logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 17 Nopember 2007 WACANA
Line

Debat: Dicari, Pahlawan Reformasi!

Pahlawan Pendidikan

  • Arief Kusuma P Administrasi Bisnis FISIP Universitas Diponegoro

MELEBIHI dugaan semula dari para ahli, krisis multidimensi yang melanda Indonesia saat ini bukanlah sembarang krisis yang bisa dihadapi secara tambal sulam. Krisis ini memiliki cakupan yang sangat luas, dengan penetrasi yang amat mendalam, serupa zaman kalabendu yang penuh prahara, pertikaian, kedunguan, serta kehancuran tata nilai dan keteladanan.

Apa yang sedang melanda bangsa ini mirip dengan apa yang ditengarai Mahatma Gandhi, delapan dekade lalu, mengenai tujuh dosa sosial yang mematikan. Yaitu: 1) politik tanpa prinsip; 2) kekayaan tanpa kerja keras; 3) perniagaan tanpa moralitas; 4) kesenangan tanpa nurani; 5) pendidikan tanpa karakter; 6) sains tanpa humanitas; dan 7) peribadatan tanpa pengorbanan.

Ketujuh dosa sosial ini merupakan ragam krisis multidimensi saat ini. Untuk keluar dari krisis tersebut dibutuhkan kemunculan figur-figur pahlawan.

Pahlawan yang paling dibutuhkan saat ini adalah pahlawan pendidikan. Sebab pendidikan merupakan kata kunci bagi bangsa ini, sebagai solusi dari kriris yang sedang terjadi. Dari pendidikanlah, sebuah bangsa bisa menata dan membangun peradabannya.

Sedikitnya ada empat wilayah garapan pahlawan pendidikan. Pertama, pembangunan karakter bangsa. Kedua, peningkatan pemerataan dan akses pendidikan. Ketiga, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing. Keempat, penciptaan manajemen pendidikan yang bersih dan transparan.

Dari keempat wilayah tersebut, pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan adalah hal yang terpenting. Sebagaimana dikatakan oleh Dr Yudi Latif, kejatuhan politik hanya kehilangan penguasa. Kejatuhan ekonomi hanya kehilangan sesuatu. Namun kejatuhan karakter bangsa membuat sebuah bangsa kehilangan segalanya. Maka, pembangunan karakter bangsa menjadi tugas pahlawan hari ini, pahlawan pendidikan!

Pertanyaannya, siapakah figur pahlawan pendidikan itu? Tentunya pahlawan pendidikan bukan pihak yang mengalokasikan dana pendidikan hanya Rp 44 triliun, sementara dana untuk Pemilu 2009 justru Rp 47,9 triliun.

Bukan mereka yang berbicara dalam bahasa politik, yang selalu bertanya siapa yang menang (who's winning). Bukan pula yang berbahasa ekonomi, yang selalu bertanya di mana kesepakatan terendahnya.

Tetapi pahlawan pendidikan adalah mereka yang selalu mengajarkan bertanya, apa yang benar (what's right). Sehingga kebenaran menjadi karakter utama bangsa ini. Dan pahlawan pendidikan itu meliputi semua orang yang peduli dengan pembangunan karakter bangsa yang seperti itu. (32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA