logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Nopember 2007 WACANA
Line

Mesin Politik

  • Oleh Adi Ekopriyono

PEMILIHAN Presiden (Pilpres) 2004, yang dimenangi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), selalu dijadikan contoh kurang berfungsinya secara optimal mesin politik. Ketika itu, meskipun Partai Demokrat (PD) baru berdiri dan belum begitu populer, SBY toh menempati urutan pertama dalam pilpres secara langsung kali pertama di Indonesia itu.

Fenomena kurang berjalannya secara optimal partai-partai sebagai mesin politik, bergulir pula di beberapa pemilihan daerah, baik pemilihan bupati/ wali kota maupun pemilihan gubernur. Calon yang didukung oleh partai besar, belum tentu memenangi pemilihan.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya korelasi antara peran partai politik (parpol) dan pemilihan secara langsung. Dalam pemilihan langsung, orang lebih merasa memiliki otoritas untuk nenentukan sendiri pilihannya. Berbeda dari pemilihan sistem perwakilan di era sebelumnya yang memosisikan parpol sebagai faktor penentu.

"Sekarang, figur calon sangat menentukan. Rakyat sudah mulai sadar tentang hak-haknya sebagai pemilih yang ikut menentukan masa depan. Mereka tidak lagi melihat latar belakang parpol seorang calon, melainkan lebih melihat figur (pribadi) calon itu," kata seorang pengusaha. Karena pengusaha, dia pun mencari calon yang produnia usaha.

Pemilih yang lain, dengan latar belakang yang berbeda, tentu punya pertimbangan yang berbeda pula. Seorang yang agamis, misalnya, pasti mencari calon yang diprediksi akan mengembangkan kehidupan keagamaan. Seorang yang bekerja di lingkungan pendidikan, akan melihat calon yang propendidikan; dan seterusnya.

Pendek kata, lebih banyak orang yang berpikiran pragmatis, yang bertanya calon mana yang akan bisa merealisasi aspirasi mereka. Teori mengatakan, pilihan dan tindakan seseorang akan dipengaruhi oleh kerangka acuan (frame of reference) dan lingkup pengalaman (field of experience).

***

PREDIKSI saya, Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2008 juga tidak akan jauh dari masalah menurunnya pamor mesin politik itu. Saya yakin, para calon sudah memperhitungkan masalah itu, sehingga tokoh-tokoh yang tidak memiliki basis parpol pun berani maju.

Itu fenomena menarik, karena ñlangsung maupun tidak langsungñ berkaitan dengan meningkatnya daya kritis masyarakat. Dalam dunia pemasaran (marketing), pemilih sudah berorientasi kepada nilai (value oriented), bukan lagi kualitas atau harga. Orientasi nilai itu mempertimbangkan kaitan antara harga dan kualitas; orang mau membeli produk kalau produk tersebut memang seimbang antara kualitas dan harganya.

Jadi, belum tentu orang yang sudah menerima angpao atau sembako dari seorang calon, pasti akan memilih calon yang memberi. "Yang penting duitnya, Mas; soal memilih siapa itu nanti, kan bebas dan rahasia," kata teman saya yang sering demo.

Bagi dia, harus ada keseimbangan antara "harga" (dalam bentuk pengeluaran dan pengorbanan) dan kualitas calon. Itulah yang disebut nilai (value). Dalam hal itu, loyalitas yang ada adalah loyalitas terhadap nilai, bukan kepada seseorang atau kepada parpol.

Pertimbangan pilihan lebih kepada sejauh mana manfaat seorang calon kalau terpilih, bagi dirinya atau bagi kelompok terdekatnya. Pengertian kelompok terdekat itu lebih tidak bernuansa politik, melainkan sosial-ekonomi-budaya, karena pengalaman masa lalu bahwa parpol sering hanya memanfaatkan orang ketika membutuhkan suara menjelang pemilihan.

***

DALAM konteks pemikiran seperti itulah, dapat diperkirakan "pertarungan" dalam Pilgub Jateng 2008 akan berkisar pada tarik-menarik kekuatan mesin politik dan kekuatan mesin kultural. "Pertarungan" itu sudah terasa pada saat para calon berlomba-lomba mendekati tokoh-tokoh organisasi bukan politik untuk dipinang menjadi pasangannya.

Ada yang meminang tokoh organisasi keagamaan, ada pula yang merapat ke tokoh pendidikan, atau tokoh perempuan sebagai bentuk kepedulian kepada kesetaraan gender. Begitu pula ketika para calon jauh-jauh hari sudah sowan ke kiai-kiai sebagai tokoh kultural-keagamaan, atau mengunjungi pondok-pondok pesantren dan kelompok-kelompok pengajian.

Seorang ketua umum organisasi berbasis kultur, ketika saya tanya tentang menurunnya pamor partai sebagai mesin politik, mengatakan, mungkin penurunan pamor itu memang ada, namun mesin kultural masih kuat.

Dia berpendapat, loyalitas orang dalam organisasi berbasis kultur lebih besar daripada loyalitas orang dalam organisasi politik.Saya sependapat dengan pernyataan itu, karena loyalitas kultural lebih langgeng daripada loyalitas politis yang cenderung sesaat dan berdasarkan faktor kepentingan.

Ikatan sosial (social bonding) serta unsur nilai-nilai, kepercayaan (trust), dan jejaring (networking) dalam organisasi kultural juga lebih kental, didasari oleh ketulusan yang lebih dalam.

Jadi, siapa yang akan terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013? Mereka adalah orang-orang yang berhasil menggerakkan mesin kultural, sekaligus memanfaatkan sisa-sisa kekuatan mesin politik. Siapa orang-orang itu? Walahuíallam.(68)

-- Adi Ekopriyono, wartawan Suara Merdeka di Semarang


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA