| Senin, 19 Nopember 2007 | EKONOMI |
FILOBISLakshmi Narayan Mittal Mengguncang Eropa dengan BajaTAK banyak orang di negeri ini yang mengenal Lakshmi Narayan Mittal alias Lakshmi Niwas Mittal. Kalaupun tahu, tak banyak yang sadar kalau sosok ini punya keterkaitan kuat dengan negeri kita. Lakshmi N Mittal (57) adalah seorang konglomerat pendiri perusahaan baja Mittal Steel Incorporation. Dia boleh jadi hanya salah satu dari jutaan warga India perantauan yang sukses membangun peruntungannya di negeri orang. Pria yang lahir 15 Juni 1950 di Sadulpur, Distrik Rajashtan, India ini, awalnya hidup dari keluarga miskin. Di rumahnya yang sempit dan hanya berlantai ubin, tinggal 20 anggota keluarga besar Mittal. Mereka tidur berjejalan di atas tempat tidur tali dan memasak di tungku bata di luar rumah. Nasib keluarga dari kasta Marwari -di India biasanya menjadi pedagang atau rentenir- ini baru membaik, setelah pindah ke Calcutta. Saat itu ayah Lakshmi Mittal, Mohan Mittal, dipercaya menjadi mitra pada sebuah perusahaan baja lokal. Mittal yang dikenal sebagai siswa cerdas, terutama dalam berhitung itu, kemudian bergabung dalam perusahaan ayahnya setamat dari St Xavierís College. Namun karena pertengkaran dengan ayah dan saudara-saudaranya, Mittal kemudian memutuskan memulai usahanya sendiri. Di usinya yang ke-26, dia mengawali bisnisnya dengan hijrah ke Indonesia bersama istrinya, Usha. Ia tiba di Waru, Surabaya pada 1976 dan membangun perusahaan pertamanya yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Mittal Steel, Ispat Indo. Ispat yang bermakna baja dalam bahasa Hindi, merupakan bisnis Mittal muda yang selalu dia catat dalam sejarah. Dia menyadari kehadirannya di Indonesia itu, menjadi awal kerajaan bisnis bajanya di dunia. Sepak terjangnya di dunia baja tak kalah cerdiknya dibanding pengusaha baja di daratan Eropa ataupun Amerika. Ia melakukan lompatan sejarah tahap demi tahap dengan mengakuisisi sejumlah industri baja di berbagai negara. Salah satu sukses besar Mittal yang pertama dan fenomenal, ketika ia mengakuisisi dan menyulap BUMN baja Trinidad-Tobago yang merugi menjadi perusahaan sehat dan sangat menguntungkan pada akhir 1980-an. Dalam setahun, Mittal mengubah industri yang rugi 1 juta dolar AS per hari itu, menjadi ladang uang yang menguntungkan. Langkah ini belum pernah dapat dilakukan para ahli dari Amerika Serikat dan Jerman. Kesuksesannya itu, tak hanya berhenti di situ. Ia melakukan hal serupa terhadap industri baja Meksiko pada 1992, dengan mengakuisisi perusahaan baja Sicartsa, salah satu industri baja terbesar di dunia. Lagi-lagi, pria yang kini tinggal di Kensington Palace Gardens di London, kawasan yang dikenal sebagai kompleks para jutawan dunia itu, kembali mengagetkan dunia dengan mengakuisisi industri sejenis di Kanada, Jerman, Irlandia, dan berbagai negara lain. Tak Cukup Untuk semakin mengukuhkan dominasinya di pasar global, sejak Januari, Mittal mulai agresif mengincar Arcelor yang merupakan pesaing terdekatnya. Ambisi mengakuisisi Arcelor menjadi "pertarungan berdarah" bagi Mittal. Proses akuisisi yang berlangsung alot selama lima bulan menjadi berita terpanas media bisnis. Kesuksesannya membawa Mittal menduduki peringkat ke-5 orang terkaya dunia versi majalah Forbes, setelah Bill Gates, Carlos Slim, Warren Buffett dan Ingvar Kamprad. Mansion Mittal adalah rumah termahal di dunia. Dia membeli rumah dengan 12 kamar tidur itu dari juragan balap F1, Bernie Ecclestone, seharga 128 juta dolar AS pada 2004. Dua anaknya, anggota dewan direktur di Mittal Steel. Istrinya Usha, menjalankan bisnis baja keluarga di Indonesia. Tak seperti Bill Gates dan Buffet yang berasal dari negeri makmur, Mittal adalah warga sebuah negeri yang ratusan juta warganya hidup dalam kemiskinan. Maka sepak terjangnya lebih menjadi sorotan, termasuk ketika ia memutuskan menjadi warga Kensington Palace. Kecaman dan cacian segera bermunculan dari negeri asalnya, ketika ia menjadi pemilik rumah termahal di dunia. Orang-orang membandingkan nilai rumahnya dengan kebutuhan hidup jutaan manusia di India. Dia menyadari, kekayaan saja tak cukup bagi Mittal untuk menjadi warga terhormat. Kemudian dia menyalurkan kekayaannya untuk orang miskin melalui berbagai yayasan di dunia, salah satunya Yayasan LNM Group yang memberikan bantuan di bidang pendidikan dan kesehatan bagi orang-orang miskin, terutama di India. (Istolia W Wardani, Pusdok SM-33) |