| Senin, 19 Nopember 2007 | SEMARANG |
Baratan, Tangkapan Nelayan MenurunSEMARANG- Gelombang pasang dan angin kencang yang terjadi pada sore hari menandai awal musim angin barat di kawasan Laut Jawa. Untuk menghindari cuaca buruk itu, nelayan mengurangi jam melaut mereka. Jika pada masa normal mereka mencari ikan dari pagi hingga petang, kini tengah hari para nelayan sudah pulang. Marsono (48), nelayan Tambaklorok menuturkan, kondisi itu berpengaruh terhadap penghasilan. Mereka yang menggunakan perahu kecil hanya bisa memperoleh pendapatan kotor rata-rata Rp 50.000/hari. Padahal pada hari biasa antara Rp 75.000 - Rp 100.000. ''Uang sebesar itu masih harus dipotong untuk bahan bakar minyak tanah. Kalau dihitung penghasilan bersihnya mepet sekali,'' ujar Marsono, Jumat (16/11). Nelayan Tambak Lorok menyebut awal musim angin barat (baratan) itu dengan pucuk labuh. Selain gelombang dan angin besar, pucuk labuh adalah masa sepi ikan. Gelombang dan angin yang terjadi pada sore hari membuat air laut keruh, hingga tak disukai ikan laut. Malam Hari Sebagian nelayan, lanjut dia, memilih melaut pada malam hari. Mereka berangkat selepas isya dan pulang subuh. Itu dilakukan untuk mencari pendapatan tambahan dari menangkap udang. ''Siang hari tangkapannya cuma rajungan. Kalau malam ada juga udang.'' Serma Imam Mahmudi dari Pos Potensi Maritim TNI AL Tambaklorok mengatakan hal serupa. Gelombang pasang dan angin kencang sore hari sudah berlangsung sekitar dua pekan. Masa sulit ikan itu, kata Imam, akan berlangsung sampai musim baratan mencapai puncaknya, sekitar bulan Desember-Januari. Gelombang besar yang relatif intens akan membawa ikan dan binatang laut dari tengah ke tepi. ''Saat itu, nelayan akan panen. Namun mereka harus hati-hati, karena tinggi gelombang bisa mencapai 1,5 meter sampai 2 meter. Pantauan Suara Merdeka di Pantai Tambaklorok, kemarin, perahu nelayan beriringan pulang menjelang tengah hari. Itu mereka lakukan untuk menghindari angin dan gelombang pasang sore hari.(H6-18) |