/tiket (naik Rp 100.000/tiket atau 80% dari harga normal).

Tiket tersebut tertulis untuk keberangkatan tanggal 12 Oktober 2007 pukul 15.30 WIB dan harus kumpul di agen pukul 15.00. Pada tanggal 12 Oktober sekitar pukul 13.00 saya mendapat telepon dari agen bahwa ada keterlambatan, tetapi tetap menyarankan sudah di agen sekitar pukul 16.00 karena jika terlambat akan ditinggal.

Saya datang pukul 14.30 dan agen mengatakan keterlambatan bus sampai pukul 17.00. Tetapi sampai 20.00 bus belum datang dan agen tidak bisa memberi kepastian kedatangan bus dari Kudus akibat terperangkap macet di jalur pantura.

Karena ketidakpastian menunggu padahal saya membawa anak kecil maka saya membatalkan keberangkatan dengan minta ongkos tiket.

Tetapi baik agen maupun kantor pusat yang dihubungi tidak mau mengembalikan uangnya. Mereka minta saya tetap menunggu sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Kekecewaan makin bertambah karena pihak perusahaan bus telah membohongi calon penumpang dan bertindak semena-mena. Seharusnya jika tidak dapat menyediakan bus, ya tidak perlu menjual tiket melebihi kemampuannya sehingga merugikan konsumen baik moril maupun materiil. Kepada pihak terkait agar memberi sanksi tegas kepada PO yang hanya mementingkan keuntungan sendiri.

Dokter Fajar Winarto SpRad

Jl Rimba Baru 8 RT 9/RW 6 Bojong Menteng Kel Pasir Kuda, Bogor


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA