logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 18 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Batas Kesenimanan


BEBERAPA minggu lalu, Mas Celathu ngrasani di kolom ini bahwa penjara bukan lagi tempat angker yang bikin kapok para pelanggar hukum. Minggu ini, demi mendengar berita keterperosokan Roy Marten untuk kali kedua di lubang yang sama, Mas Celathu makin kenceng geleng-geleng kepala.

Makin sulit dipahami, karena ternyata penjara memang bukan pembuat jera. Malah jadi sekolah "terbaik" untuk segala macam pelanggaran hukum. Bukan hanya perkara nyolong-jupuk, melainkan juga termasuk bisa menyempurnakan ketololan dalam penyalahgunaan narkoba.

Bahkan, ini yang sangat memprihatinkan, penjara justru jadi pusat peredaran narkoba. Bagaimana mungkin kawasan yang terkunci rapat dengan tembok tebal berlapis-lapis dan diawasi selama 24 jam sehari itu bisa menjadi sentral pengendali transaksi barang haram? Sungguh ganjil. Sulit diterima akal normal.

Mas Celathu yang tergolong pemuja harmoni tentu tidak ingin menuduh ada permainan alias kongkalikong antara yang menjaga dan yang dijaga. Kalau menuduh, salah-salah bisa dianggap memfintah. Bisa kena somasi. Mas Celathu hanya mempersilakan siapa saja untuk mengembangkan fantasi dan imajinasi.

Silakan setiap benak manusia Indonesia membayangkan apa yang kira-kira sedang terjadi di dalam bui pada hari ini. Mas Celathu menjamin, jika imajinasi dilaksanakan secara baik dan benar, niscaya akan terbayangkan betapa jorok sistem hukum kita.

Dikategorikan jorok lantaran hal-hal yang paling menjijikkan pun bisa berlangsung di depan mata secara terang-terangan.

Dulu, pemeo menyebutkan, seakan-akan hanya keledai yang bisa kecemplung berkali-kali di lubang yang sama. Namun, berkat kenaikan pamor penjara, seorang pesohor beken yang pada tahun 70-an sangat dikagumi khalayak, bisa benar-benar jadi "keledai". Penjara, lagi-lagi, disalahpahami sebagai terminal untuk mempertinggi popularitas yang paling bergengsi.

Mas Celathu makin dalam mengelus dada. Bagi dia, peristiwa itu tak hanya memamerkan keapesan nasib sang bintang. Namun, juga memperlihatkan bagaimana sebuah kemunafikan bisa terselenggara dengan baik, mengingat sehari sebelumnya Roy Marten jadi jurkam gerakan antinarkoba.

Tidak tanggung-tanggung, dia datang ke Surabaya bersama Direktur Badan Narkotika Nasional (BNN), sebuah lembaga yang paling bertanggung jawab mencegah dan memberantas narkoba. Dengan fasih dia memperingatkan supaya orang tidak terjerumus mengikuti jejak dan sejarah buruknya.

Namun nasi telah menjadi bubur. Hujan telah menjadi banjir. Busway telah menjadi kemacetan. Dan semua orang kecewa karenanya. Mas Celathu juga. Apalagi keluarganya, Mbak Anna Maria yang begitu sabar dan mencintai sang suami, juga anak-anaknya. Abangnya, adik-adiknya. Para fansnya. Juga orang-orang yang menanam harapan dan telah memaafkan kesalahannya pada masa lalu. Sulit rasanya memulihkan kepercayaan dan harapan.

"Makanya, Bapak mbok cari kerja yang lain. Nggak usah terus-terusan jadi tukang akting. Kalau apes, nanti bisa kayak Roy Marten," Jeng Genit, anak bungsu Mas Celathu yang sangat doyan nonton infotaiment, langsung melancarkan gugatan kepada ayahnya.

"Jadi guru atau apa gitu. Om Roy nyabu kan biar aktingnya bagus," serbuan Jeng Genit masih dilanjutkan. Wualaaah. Modaaar. Mas Celathu yang juga sama-sama pengecer jasa akting jadi ikut kena getah. Korpsnya ikut keslomot.

"Lho, akting dan narkoba itu nggak ada hubungannya, Dik," kilah Mas Celathu.

