| Senin, 19 Nopember 2007 | SEMARANG |
"Mengaku Nabi di Mesir Langsung Dipenjara..."SALAT Jumat di Masjid Istiqomah Ungaran kemarin terasa berbeda dari Jumat biasanya. Jika hari sebelumnya imam salat berasal dari Ungaran dan sekitarnya, kali ini imamnya dari Mesir. "Keanehan" lain yaitu ketika mengimami, tamu istimewa tersebut sembari memegang mikrofone di setiap gerakan salat. Ya, Abdel Rahman Kamel Easa, dosen Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, sengaja diundang Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Semarang ke Ungaran. Pria yang sedang mengenakan jubah kebesaran universitas tersebut dikirim Kedutaan Mesir untuk mengajar Bahasa Arab di STAIN Salatiga selama setahun. "Kami sengaja mengundang dia (Abdel Rahman) ke Ungaran sebagai native speaker (pembicara asli) Bahasa Arab ke SD Istiqomah dan SD Assalamah. Ini untuk peningkatan mutu guru Bahasa Arab," kata DR HM Saerozi MAg, Ketua Departemen Kebijakan dan Kajian Pendidikan angota DP Kabupaten Semarang, kemarin. Belum lama ini Saerozi juga membentuk Ittihadul Mudaris Al Lughoti Al Arabiyah (Imla'). Pembentukan Imla' berawal dari rasa keprihatinan bahwa selama ini tidak ada yang membina. Dengan kedatangan Abdel Rahman di Ungaran, guru-guru bahasa ini bisa berdialog langsung. Menurut Ketua Imla' Ustad Abdul Rosyid dari SD Istiqomah, jumlah anggota baru 28 orang terdiri guru Bahasa Arab MI, MTs, SMP Islam, dan SD Islam. "Kedatangan Abdel Rahman ini saya manfaatkan betul agar guru bahasa Arab lebih mahir menerapkannya dan berdialog langsung dengan orang asli Mesir," ucap Saerozi yang juga dosen STAIN Salatiga ini. Abdel Rahman yang kemarin mengenakan jubah kebesaran Universitas Al Azhar menerangkan bahwa di Mesir banyak mazhab. Namun semuanya masih berpegang pada Alquran dan Alhadis. "Kalau ada orang yang mengaku nabi di Mesir langsung dipenjara. Biasanya diberi waktu tiga hari dulu untuk bertobat, kalau tidak bertobat, seumur hidup dipenjara," tandas Abdel yang berasal dari Kozmam, Kalien, Kafilchk, Mesir ini. Rukun Salat Dia ditanya oleh Saerozi apakah saat salat sebagai imam dan memegangi mikrofone dibolehkan? Abdel menjawab bahwa hal itu tidak menjadi persoalan. "Yang penting rukun salat berdiri, rukuk, itidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud terpenuhi, sudah sah," terangnya. Menurut dia, berbagai mazhab bisa hidup rukun dan yang penting tidak menyimpang dari ajaran Quran dan Hadis. Abdel yang hafal Alquran di usia 17 tahun tampak akrab dan tersenyum dengan orang-orang di masjid tersebut. Ia juga menikmati jamuan makan siang berupa oseng-oseng kacang dan tempe. Abdel Rahman yang memiliki istri dan empat anak tiba di Salatiga pada 26 September. (Rony Yuwono-16) |