logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Nopember 2007 NASIONAL
Line

GEMA GEDUNG BERLIAN

Disorot, Nasib Ribuan Petani Garam Jateng

NASIB sekitar 781 pemilik tambak dan 4.739 petani penggarap garam di Kabupaten Rembang sekarang ini sangat menyedihkan. Mereka tergantungkan dengan harga garam yang sekarang ini sedang anjlok sampai Rp 70/kg. Dengan begitu pendapatan mereka akan sangat rendah dibandingkan dengan biaya operasional setiap harinya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah Muhammad Haris mengatakan, Rembang merupakan pemasok 70% kebutuhan garam untuk wilayah Jawa Tengah yang mencapai 12.000 ton/tahun.

Garam sebenarnya kebutuhan sekunder, tapi hampir menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Padahal, dengan luas lahan tambak mencapai 1.185 hektare, kabupaten tersebut mampu menghasilkan garam 10.000 ton/tahun.

"Para pemilik tambak maupun petani penggarap mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah. Rata-rata kondisi mereka sangat memprihatinkan karena harga jual garam lokal sangat rendah," ujarnya usai melihat langsung para petani garam di Kabupaten Rembang, Kamis (15/11).

Memprihatinkan

Hal senada diutarakan anggota Komisi B dari PDI-P Fatria Rahmadi. Tingkat kesejahteraan para petani garam di Jateng memprihatinkan, karena menghadapi permasalahan pendanaan. Disamping persoalan itu, petani garam di Rembang juga menghadapi permasalahan tidak mampu melakukan penundaan penjualan kalau harga di pasaran sedang turun. Dilema lainnya, petani tidak bisa menunda penjualan hasil produksi karena keterbatasan tempat penyimpanan dan desakan kebutuhan sehari-hari.

Haris mengusulkan agar bantuan yang diberikan kepada petani garam bisa diwujudkan dalam bentuk dana talangan seperti halnya bagi petani darat. Pada 2007, total anggaran dana talangan kepada petani mencapai Rp 70 miliar.

Harga garam yang rendah juga pernah diungkapkan Asosiasi Petani Garam Rakyat (Anisraya) Jateng. Pada 2004, harga garam juga pernah mencapai Rp 70/kilogram-Rp 80/kilogram. Sementara, garam berkualitas jelek harganya akan lebih rendah.

Masa kejayaan petani garam Rembang berlangsung pada 1987. Pada saat itu harga garam cukup tinggi, sehingga petani bisa menikmati hasil panen mereka. Namun, setelah 1987, harga garam di kabupeten itu terus menurun. Bahkan, sampai sekarang pun harga garam masih rendah. (Widodo Prasetyo, Dicky P-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA