logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 17 Nopember 2007 MURIA
Line

Gaya Pacaran di Taman Krida Semakin Berani

Taman Krida Wisata Kudus yang seharusnya menjadi tempat rekreasi publik, disalahgunakan beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab. Di tempat wisata yang dikelola Disparbud itu pasangan muda-mudi sering terlihat berpacaran dengan gaya yang terlalu seronok.

Meski satu dengan lokasi bermain anak-anak kecil, mereka bahkan tak sungkan-sungkan untuk berpelukan atau berciuman. Menurut Kepala Disparbud Brata Subagya melalui Staf Pengelola Taman Krida Wisata Moch Noor Dipin, kejadian seperti itu sebenarnya sudah lama berlangsung dan taman wisata di mana saja memang berpotensi disalahgunakan.

"Kalau masih tahap wajar, tidak masalah. Yang disayangkan, mereka sampai ciuman bibir," ucap Dipin yang baru saja berkeliling mengontrol pasangan-pasangan yang kurang sopan, Jumat (16/11).

Tetap Kecolongan

Pengontrolan yang dilakukan pengelola Taman Krida sudah ketat namun tetap saja kecolongan. "Saya tiap hari selalu mengawasi pasangan-pasangan itu. Kalau sudah kelewat batas, langsung saya ingatkan," kata Dipin.

Tak ketinggalan papan peringatan sudah terpasang di sudut-sudut taman. Menurutnya, dua bulan terakhir sebenarnya pihaknya sudah meningkatkan pengamanan. "Karena kebetulan dekat dengan kantor Disparbud, saya juga berpesan pada teman-teman di kantor, jika ada yang melihat langsung ditegur."

Disparbud juga bekerja sama dengan Satpol PP untuk penertiban. Namun, selesai itu pasangan yang pacaran di Taman Krida pun kembali merebak. "Kebanyakan usia setaraf mahasiswa. Karena itu, kami melarang anak sekolah berkunjung saat jam pelajaran kecuali dengan guru," ungkapnya.

Ironis

Merebaknya pasangan yang pacaran di Taman Krida memang menjadi ironi. Bukan saja memberi pegaruh negatif pada anak-anak di bawah umur, melainkan juga terkait dengan target PAD. Taman Krida pada tahun ini ditarget Rp 41 juta. Dipin mengakui, banyaknya pasangan yang mengunjungi Taman Krida memberi kontribusi secara materi.

"Sebenarnya dengan semakin banyak pengunjung bisa menambah pemasukan kami untuk menutup target PAD. Namun dengan perilaku yang kurang sopan, kami juga kasihan dengan anak-anak."

Tidak ada cara lain bagi Disparbud untuk mengatasi perilaku tersebut kecuali dengan mengubah situasi. Dipin berharap, dengan penambahan fasilitas bermain anak-anak, seperti waterboom yang sudah 60% jadi, perilaku pacaran yang tidak sopan bisa diminimalkan. "Mungkin dengan bertambahnya fasilitas dan kegiatan di dalam bisa lebih ramai. Tempat yang ramai tentu bukan pilihan tepat untuk macam-macam," tandasnya. (Sony Wibisono-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA