| Senin, 19 Nopember 2007 | EKONOMI |
1,7 Juta Ton Jagung Masih Harus ImporJAKARTA-Potensi jagung Indonesia amat menjanjikan. Sayangnya lahan yang tersedia belum dimanfaatkan optimal untuk tanaman pangan berumur 3 bulanan ini. Akibatnya kebutuhan pakan ternak pun harus impor. Dari kebutuhan jagung untuk ternak setahun 21 juta ton, sekitar 1,7 juta ton masih impor. ''Selama jagung masih impor, industri poultry (ternak unggas) dalam negeri tidak akan kuat. Kita kekurangan gizi dan kalah dengan negara tetangga,'' kata Ketua Dewan Jagung Indonesia, Anton Supit, di Jakarta, kemarin. Anton yang juga Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (Gappi) saat ini sedang mendorong masyarakat Sulawesi Utara untuk bertani jagung. Tujuannya, selain menutup impor juga berpeluang diekspor untuk menutup kekurangan jagung di Malaysua, Thailand, Taiwan, dan negara lain. Untuk menutup kebutuhan jagung lokal sebanyak 1,7 juta ton diperlukan lahan 100.000 ha. Investasinya sekitar Rp 1,5 triliun dan keuntungan sekitar Rp 450 miliar (30%). ''Kami memulai dari Sulawesi Utara dan siap membantu siapa saja yang ingin investasi di sana,'' kata pengusaha kelahiran Manado ini (wa-33) |