| Senin, 19 Nopember 2007 | EKONOMI |
Belanda Lirik Potensi BiofuelJAKARTA-Belanda berencana membangun pabrik palm oil refinery di Indonesia yang akan memproduksi energi alternatif biofuel. Proyek investasi itu menjadi bagian dalam peningkatan kerja sama bidang energi dalam prospek jangka panjang. Demikian diungkapkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam rilis usai mengunjungi negara tersebut beberapa waktu lalu. Mari mengungkapkan kedua belah pihak akan memperbaiki kerja sama perdagangan yang terus meningkat selama lima tahun terakhir. ''Belanda mempunyai peran sebagai mitra strategis yang memiliki nilai historis dengan Indonesia. Kerja sama ekonomi ini diperkuat melalui peningkatan pemberian bantuan teknis dan capacity building. Khusus di bidang energi, Belanda sangat berkeinginan mengembangkan energi biofuel dari palm oil. Untuk itu, Belanda akan membangun pabrik palm oil refinery di Indonesia,'' katanya. Di samping itu, pertemuan kedua menteri perdagangan, yakni Mari Elka Pangestu dan Menteri Perdagangan Luar Negeri Belanda F Heemskerk juga menyepakati peningkatan promosi perdagangan dan investasi kedua negara. Selain itu, penerapan corporate social responsibility di kalangan pengusaha. Meningkat Promosi perdagangan produk Indonesia, lanjut Mari, berkenaan dengan ekspor beberapa komoditi, yaitu tekstil dan produk tekstil, agro, handicraft, accessories, furniture, hasil-perkebunan (kopi, teh, CPO, coklat dan karet), serta makanan olahan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ekspor nonmigas Indonesia ke Belanda mengalami peningkatan sebesar 12,75% per tahun, yaitu dari 1,6 miliar dolar AS pada 2002 menjadi 2,3 miliar dolar AS tahun 2006. Ekspor utama Indonesia, meliputi kelapa sawit, kakao, ikan dan udang, mebel dan produk kayu, dan beberapa produk manufaktur, seperti pakaian jadi dan alas kaki. Dalam hal impor, jelas Mari, cenderung meningkat dengan tren 7,90% per tahun. Tahun 2006 nilai impor mencapai 515,4 juta dolar AS atau naik sebesar 39,64% dibandingkan tahun 2005 yang mencapai 369,1 juta dolar AS. Semua produk yang diimpor Indonesia, antara lain makanan, paperboard, susu dan cream. Melihat potensi bisnis keduanya, Mari berharap eksporter, Indonesia dapat meningkatkan kualitas produknya, seperti alas kaki dimana dominasi China mulai melemah. ''Saya juga mendorong agar G-to-G contact (hubungan antarpemerintah) dapat juga didukung hubungan people to people (antarmasyarakat) dan business to business contact (hubungan bisnis),'' katanya. (J10-33) |