logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 17 Nopember 2007 MURIA
Line

Ekosistem Terumbu Karang Menurun

KARIMUNJAWA- Ekosistem terumbu karang (koral) di Perairan Karimunjawa mengalami penurunan. Kondisi itu terpantau dari hasil survei Reef Check, 9-15 November, oleh Marine Diving Club (MDC), Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip Teluk Awur, di lima titik di perairan itu.

''Ekosistem terumbu karang di Karimunjawa memang menurun. Ini data sejak 2004 hingga terbaru yang kami lakukan November ini,'' kata Achmad Mustofa, Ketua MDC Undip, dalam keterangan persnya, Jumat (16/11).

Kegiatan pemantauan koral itu diikuti 58 sukarelawan penyelam dari beberapa daerah. Pemantauan dilakukan pada kemunculan karang hidup, ikan, invertebrata indikator kesehatan karang, serta yang memiliki nilai ekonomis penting. Secara umum, dari hasil monitoring periode 2004-2007 dengan menggunakan metode reef check, tren kemunculan karang keras yang menjadi indikator status terumbu karang menunjukkan, pada kedalaman tiga meter maupun 10 meter terjadi penurunan dari status sedang menjadi buruk.

Penurunan terjadi utamanya pada lokasi yang menjadi zona pemanfaatan pariwisata. Kondisi yang sama juga terlihat pada kemunculan penyusun terumbu yang hidup (living reef) yang menunjukkan kecenderungan penurunan tajam, terutama pada kedalaman tiga meter.

Sedangkan di kedalaman 10 meter, penurunannya tidak terlalu signifikan. Sebaliknya, kemunculan komponen penyusun terumbu yang mati seperti pecahan karang, karang mati semakin meningkat, baik di kedalaman tiga maupun 10 meter.

''Perkiraan kami, selain pengaruh musim dengan adanya gelombang yang besar, kedalaman tiga meter lebih berpeluang menerima pengaruh langsung dari aktivitas yang berlangsung di sekitarnya,'' lanjut Achmad Mustofa.

Data pantauan atas ikan dan invertebrata indikator menunjukkan, bahwa biota-biota yang bertugas menjaga keseimbangan antara karang dan biota penyusun terumbu lainnya semakin berkurang. Bahkan sangat jarang dijumpai.

Jenis Diadema Urchin dan ikan kakatua (parrot fish) yang mengontrol pertumbuhan algae (algae dapat mengambat pertumbuhan karang), jumlahnya semakin menurun. Di beberapa tempat jarang sekali dijumpai.

Ikan kupu-kupu (butterfly fish) yang menjadi salah satu indikator kondisi karang yang baik juga menjadi sangat jarang dijumpai. Hal ini menunjukkan, dari perwakilan lokasi di Taman Nasional Karimunjawa, terjadi tekanan yang kuat terhadap ekosistem terumbu karang.

Data ikan serta invertebrata yang memiliki nilai ekonomis penting seperti kerapu tikus, maming (napoleon), lobster, kima juga menjadi sangat jarang dijumpai. Kerapu dijumpai hanya dalam ukuran yang sangat kecil.

Mustofa juga menyebut, akibat aktivitas manusia, seperti peletakan jangkar kapal juga turut memengaruhi kerusakan. Reef Check diselenggarakan sejak 1997 dan bekerja sama dengan berbagai lembaga baik pemerintah, swasta maupun LSM, dalam dan luar negeri.

''Hasil pemantauan terakhir ini akan kami berikan kepada dinas terkait, pengelola kawasan serta pemerintah daerah, terutama Balai Taman Nasional, dan Pemkab Jepara. Kami harapkan data ini menjadi masukan untuk pengelolaan yang lebih baik,'' imbuhnya. (H15-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA