| Sabtu, 17 Nopember 2007 | WACANA |
UKSW, Kampus Lokal dengan Citarasa GlobalKAMPUS besar tak harus berada di kota besar. Tengoklah Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Meski berada di kota kecil, gaungnya mendunia. Pendek kata, UKSW merupakan kampus lokal dengan citarasa global. Tak sedikit mahasiswa asing yang ngangsu ilmu di kampus tersebut, antara lain dari Korea, China, Malaysia, Filipina, Thailand, Australia, Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Kampus ini juga sering mengadakan seminar atau konvensi bertaraf internasional, minimal sebulan sekali. Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian, Prof Daniel D Kameo PhD, meski berada di kota kecil, aktivitas UKSW melampaui batas-batas geografis. Ia menyebut sederet indikator, sekitar 60 persen tenaga pengajar pernah menempuh studi di luar negeri. ''Kuliah di luar negeri tak sekadar mendapat ijasah lalu pulang. Tetapi sekaligus membangun jaringan,'' ujarnya. Semula hanya personal, na-mun berkembang menjadi jaringan antarperguruan tinggi. Kini, UKSW menjalin hubungan dengan puluhan perguruan tinggi di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Bentuk kerja sama ini beragam, mulai dari pertukaran mahasiswa atau kerja sama penelitian. ''Ini menjadi corak lain dari internasionalisasi kampus. Beberapa dosen kami menjadi dosen tamu di beberapa universitas bergengsi di Amerika, Eropa, dan Australia,'' tambahnya. Kesamaan Interest Kameo menyatakan, idealnya kampus berada di kota kecil. Ia menceritakan pengalaman menempuh S3 di New England University, Australia. ''Lokasi kampus di kota kecil bernama Armidale, sekitar 500 km dari Sidney. Arealnya termasuk kawasan country atau pedesaan. ''Nyaman belajar di sana. Tak ada kemacetan atau kebisingan. Klub malam atau kafe sangat jarang. Yang ada hanya seminar, konvensi, dan penelitian,'' jelasnya. Banyak faktor yang membentuk UKSW sebagai kampus lokal dengan citarasa global. Salah satunya adalah akumulasi pengalaman selama 51 tahun. Selain itu, aktif menjalin relasi sebanyak-banyaknya dengan perguruan tinggi luar negeri. Bagaimana cara menjalin hubungan dengan kampus asing? ''Umumnya mereka bersedia jika memiliki kesamaan interest di bidang tretentu. Misalnya UKSW berniat mengembangkan mikrobiologi, lalu ada kampus asing yang memiliki minat serupa. Maka dilakukanlah kerja sama,'' tambah Kameo. Cara lain dengan menawar-kan sesuatu yang dibutuhkan orang asing. Direktur La-nguage Training Center UKSW, Frances L Sinanu, mengatakan banyak peneliti asing yang berminat belajar bahasa Indonesia. Ini direspon dengan membuka pelatihan bahasa. ''Kami memiliki program summer school, yakni program jangka pendek berupa pelatihan bahasa Indonesia. Pemi-natnya cukup banyak,'' ujar dosen kelahiran Ambon itu. (Panji Satrio-32) |