logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Nopember 2007 MURIA
Line

Pekerja Tambang Minyak di Blora

Pengalaman dan Keahlian Belum Cukup

KEAHLIAN mereka punya. Sertifikat pun ada. Pengalaman bekerja cukuplah. Namun untuk mendapatkan pekerjaan di daerahnya sendiri, Forum Pekerja Tambang Minyak dan Gas Bumi Blora terlebih dulu harus menggelar unjuk rasa.

Seperti yang dilakukan Rabu (14/11). Puluhan anggota forum mendatangi gedung DPRD untuk mengadukan nasibnya. Mereka menuntut dipekerjakan di sejumlah proyek pengeboran minyak di Blora.

Anggota forum juga mendatangi sumur lokasi eksplorasi Jepon (JPN-A) di Desa/Kecamatan Jiken. Mereka meminta persiapan pengeboran dihentikan sebelum tuntutannya dipenuhi. Sejumlah pengunjuk rasa itu menekankan, sangat tidak adil jika proyek pengeboran di wilayah mereka justru dikerjakan pihak lain. Sebab secara kualitas, kemampuan teknis pengeboran minyak yang mereka miliki tak jauh beda dari pekerja yang didatangkan perusahaan pemenang tender pengeboran minyak.

Anggota paguyuban yang mempunyai sertifikat itu berjumlah 177 orang. Mereka mendapat sertifikat dari Pusdiklat Migas Cepu. Anggota paguyuban juga sudah berpengalaman mengerjakan proyek pengeboran minyak di banyak daerah, bahkan sampai ke luar negeri. Bukan cuma ahli di darat, mereka juga ahli mengebor minyak di lepas pantai.

Salah seorang tokoh forum, Yusuf, mengemukakan, pengeboran minyak bukanlah pekerjaan sederhana. Karena itu, dibutuhkan keahlian khusus yang ditandai dengan sertifikat. Sertifikat diperoleh jika yang bersangkutan dinyatakan lulus lembaga pendidikan yang diakui kualitasnya secara nasional.

Kemampuan Teknis

Karena itu, dia menyatakan tidak ada alasan perusahaan pengeboran minyak yang beroperasi di Blora tidak mau melibatkan warga lokal. Kemampuan teknis para pekerja Blora, lanjut dia, sudah diakui. Yusuf sendiri masih aktif menjadi pekerja pengeboran minyak di India. "Saat ini saya sedang lepas tugas atau off, jadi pulang. Karena tahu nasib teman-teman di sini, saya ikut berjuang."

Dia sangat menyayangkan sikap perusahaan pengeboran yang tidak mau koordinasi dengan warga lokal. Menurutnya, di sejumlah proyek pengeboran minyak di Indonesia dan juga di banyak negara, seperti Qatar atau negara minyak lainnya, warga Blora bertebaran dan banyak yang menduduki posisi penting.

Imam Purnomo, koordinator aksi, menyatakan dia sebenarnya tidak ingin ribut-ribut. Namun, semua cara yang dia tempuh sudah buntu. Dia menyatakan sudah berkali-kali mendatangi lokasi proyek dan mengutarakan maksud kepada pemimpin pekerjaan itu namun tidak membuahkan hasil. Unjuk rasa untuk mendapat pekerjaan itu, lanjutnya, terpaksa dilakukan. Sebab kalau didiamkan terus, semua proyek pengeboran minyak di Blora akan dilakukan orang luar Blora.

Menyikapi permasalahan ini, DPRD Blora berjanji akan datang langsung ke Manajemen PT Pertamina Region Java di Cirebon yang membawahi manajemen Pertamina di Cepu. Mereka akan mendesak pelibatan tenaga kerja lokal dimasukkan dalam salah satu dokumen tender pelelangan pengeboran minyak.

Ketua DPRD HM Warsit menegaskan, tuntutan warga untuk dipekerjakan dalam proyek pengobaran minyak kali ini harus dipenuhi. Sebab, akan menjadi cerminan di masa yang akan datang. (Abdul Muiz-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA