logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 17 Nopember 2007 WACANA
Line

Kampus Akan Dipinggirkan!

Jangan keliru membaca judul tulisan ini, meskipun peryataan itu diucapkan oleh Koordinator Kopertis Jawa Tengah, Prof Dr Mustafid. Bukannya pemerintah hendak mengebiri eksistensi perguruan tinggi, melainkan akan mendorong persebaran kampus ke daerah-daerah, agar tidak memusat di kota besar saja.

SEKITAR 250 kampus berdiri di Jawa Tengah. Tetapi persebarannya tidak merata. Sebagian besar bergerombol di kota-kota besar seperti Semarang, Surakarta, dan Purwokerto. Daerah-daerah pinggiran, apalagi pedalaman, cenderung sepi.

Lulusan SMA di Kabupaten Batang, misalnya, harus merantau ke kota lain untuk melanjutkan studi. Sebab tak ada satu pun kampus yang berdiri di sana. Fenomena ini menggelisahkan banyak orang, tak terkecuali Koordinator Kopertis Jawa Tengah Prof Dr Mustafid.

Menurut Mustafid, pemusatan perguruan tinggi di kota besar kurang sesuai dengan azas pemerataan pendidikan. ''Selain itu juga melemahkan daya saing, karena kampus di wilayah padat harus bersaing dalam memperebutkan calon mahasiswa yang sedikit,'' tambahnya, di sela-sela memimpin rapat kerja Pimpinan PTS di Hotel Patra Jasa Semarang, beberapa waktu lalu.

Karena itulah, Kopertis terus mendorong agar kampus dapat menyebar ke daerah-daerah. Semarang merupakan daerah yang paling padat. Lebih dari 100 kampus berdiri di kota ini. Populasi kampus tak sebanding dengan jumlah penduduk, sehingga perguruan tinggi mengalami persaingan yang teramat ketat.

Apalagi sebagian besar mahasiswa tersedot ke perguruan tinggi negeri (PTN). Akibatnya banyak PTS yang megap-megap: hidup segan, mati pun tak mau. Sebagian PTS terpaksa ''jemput bola'' ke daerah-daerah, dengan menyelenggarakan kelas jauh.

Keunggulan Lokal

Persebaran kampus tampaknya mengikuti keberadaan PTN. Di mana ada PTN, di sekitarnya berdiri PTS. Lihatlah, hampir semua kawasan kampus di Jawa Tengah mengekor PTN. Di Semarang ada Undip, Unnes, dan IAIN Walisongo. Maraknya kehidupan kampus di Surakarta tak lepas dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sedangkan Purwokerto ''dihidupi'' oleh keberadaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Secara alami, tiga kota itulah yang menjadi kawasan pendidikan di Jawa Tengah. Mengapa di pantai utara (selain Semarang) minim PTS? Barangkali karena tak ada PTN.

Atmosfir pendidikan di Kudus, misalnya, menjadi bergairah oleh Universitas Muria Kudus (UMK) dan STAIN Kudus. Namun magnitude-nya belum cukup kuat untuk menjadi kawasan pendidikan sendiri, tanpa mengekor Semarang. Begitu pula kawasan pantura barat yang masih nimbrung ke Purwokerto, meski di sana ada Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal.

Mustafid menilai, PTS di daerah-daerah justru menikmati iklim persaingan yang lebih sehat. Untuk memenangkan persaingan, perguruan tinggi mesti pandai-pandai mencari keunggulan lokal. ''PTS di Surakarta, misalnya, mestinya mengembangkan atmosfir pendidikan bernuansa budaya, agar selaras dengan citra Solo sebagai Kota Budaya,'' jelasnya.

Mustafid juga menawarkan solusi lain, yaitu program studi (prodi) disesuaikan dengan potensi lokal. Contohnya perguruan tinggi di Blora, lebih ideal jika membuka bidang teknik atau pertambangan. Hal ini untuk menyediakan tenaga kerja profesional di bidang pertambangan, apalagi kandungan migas di Blok Cepu akan segera dieksplorasi. Kampus-kampus di Jepara tentu lebih pas membuka prodi kayu atau ukiran.

Kampus-kampus berbasis agama mempunyai strategi sendiri. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta, Arya Wira MSc, mengakui kampusnya tetap eksis membidik pangsa pasar tradisional, yakni kaum nahdliyyin.

''Kompetisi di Surakarta sangat ketat. Selain bersaing dengan kampus-kampus dalam kota, kami juga mesti bersaing dengan Yogyakarta. Tapi kami bisa eksis dengan membidik pasar khusus dari warga NU,'' ujarnya. (Panji Satrio-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA