| Minggu, 18 Nopember 2007 | SEMARANG |
Pertemuan Forum Penulis Surat Pembaca Suara Merdeka''Kok Tulisan Saya Nggak Dimuat-muat?''SAAT segudang keluhan dan uneg-uneg soal pelayanan publik yang mengecewakan terlontar dan tak ada tanggapan, kira-kira apa yang bisa dilakukan? Ya, rubrik Surat Pembaca Suara Merdeka rupanya mampu menjadi alat yang ampuh untuk memfasilitasi berbagai masalah sehari-hari. Ketika sebuah kritik atau keluhan terpampang di Suara Merdeka, biasanya pihak yang dikeluhkan akan segera menanggapi atau memberi jawaban. Setelah mendapat tanggapan-yang entah memuaskan atau tidak-pihak yang dikecewakan segera mengirim pemberitahuan di koran bahwa masalah tersebut telah diselesaikan dengan baik. Apakah hanya selesai sampai di sini? Ternyata tidak, karena rasa saling memiliki antarpenulis surat pembaca semakin dikuatkan dengan keberadaan Forum Penulis Surat Pembaca (FPSP). Keinginan untuk menyamakan persepsi dalam menulis dirasa forum yang beranggotakan sekitar 60 orang berasal dari berbagai latar belakang ini, dirasa cukup penting. Guyub Rasa guyup dan kebersamaan nampak jelas terlihat saat pertemuan anggota di Aula Suara Merdeka Jl Pandaran 30, Sabtu (17/11). Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Sasongko Tedjo mengungkapkan, surat pembaca merupakan sebuah wadah untuk menyalurkan komplain atau keluhan terhadap pelayanan publik. ''Bukannya lebih banyak beropini di Surat Pembaca, karena jika memang demikian maka sebenarnya penulis ini bisa diarahkan untuk menulis sesuatu yang lebih berbobot, seperti kolom Wacana baik nasional maupun lokal.'' Sejak dimulai pukul 09.30 WIB sampai 13.00 WIB, anggota FPSP banyak mendapatkan masukan dari Redaktur Pelaksana Sudarto dan Redaktur Wacana Sri Humaini, tentang kebijakan redaksional di SM dan informasi soal tips bagaimana penulisan opini yang baik. Anggota FPSP yang datang dari berbagai daerah di Jateng memberikan banyak masukan, kritik dan tentunya pertanyaan. Seperti Supriyadi dari Kaliwungu yang berharap alamat di surat pembaca tidak usah dicantumkan saja, atau Roto dari Temanggung yang berharap wacana cukup di satu halaman dan tidak bersambung ke halaman lain. ''Kok tulisan saya nggak dimuat-muat, padahal sudah banyak yang dikirim tapi tak lolos,'' imbuh Roto. (Modesta Fiska-41) |