| Minggu, 18 Nopember 2007 | NASIONAL |
Korban Tewas Topan Sidr Menjadi 2.000 Jiwa
DHAKA - Korban tewas akibat badai Sidr yang menerjang Bangladesh meningkat menjadi 2.000 orang dan dikhawatirkan masih akan terus bertambah. Kapal-kapal militer didukung armada helikopter berupaya mengevakuasi ribuan korban yang terperangkap di daerah bencana. Topan Sidr menghantam kawasan pantai selatan negeri itu Kamis malam lalu dengan kecepatan 250 km per jam. Angin topan mengakibatkan gelombang pasang setinggi lima meter. Badai tersebut termasuk badai terkuat sejak badai 1991 yang menewaskan sekitar 143.000 orang di Bangladesh. Kapal-kapal Angkatan Laut Bangladesh menyisir kawasan pantai untuk mencari ratusan korban yang dilaporkan hilang. Para prajurit AL juga membersihkan aliran sungai-sungai yang tersumbat bangkai-bangkai kapal. Sementara itu, helikopter-helikopter mulai mengirim bantuan makanan, air bersih dan obat-obatan di daerah bencana. ''Kami di sini untuk membantu kalian. Kalian tidak usah mendekat supaya kami bisa mendarat dengan aman,'' kata pilot helikopter memperingatkan warga Distrik Barisal di Mathbaria. Sebab, ratusan warga terlihat tak sabar hendak mendekat ke arah helikopter. Jumlah korban tewas versi pemerintah Sabtu kemarin mencapai 1.070 orang. Namun, Kementerian Urusan Bencana menyatakan jumlah korban sangat mungkin akan bertambah. Stasiun televisi ATN Bangla memperkirakan korban tewas mencapai 2.000 orang. ''Kami butuh waktu beberapa hari lagi untuk pencarian dan mendata jumlah korban serta kerusakan,'' kata pejabat Kementerian Bencana Ayub Miah. Pohon-pohon yang tumbang memblokir jalan-jalan sehingga menghambat upaya petugas bantuan. Pemimpin pemerintahan interim Fakhruddin Ahmed menginstruksikan kepada para petugas untuk memakamkam jenazah secepat mungkin guna menghindari wabah penyakit. Angkatan Laut Amerika Serikat dikabarkan sudah siap mengirim dua kapal beserta helikopter untuk membantu tim evakuasi dan bantuan. Namun, Menteri Luar Negeri Touhid Hossain mengatakan belum menerima tawaran resmi dari AL AS. Warga di kawasan bencana Sabtu kemarin kembali dari tempat-tempat pengungsian ke permukiman mereka. Permukiman tersebut kini tinggal puing-puing berserakan. ''Di mana rumahku? Di mana keluargaku?'' ratap seorang nenek di samping reruntukan rumahnya di Desa Mathbaria. ''Bagaimana kami bisa hidup sekarang?'' teriak seorang perempuan lain. Di beberapa daerah, penduduk terserang diare. ''Kami sangat membutuhkan bantuan makanan dan air bersih,'' kata seorang warga desa. Petugas Palang Merah mengatakan, sekitar 1.000 nelayan dan sekitar 150 kapal nelayan di Teluk Bengali masih belum diketahui nasibnya.(rtr-gn-25) | ||||