logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 17 Nopember 2007 WACANA
Line

Kembali kepada Pertanian

  • Oleh Toto Subandriyo

MEROKETNYA harga minyak mentah yang hampir menyentuh angka 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel sejak beberapa tahun terakhir, telah mengubah geoekonomi dunia. Negara-negara maju seperti AS menyikapinya dengan melipatgandakan anggaran riset untuk mendapatkan energi alternatif ramah lingkungan yang bersumber dari komoditas pertanian sebagai pengganti minyak bumi.

Saat melakukan pidato tahunan State of the Union di depan Kongres, 31 Januari 2006, Presiden George W Bush mengatakan bahwa AS perlu mengurangi kebergantungannya kepada minyak impor dari Timur Tengah sampai 75 persen pada 2025. Untuk itu, Bush telah mengalokasikan 22 persen dana lebih banyak untuk riset energi ramah lingkungan pada 2007.

Krisis bahan bakar minyak (BBM) itu juga menyentakkan bangsa Indonesia. Selama bertahun-tahun bangsa ini terlelap tidur karena melimpahnya rezeki minyak (oil boom) di era 1970 hingga 1980-an. Setelah menyandang predikat net importer, bangsa dan negara Indonesia bagaikan orang yang baru tergagap dari tidur lelap. Semua orang kemudian menyadari, betapa bangsa dan negara ini terlambat melakukan riset-riset tentang energi alternatif, termasuk bioenergi yang bersumber dari komoditas pertanian.

Bangsa dan negara Indonesia seperti baru tersadar bahwa tidak selamanya dapat menggantungkan diri kepada BBM untuk pemenuhan energi. Sebelumnya tak menyadari, bahwa dengan menjual murah bensin dan BBM, pengembangan produk hemat energi maupun produk energi alternatif bukan fosil tidak terpikirkan oleh industri. Riset-riset terhadap energi alternatif nyaris tak tersentuh, bahkan terlupakan.

Kondisi setali tiga uang juga terjadi pada pupuk anorganik. Subsidi pupuk anorganik yang selalu dikucurkan pemerintah membuat aplikasi pupuk oleh petani cenderung boros karena harganya relatif murah. Akibatnya, kebergantungan terhadap pupuk anorganik sangat tinggi, dan riset-riset penggunaan pupuk organik menjadi terlupakan.

Lalu apa yang kemudian terjadi? Fenomena kelangkaan pupuk selalu menjadi duka rutin petani republik ini dari musim ke musim.

Segera Beralih

Berkait dengan masalah krisis BBM, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah menganjurkan agar energi dunia harus segera beralih ke sumber energi alternatif. Secara gradual, perubahan energi fosil ke energi terbarukan (renewable energy) harus segera dimulai.

Dalam 15-20 tahun ke depan penggunaan bioenergi harus mencapai 25 persen dari seluruh penggunaan energi dunia. Negara Indonesia sebenarnya sangat kaya varian komoditas pertanian yang dapat menghasilkan bioenergi, seperti minyak kelapa sawit (CPO), jagung, jarak pagar (Jatropa curcas L), ubi kayu, dan umbi-umbian lain.

Kebijakan pengembangan bahan bakar nabati dan biodesel itu akan berdampak serius terhadap struktur dasar perdagangan produk pertanian dunia. Berbagai komoditas pertanian seperti gandum, kedelai, jagung, daging, beras, susu, gula, dan minyak nabati, akan menjadi rebutan di pasar dunia yang menyebabkan harga naik secara fantastik. Perubahan struktur perdagangan komoditas pertanian dunia seperti itu, telah mendongkrak harga berbagai komoditas di pasaran dunia.

Starting Point

Sisi positif yang dapat dipetik dari perubahan struktur perdagangan komoditas pertanian dunia itu adalah betapa pentingnya posisi komoditas pertanian saat ini. Sebagai negara agraris besar, kondisi itu dapat dijadikan sebagai starting point bagi kebangkitan dunia pertanian Indonesia. Saatnya dunia pertanian yang menjadi sumber hidup bangsa Indonesia digarap lebih serius demi peningkatan kesejahteraan para petani.

Saat ini Indonesia masih tercatat sebagai negara importir utama untuk komoditas beras, gandum, gula, jagung, dan kedelai. Kondisi itu patut mendapat perhatian serius dari tiap elemen bangsa Indonesia. Tanpa antisipasi dan reorientasi kebijakan pembangunan pertanian yang lebih menitikberatkan kepada upaya pemenuhan kebutuhan pangan dari dalam negeri sendiri, maka boleh jadi Indonesia akan menjadi korban pertama dari perubahan geoekonomi dunia tersebut.

Alangkah sayangnya, jika potensi sumber hidup bangsa yang sangat besar di bidang pertanian tersebut tidak digarap secara lebih serius. Kita tentu tidak ingin tergilas oleh krisis BBM yang tengah membelit negara-negara di dunia. Kinilah saatnya negara dan bangsa ini kembali kepada kekuatan utamanya, yaitu pertanian.(68)

--- Toto Subandriyo, kepala Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan Dinas Tanbunhut Kab Tegal


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA