logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 18 Nopember 2007 OLAHRAGA
Line

OFFSIDE

Pesta yang Cepat Berlalu

  • Oleh: Ananto Pradono

BABAK penyisihan untuk Euro 2008 belumlah usai. Karenanya, Pra-Piala Dunia (PPD) 2010 di Zona Eropa belum bisa dimainkan. Ketika negeri-negeri di kawasan itu mulai berebut tiket ke Afrika Selatan, bisa jadi hati masyarakat sepak bola Indonesia bertambah pedih.

Dipastikan siaran-siaran langsung televisi seakan tak kenal henti, seperti dalam Pra-Piala Eropa. Belum lagi perlakuan yang sama pada ajang serupa di Amerika Selatan, yang telah dimulai sekitar sebulan lalu. Dan posisi kita, paling hanya bisa menjadi penonton tanpa punya angan pada timnas.

Gambaran anak-anak asuhan Ivan Kolev tersingkir pagi-pagi begitu jelas. Suriah ternyata mampu menunjukkan diri sebagai standar tim Timur Tengah, sekalipun belum punya liga profesional.

Kedatangan mereka dalam PPD tahun ini, mengulang kenangan 23 tahun silam. Berlaga di Stadion Sriwedari dan Stadion Utama Senayan untuk mengikuti babak prakualifikasi Piala Asia 1984, mereka mencatat hasil bagus. Saat itu Indonesia yang diwakili PSSI Garuda (pasukan U-23) dikalahkan 1-2. Suriah menjadi salah satu tim yang lolos dalam babak penyisihan yang menggunakan format home tournament tersebut.

Data historis yang seakan dilupakan itu, menjadikan mereka dianggap tak sepadan dengan Bahrain dan Arab Saudi, dua negara Asia Barat yang satu grup dalam putaran final Piala Asia 2007.

Ternyata, Suriah cerdik membombardir Ponaryo Astaman cs dengan serangan sayap yang tak diikuti umpan silang lambung mengarah ke kotak penalti, khas tim yang punya keunggulan postur.

Markus Horison yang dulu dipuji sebagai jago mengantisipasi bola-bola atas, kehilangan tajinya, karena memang lawan tidak mengoptimalkan bola-bola lambung. Markus yang pernah jadi hero, berbalik menanggung beban sebagai penyebab utama kekalahan. Padahal, sebenarnya memang kualitas keandalan yang dimiliki tidak cocok dalam mementahkan strategi perrmainan lawan.

Mereka mengandalkan serbuan dari lini kedua memanfaatkan bola diagonal ke belakang, yang ditarik dari sayap. Konsistensi permainan yang memang berbeda dengan gaya Arab Saudi dan Bahrain dalam Piala Asia lalu, menjadikan Indonesia bulan-bulanan.

***

Leg kedua yang bakal dimainkan siang hari waktu Damaskus, hari ini, jadi seperti mission impossible. Susah membayangkan mereka bisa mencetak hasil agregat positif, setelah ditumbangkan 1-4. PSSI pun tidak memberi kesempatan pada pasukan senior untuk memperbaiki penampilan. Jadilah pertandingan itu seperti ulangan Pra-Piala Asia 1984, saat tim senior Suriah menghadapi pasukan U-23 Indonesia. Alasannya, sebagai pematangan karena mereka bakal berlaga dalam SEA Games.

Risiko cedera rupanya dikesampingkan Badan Tim Nasional. Apalagi, sebenarnya itu hak para pemain timnas senior dalam memperbanyak jam terbang dan rekor membela nama bangsa.

Sebenarnya persiapan PSSI dalam Pra-Piala Dunia memang tak terkonsep matang. Mereka tidak menyadari, luka yang ditimbulkan dari kegagalan itu begitu dalam.

Gelora patriotik suporter yang mewujud dalam Piala Asia, bakal perlu waktu lama untuk terulang. Pesta seakan cepat berlalu, karena memang event yang sangat ditunggu, babak grup PPD 2010, di atas kertas tak bisa diikuti.

Keunggulan 4-1 di kandang lawan membawa sebelah kaki Suriah sudah melangkah ke babak grup, yang nantinya diikuti 20 kesebelasan untuk berebut empat tiket langsung ke Afsel. Satu tim lainnya bakal memainkan babak playoff dengan juara Oceania.

Ketika 20 negara Asia, kemungkinan Thailand dan Singapura berada di dalamnya, berlaga dalam fase seru itu, kita hanya menjadi penonton. Sementara stasiun televisi kita menyiarkan langsung PPD di Eropa dan Amerika Selatan, yang baru berakhir 2009.

Fatal benar kegagalan di tahap sebelum penyisihan grup. Itulah dampak nyata dari kepemimpinan yang dijalankan dari balik terali besi. Dari sisi teknis persiapan, juga terasa para pemain timnas senior tak digembleng matang seperti para pemain U-23 yang dibawa ke Argentina. Kolev pun sampai harus menunggui tim itu di Buenos Aires, daripada menunggui para pemain senior di dalam negeri.

Harusnya, PPD yang jadi fokus utama, bukan SEA Games. (*-22)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA