| Sabtu, 17 Nopember 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANABahaya Laten Sepak Bola ItaliaKekerasan antarsuporter dalam kompetisi sepak bola Liga Italia tidak hilang, meskipun jumlah penonton belakangan ini menurun drastis. Berbeda dari Liga Inggris yang tetap dipadati penonton. di Premiership, pertandingan sebagai hiburan keluarga begitu terasa ketika kita menyaksikan tayangan langsungnya. Kamera yang diarahkan ke tribune di Stadion Emirates, Stamford Bridge, Old Trafford, Anfield Road sampai White Hart Lane "menangkap" anak-anak kecil yang menyertai pasangan orang tuanya. Hooligans yang menjadi citra makro persuporteran Inggris, meredup ketika klub-klub negeri itu saling bertanding. Gambaran Liga Italia sebagai arena unjuk gigi kelompok-kelompok tertentu lebih menonjol. Para pendukung klub dengan bendera-bendera besarnya, menjadi ciri yang bertahan saat isi stadion berkurang. Perseteruan antarmereka pun biasa terjadi. Itulah sepak bola Italia, yang perjalanan panjangnya telah menghasilkan tali-temali antara kreativitas di dalam maupun luar ruangan, yang memengaruhi dinamika sosial, politik, dan bisnis. Pertarungan berebut lo scudetto - emblem tiga warna bendera Italia yang disematkan kepada juara bertahan pada satu musim kompetisi - telah total mencitrakan Italia sebagai negeri sepak bola. Mereka menemukan taktik pertahanan legendaris, catenaccio, yang membuahkan keberhasilan menjadi juara dunia empat kali. Bintang-bintang dunia juga berebut datang ke negeri itu. Ingar-bingar sepak bola bahkan bisa membawa seorang wasit jadi bintang iklan laris semacam Pierluigi Collina. Pemilik salah satu klub, Silvio Berlusconi, berhasil memanfaatkan popularitasnya untuk menekuni dunia politik, hingga meraih kursi perdana menteri. Koran-koran khusus olahraga makin menguatkan betapa getolnya Italia pada sepak bola. Mungkin saja keriuhan itu menyebabkan kebosanan, yang berdampak pada anjloknya penonton. Kondisi demikianlah yang terjadi. Tetapi jiwa mereka sebagai penggemar sepak bola tidak berkurang sedikit pun. Ketika jenazah fans Lazio Gabriele Sandri disemayamkan, ribuan orang antre di sebuah rumah sakit di Roma untuk memberi penghormatan terakhir. Sandri tewas tertembak Minggu lalu, saat polisi berusaha melerai kerusuhan antara suporter Lazio dengan pendukung Juventus. Fans Lazio berada dalam perjalanan menuju kandang Inter Milan. Kerusuhan itu merembet, dan pertandingan lain pun terganggu. Bahkan berlanjut menjadi kekecewaan aparat kepolisian, terbukti dari serangan pada mobil dan pos-pos polisi di Roma. Kecintaan luar biasa negeri itu pada sepak bola menjadikan suporter berkembang menjadi lapisan sosial yang berpotensi menggoncangkan dinamika sosial. Kebetulan pekan ini kompetisi Seri A memang libur sebagai bagian dari persiapan tim nasional mengikuti lanjutan babak prakualifikasi Euro 2008. Namun, Seri B dan C tidak. Keputusan ikut meliburkan Seri B dan C menunjukkan kesadaran otoritas persepakbolaan Italia akan pengaruh besar para pendukung klub dalam konstelasi keamanan nasional. Itu bisa dimengerti, karena mereka bisa menjadi kesatuan yang memendam bara dendam pada aparat Kepolisian. Serentetan kerusuhan menjadikan bintang Brasil, Kaka, berpikir pergi. Sedangkan kapten timnas Fabio Cannavaro menyatakan syukur sekarang bermain di Liga Spanyol, karena nuansa sepak bola sebagai hiburan keluarga lebih menonjol di sana. Tahun lalu, ketika skandal pengaturan skor (calciopoli) belum tuntas di tingkat banding, berita negatif kembali muncul. Seorang polisi, Filippo Raciti, tewas ditusuk pendukung Catania. Nyawa yang untuk kali kesekian melayang. Dan, ketika masih ada lagi nyawa melayang, tak bisa dipungkiri kelompok suporter merupakan bahaya laten persepakbolaan Italia. |