| Senin, 19 Nopember 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAMestinya, Aman dan Nyaman di Taman RekreasiTepatlah Wali Kota Sukawi Sutarip bertindak cepat menutup sementara Taman Rekreasi Wonderia. Kecelakaan yang menimpa pengunjung karena jatuhnya wahana permainan jelas merupakan skandal manajemen dalam jaminan kenyamanan dan rasa aman. Jaminan itu, dalam semua fasilitas taman bermain dengan latar belakang bisnis merupakan syarat yang tidak bisa ditawar-tawar. Bermain tanpa keselamatan, apa artinya? Membuka bisnis pusat hiburan, bukankah artinya pengelola membutuhkan kehadiran pengunjung? Konsumen yang sudah membayar butuh bermain, dan keselamatannya pun terjamin. Siapa pun berhak mengatakan, kecelakaan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dalam kondisi seaman apa pun. Tetapi dalam hakikat manajemen, kesadaran mengenai potensi kecelakaan justru harus dijadikan dorongan checking secara terus menerus, untuk meyakinkan telah dilakukan upaya-upaya peventif. Salah satu kelemahan dalam sikap manajemen kita, sejauh ini, pentingnya checking dalam pengelolaan - misalnya pelayanan publik - baru disadari setelah terjadi suatu peristiwa. Acapkali evaluasi serius baru setelah jatuh korban, bukan berbentuk tindakan pencegahan, atau setidak-tidaknya peminimalan. Ketika kecelakaan karena ketidakberesan wahana di suatu taman rekreasi telah dua kali terjadi, sulit untuk tidak mengatakan terdapat kelalaian dalam sikap manajemen. Sebuah pelajaran yang bukan hanya karena muncul insiden Wonderia - menyebabkan 14 orang luka-luka akibat jatuhnya plane tower -, secara lebih luas kita mengaitkan sikap manajemen berupa kewajiban mengecek fisibilitas peralatan itu dengan mentalitas pertanggungjawaban. Adakah ini merupakan bagian dari refleksi sikap dan tanggung jawab kita dalam banyak hal yang menyangkut manajemen keselamatan, kenyamanan, dan pelayanan? Jadi bagaimana seharusnya "mengawal" mata rantai proses dalam manajemen agar masyarakat pengguna layanan itu memeroleh jaminan kenyamanan? Verifikasi rutin, baik secara internal oleh pengelola maupun secara eksternal oleh badan-badan yang bertanggung jawab, merupakan langkah yang tidak boleh kendur. Prosesnya mesti dilakukan secara terbuka, bisa diakses publik sebagai semacam audit jaminan keselamatan, sehingga tidak muncul kesimpulan-kesimpulan sepihak bahwa ini sudah aman, layak, dsb. Pengawalan itu tidak mungkin dilakukan sepotong-sepotong, tetapi harus utuh dan tidak kendur oleh waktu. Runtuhnya jembatan penyeberangan di kawasan objek wisata Baturraden Purwokerto dua tahun lalu menjadi contoh kecerobohan manajemen yang mestinya tak terulang di mana pun. Menjaga jangan ada kelalaian dalam pengecekan, dan selalu menguji kelayakan peralatan merupakan tuntutan sikap yang harus terus mengusik para penanggung jawabnya. Keputusan Pemkot Semarang terhadap Taman Rekreasi Wonderia mesti disikapi sebagai realitas untuk membangun kembali kepercayaan publik, baik bagi Wonderia agar melakukan pembenahan internal, maupun bagi pemkot sendiri dalam sistem pengawasannya. Kita jadi berpikir skeptis: bagaimana membangun kepercayaan, manakala untuk memberi jaminan keselamatan dari arena-arena rekreasi saja kita tidak mampu? Kereta api sering anjlok, pesawat-pesawat bermasalah, lalu dengan modal seperti apa berani meyakinkan tanggung jawab terhadap risiko yang lebih besar seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nukir (PLTN)? Boleh saja semua itu dipandang sebagai satu dan lain hal, namun haruslah diakui, dalam manajemen di bidang apa pun kita masih harus banyak belajar, khususnya menyangkut tanggung jawab terhadap jaminan kenyamanan dan keselamatan nyawa manusia. |