| Sabtu, 17 Nopember 2007 | INTERNASIONAL |
Dua Korea Sepakati Layanan KA KargoSEOUL - Korea Utara dan Korea Selatan kemarin menyepakati untuk memulai layanan kereta barang lintas perbatasan. Kesepakatan itu merupakan bagian dari proyek-proyek memajukan perekonomian Pyongyang. Layanan kereta kargo dua Korea telah terhenti lebih dari setengah abad, menyusul Perang Korea 1950-1953. Dalam kesepakatan kemarin, perdana menteri dari kedua negara setuju untuk mengoperasikan kembali jaringan KA itu mulai 11 Desember. Berkaitan dengan gerakan rekonsiliasi lainnya, kedua negara sepakat untuk memulai pembentukan zona penangkapan ikan bersama di Laut Kuning pada pertengahan pertama tahun depan. Tujuannya adalah mencegah bentrokan lebih lanjut di sekitar perbatasan laut yang masih disengketakan itu. Kawasan perairan tersebut merupakan tempat pertempuran angkatan laut yang menelan banyak korban pada tahun 1999 dan 2002. Kereta api lintas perbatasan telah diuji coba Mei lalu. Langkah itu disambut sebagai tonggak bersejarah ke arah penyatuan kembali kedua negara. Secara teknis, kedua negara masih terikat perang karena konflik pada 1950-an berakhir dengan gencatan senjata tanpa perjanjian damai. Tanpa Jaminan Namun militer Pyongyang enggan memberikan jaminan keamanan terhadap operasional KA kargo tersebut. Jaringan KA itu akan melayani kawasan industri yang didirikan Seoul di Kaesong. Rutenya sejauh 20 kilometer, antara Munsan di selatan dan Bongdong di utara. Layanan KA barang lintas perbatasan itu mengisyaratkan Korut makin terbuka. Perundingan teknis akan diadakan di Kaesong mulai Selasa pekan depan. Perundingan itu merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang dicapai Presiden Korsel Roh Moo-Hyun dan pemimpin Korut Kim Jong-il dalam KTT bersejarah di Pyongyang awal bulan lalu. Pertemuan perdana menteri kedua negara itu bertujuan melaksanakan hal-hal yang telah dideklarasikan oleh KTT tersebut, khususnya berkaitan dengan perdamaian dan kesejahteraan bersama. Para pemimpin kedua negara telah menyepakati berbagai proyek rekonsiliasi bersama senilai miliaran dolar, termasuk pembentukan kawasan penangkapan ikan bersama dan "zona perdamaian" di Laut Kuning.(ant-26) |