logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Perlu Digagas ''Pitway'' di Semarang

  • Pengendara Sepeda Butuh Jalur

BALAI KOTA - Kota Semarang dinilai tidak ramah bagi pengendara sepeda. Infrastruktur di ibu kota Jawa Tengah ini tidak mendukung. Lebih jauh lagi, tidak ada infrastruktur penunjang, berupa jalur khusus bagi pengendara. Hal itu disampaikan Koordinator Bike to Work (B2K) Chapter Semarang, Firman Wahyudi, belum lama ini.

Dikatakannya, keberadaan ''pitway'', atau di Jakarta dikenal dengan nama bike lane, merupakan salah satu sarana pendukung untuk memasyarakatkan gerakan bersepeda ke tempat kerja (bike to work).

''Jalur khusus untuk pemakai sepeda itu, terutama diperlukan pada kawasan-kawasan dengan pemakai sepeda dengan jumlah yang cukup banyak. Misalnya, dari arah Mranggen menuju kota,'' kata Firman.

Minggu (18/11) kemarin, Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan B2W mengadakan kampanye tentang pemanasan global dan perubahan iklim, dengan bersepeda keliling kota.

Kegiatan itu berkait dengan ''Bicycle for Earth Goes to Bali'', bersepeda menuju Bali, dalam rangkaian pelaksanaan Konferensi PBB mengenai perubahan iklim, United Nation for Climate Change Conference (UNFCCC), 13ñ14 Desember.

Budaya Bersepeda

Selain keberadaan jalur khusus, Firman mengatakan, perilaku warga Kota Semarang di jalan raya juga kurang mendukung bagi budaya bersepeda. Menurut dia, para pemakai jalan umumnya cenderung mengabaikan atau bahkan merendahkan pemakai sepeda. ''Perilaku pengendara mobil atau sepeda motor yang cenderung ugal-ugalan di jalan, membuat pemakai sepeda di Semarang tak begitu aman,'' ujarnya.

Di sisi lain, Firman menyorot, kelengkapan fasilitas pendukung di perkantoran yang ada di Kota Semarang, bagi pengendara sepeda. Masih banyak kantor atau instansi, yang tidak memberikan tempat parkir khusus bagi mereka. ''Di Balai Kota, umpamanya, saya terpaksa menaruh sepeda sembarangan, di sela-sela sepeda motor dan mobil, akibat ketiadaan tempat parkir khusus,'' tutur Firman.

Di sisi lain, gedung-gedung perkantoran juga harus menyediakan tempat mandi, bagi pegawainya yang melaksanakan bike to work. ''Soalnya, sehabis bersepeda kan kringetan. Jadi perlu mandi dulu sebelum masuk kantor,'' imbuhnya. Karyawan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) itu mengakui, dari sisi tipografi Kota Semarang memang tidak begitu cocok dengan pengendara sepeda. Kondisi alam berupa kota atas dan kota bawah menyulitkan pelaksanaan itu. ''Namun, untuk mereka yang tinggal di kota bawah, saya kira tidak ada halangan untuk bike to work. Apalagi, jika kita punya kemauan untuk itu.'' (H9,H12-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA