| Senin, 19 Nopember 2007 | SEMARANG |
Kabul Lestari Penerima Penghargaan PresidenWujudkan Usaha Pertanian Berwawasan AgribisnisGROBOGAN-Raut muka gembira terpancar dari wajah Ali Muchtar Sekretaris Kelompok Tani Kabul Lestari Desa Panunggalan Pulokulon ketika menceritakan keberhasilan kelompok taninya meraih berbagai macam prestasi. Terutama, prestasi nasional yang menghantarkan Kabul Lestari mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara Jakarta Kamis (16/11) lalu. Ditemui di Sekretariat Kabul Lestari Minggu (18/11) pria tersebut menceritakan keberhasilan kelompok tani yang sekarang beranggotakan 75 orang tersebut dimulai dari nol. ''Kelompok tani ini didirikan sejak 1 Mei 1997 dengan jumlah anggota pada awalnya 25 orang. Sekarang sudah bertambah menjadi 75 orang, dengan luas lahan binaan 84,72 hektare,'' kata dia. Sejak awal, menurut Ali Muchtar, Kabul Lestari telah berusaha mewujudkan usaha pertanian berwawasan agribisnis. Karena cara ini dipandang mampu memberikan keuntungan bagi petani sesuai potensi lahan di tempat itu. Pilihan petani jatuh pada pembudidayaan komoditas kedelai varietas unggulan. Meskipun pada musim tertentu, petani tetap menanam padi di luar palawija. Pilihan membudidayakan kedelai varietas unggul membuahkan hasil. Terutama setelah mencoba beragam varietas seperti Taichung, Lokon, Wilis, dan terakhir jenis Malabar Grobogan. Benih unggulan jenis Malabar Grobogan menjadi pilihan terakhir petani. Selain, usia tanamnya relatif pendek (71 hari), biji polong kedelai yang dihasilkannya pun jauh lebih besar dan banyak dibanding menggunakan benih lain. ''Di sisi lain produksi kedelai menggunakan benih jenis Malabar Grobogan juga bisa mencapai 2,5 -3 ton per hektare,'' jelas Ali Muchtar. Diakuinya, potensi produksi yang dihasilkan petani menggunakan Malabar Grobogan melebihi rata-rata produksi nasional yang hanya berkisar 2, 2 ton per hektare Penghargaan Produktivitas kedelai yang lumayan tinggi tersebut menjadi salah satu penyebab Kabul Lestari meraih penghargaan pangan nasional tahun 2007. Selain itu, masih ada penggunaan pupuk organik, dan pemanfaatan sumur resapan yang menjadikan Kabul Lestari dianggap bisa dijadikan contoh bagi kelompok tani lain. Terkait penghargaan ketahanan pangan 2007 melalui pengembangan agribisnis kedelai, Kabul Lestari berhasil menyisihkan ratusan kelompok tani serupa se-Indonesia. Selain kelompok tani asal Grobogan tersebut, masih ada Kelompok Tani Sipakatua Kabupaten Maros Sulsel dan Kelompok Tani Mandala Muda Tasikmalaya Jabar yang meraih penghargaan sama. Bersama pemberian penghargaan dari Presiden dan Menteri Pertanian, kelompok tani itu juga menerima uang pembinaan sebesar Rp 20 juta dari sebuah bank milik pemerintah. (H41-16) |