logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 19 Nopember 2007 INTERNASIONAL
Line

Kuliah di Kairo untuk Jadi Intel

KAIRO - Setelah serangan 11 September 2001 di New York, minat para mahasiswa Amerika Serikat untuk belajar mengenai Timur Tengah justru meningkat. Para dosen di American University di Kairo menyebut para mahasiswa itu ''anak-anak 11 September''.

Universitas yang terletak di jantung ibu kota Mesir itu memang menjadi tempat studi para mahasiswa asal Amerika Serikat. Didorong oleh rasa ingin tahu tentang serangan terhadap World Trade Center itu, ratusan mahasiswa Amerika kini sedang menggeluti topik Timur Tengah, belajar bahasa Arab, dan mempelajari Islam. Dan, jangan minat studi itu juga didorong keinginan mereka untuk meniti karir di dunia intelijen atau diplomasi. Jumlah mahasiswa Amerika di universitas itu meningkat tiga kali lipat sejak 2002. Tahun ini, jumlah mahasiswa mencapai rekor lebih dari 400 orang.

''Mereka datang dari berbagai latar belakang dan usia,'' kata Kim Jackson, pembantu rektor bidang kemahasiswaan internasional. ''Ada mahasiswa dari Akademi Angkatan Laut AS dan AU. Juga ada beberapa marinir yang menempuh studi di sini.''

Universitas yang kondang dengan julukan Kampus ABC itu adalah salah satu kampus terpopuler di kawasan itu. Namun, lembaga-lembaga pendidikan bahasa juga ikut menikmati dampak positif meningkatnya mahasiswa asing itu.

Di Pusat Bahasa Arab Fajr di Kairo, peserta kursus meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 400 orang setelah serangan 11 September. Perang Irak juga makin mendongkrak jumlah siswa.

Ingin Mengenal

Natasha George, mahasiswa berusia 38 tahun dari Texas, memutuskan kuliah di ABC di Kairo setelah kakaknya Michael ditugaskan ke Irak oleh Angkatan Udara AS. ''Saya ingin memahami bagaimana negara bisa bersikap menginvasi negara lain tanpa alasan yang nyata,'' kata dia. ''Saya ingin tahu dengan mata kepala sendiri. Saya tidak percaya pada informasi dari laporan media massa Amerika.''

Kebanyakan mahasiswa mengatakan, mereka datang ke Timur Tengah untuk berusaha mengerti perasaan marah warga kawasan itu terhadap kebijakan-kebijakan Amerika. Sebagian besar mengatakan, dunia Arab tidak sekejam dan sengeri seperti sering diberitakan media AS. (rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA