| Sabtu, 17 Nopember 2007 | MURIA |
WORO WOROHindari Benturan Sosial soal PLTNJEPARA - Gesekan sosial sebagai akibat aksi pro-kontra rencana pembangunan PLTN Muria tak terlelakan di Desa Balong, Kecamatan Kembang. Pada Kamis (15/11) hingga Jumat (16/11), dinamika itu masuk ke proses hukum. Kelompok yang ditengarai pro-PLTN mengadukan pihak yang kontra atas dugaan tindakan tidak menyenangkan. Langkah serupa juga dilakukan pihak kontra kepada yang pro. Garda Muria, lembaga penyelamatan budaya yang didirikan Gus Dur di Jepara, berharap dinamika pro-kontra itu tak berujung pada benturan sosial, apalagi tindakan anarki. ''Ya, kami sudah mendengar langkah saling mengadukan ke kepolisian itu. Yang kami harapkan adalah masyarakat tidak terjebak tindakan-tindakan negatif,'' tandas Zakariya Anshori, Ketua Garda Muria, Jumat (16/11). (H15-69) Reboisasi 4.116 Ha Lahan Kritis REMBANG - Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kebonharjo menargetkan pada tahun 2008 bisa menyelesaikan penghijauan di 4.116,8 hektare lahan kritis. Kepala KPH Kebonharjo, Ir Ahmad Ibrahim MSc, didampingi Kaur Humas dan Agraria, Subchan, kemarin menuturkan, pada tahun ini pihaknya telah berhasil menyelesaikan penghijauan pada 3.500 hektare lahan kritis. ''Sedangkan sisa lahan sekitar 1.100 hektare akan kami selesaikan tahun 2008. Dengan adanya program percepatan penghijauan dari Pemerintah Pusat, kami yakin bisa menghijaukan semua lahan kritis di wilayah kami,'' ujarnya. Dia menuturkan, pada saat awal penghijauan, KPH Kebonharjo mengalami kendala kegagalan penanaman. Setelah diteliti, ternyata lokasi tanaman di lahan kritis itu mengandung bahan galian seperti kalsit, phospat dan pasir kwarsa yang mengakibatkan tanaman gagal tumbuh. ''Melihat kondisi ini, kami kemudian mengadakan penggalian batuan melalui pihak ketiga. Pengalian dengan pihak ketiga ini adalah sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 50/Menhut - II/2006,'' tegasnya. (H19-76) Petani Mulai Borong Pupuk BLORA- Khawatir tidak mendapatkan pupuk pada saat mulai musim tanam, para petani di Blora mulai memborong pupuk urea. Padahal di sebagian daerah, musim tanam padi belum dimulai. Selain itu, para petani menakutkan, kenaikan harga pupuk saat musim tanam. ''Lebih baik beli pupuk sekarang. Mumpung harganya masih normal,'' ujar Waskito, salah seorang petani di Kecamatan Ngawen, kemarin. Dia mengaku, sawah yang dimilikinya belum ditanami padi. Itu terjadi karena air untuk keperluan irigasi masih belum mencukupi. Yang dilakukan baru sebatas membajak sawah. Meski demikian Waskito tetap membeli pupuk di sejumlah toko. ''Saya sudah beli dua sak pupuk (50 kg/sak). Kemarin satu sak, sekarang satu sak,'' katanya. Pembelian pupuk juga dilakukan sejumlah petani di Desa Sambong, Blora. Sebagian dari mereka mengaku, membeli pupuk karena khawatir uang yang dimiliki akan habis. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Prayitno, melalui Kasubdin Perdagangan, Pujianto, mengungkapkan, stok pupuk urea untuk kebutuhan hingga akhir Desember tersisa kurang lebih 8.000 ton. (H18-76) Korban Kebakaran Belum Terima Bantuan PATI-Upaya perbaikan dan penataan enam kios yang terbakar di Pasar Kayen, Kamis (8/11) malam lalu, sejauh ini masih dilakukan swadaya para pedagang. Sebagian kios sudah rampung diperbaiki dan telah dipergunakan untuk berdagang kembali. Namun, kios milik Tumini yang menjadi pusat kebakaran masih terlihat mangkrak dan belum diperbaiki atau ditata. Dalam kejadian itu, seluruh dagangan yang berada di dalam kios milik warga Desa Talun, Kecamatan Kayen tersebut, tak tersisa. Rolling door yang rusak masih terlihat menumpuk di depan kios bersama puing-puing atap. Kios tersebut masih kosong melompong dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki pemiliknya. Kondisi demikian, Jumat (16/11), ditinjau langsung oleh Komisi B DPRD. Rombongan anggota Dewan yang dipimpin Wakil Ketua Komisi B Retno Yunaedi SE itu, langsung meninjau enam kios yang terbakar. (H49-76) Kudus Jadi Tujuan Gelandangan KUDUS - Kota Kudus disinyalir menjadi tempat tujuan sejumlah gelandangan dan pengamen dari luar kota. Kesimpulan tersebut diperoleh dari keterangan mereka yang terjaring dalam razia Pol PP. ''Beberapa pengamen dan gelandangan yang ada di Kudus mengaku berasal dari luar kota,'' Kata Kepala Pol PP Kudus, Soenarno, melalui Kasi Trantib, Drs Nurokhim, Jumat (16/11). Berdasar pengamatannya, daerah asal gelandangan dan pengemis itu dari Semarang dan Pati. Pengamen yang berasal dari Semarang mulai terlihat sejak Oktober. Pengamen dan gelandangan yang dirazia petugas Satpol PP selama dua bulan terakhir, sudah beroperasi di sejumlah ruas jalan di Kudus. ''Mungkin disebabkan karena di tempat asal juga gencar digalakkan razia pengamen,'' ujarnya. (H8-76) |