"Nggak ada gimana? Lha wong Om Roy bilang, pake narkoba karena sudah tua dan biar kuat kerja. Kuat syuting, kuat aktingnya. Dia ngaku begitu kok."

Apa boleh buat. Pemahaman Jeng Genit tidak bisa dipersalahkan. Mungkin masyarakat pun berpandangan sama. Bahwa jagat seni peran dan dunia kerja yang bersinggungan dengan kesenian selalu dipersepsikan seakan-akan sangat dekat dengan perkara haram itu. Terlebih fakta yang digelembungkan industri media massa memang begitu. Apalagi sebelumnya nama-nama lain dari sektor dunia hiburan seperti penyanyi, pesinetron, pemusik, dan pelawak lebih dahulu mempertegas keyakinan publik tentang salah kaprah pemanfaatan narkoba itu.

Mas Celathu seperti kehabisan kata-kata. Setiap kali dia berusaha menjelaskan, langsung terbantahkan. Jeng Genit hanya menjawab dengan sinis.

Mas Celathu tak bisa lagi ber-celathu. Mulutnya laksana terkunci. Begitulah repotnya jika kesenian, juga dunia profesi apa pun, dijadikan kedok untuk mendapatkan pembenaran dari sebuah penyimpangan. Dalam perkara begituan, Mas Celathu selalu ngotot melawan. Dia seperti ingin mengubah persepsi keliru, seakan-akan seniman selalu bebas nilai. Makhluk yang selalu suka-suka hati. Sak karepe dhewe.

Mas Celathu yang ge-er punya prestasi di jagat seni berulang-ulang bilang, seniman hanyalah orang biasa. Begitu pun kesenimanan. Membebaskan diri dari ukuran dan nilai sosial hanya boleh terjadi di ruang privatnya. Hanya di studio kreatifnya. Yaitu pada saat sang seniman mengolah kreasi.

Pada saat seperti itulah, ego kesenimanan boleh dimanjakan dengan militan. Pelukis boleh bebas hanya di depan kanvas. Teaterawan di panggung. Sastrawan saat mengedit naskah. Pemusik ketika mengaransemen komposisi. Penari saat membikin koreografi.

Namun, begitu keluar dari medan kreatif, seniman ya harus tahu diri. Harus kembali jadi makhluk sosial biasa yang jika menebus obat di apotek ya harus bayar. Menyekolahkan anak ya pakai ongkos. Makan di restoran ya mesti merogoh kocek dan merelakan rupiahnya berpindah tangan. Dengan begitu, mengonsumsi narkoba tidak bisa dijadikan pembenaran kesenimanan seseorang, karena itu sama sekali tak berhubungan dengan kreativitas seni. Jadi, kesenimanan pun tetap ada batas-batasnya.

Mas Celathu sebenarnya hanya ingin menjelaskan hal itu. Pelanggaran hukum dan pengkhianatan sosial itu tak berurusan dengan dunia profesi seseorang. Namun lebih disebabkan oleh kualitas moral manusianya. Kuat godaan atau kagak. Cuma itu.

Sebab, yang bernama kesempatan selalu mengikuti setiap prestasi dan keberhasilan sebuah pencapaian. Seseorang duduk di kursi yang tinggi, langsung dihadapkan pada kesempatan dan peluang korupsi. Karena itulah, orang yang semula disangka bersih seperti profesor, aktivis LSM, ulama, rohaniwan, guru sembahyang, pendidik, bisa juga tergelincir ke jalan sesat. Begitu pun seseorang yang memetik ketenaran akan langsung dipertemukan dengan ancaman berupa kemungkinan penyimpangan: perselingkuhan, narkoba, dan sebangsanya.

Ambruknya moralitas - entah berupa penyalahgunaan narkoba, korupsi, pencurian, pembunuhan, atau pelecehan seksual - bisa terjadi karena manusianya. Bukan profesinya.

Namun, memang bukan perkara mudah mengubah persepsi. Termasuk pada Jeng Genit. Monolognya pagi ini di kolom ini, batin Mas Celathu, moga-moga bisa membantu meluruskan pemahaman orang tentang seniman dan kesenimanan. Dan membantu pemahaman Jeng Genit atas profesi sang ayah yang selalu mengecerkan seni akting. (53)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA