| Sabtu, 17 Nopember 2007 | BUDAYA |
Menarik Anak Muda ke Panggung KetoprakDI tempat lain, kesenian tradisional boleh saja memasuki senjakala. Namun tidak di Pati. Di wilayah pesisiran itu, ketoprak masih begitu berdaya. Frekuensi manggung sangat kerap dan itu menunjukkan eksistensi ketoprak di wilayah itu. Sucipto Hadi Purnomo, dosen Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes, menuturkan ketoprak di Pati saat ini boleh dibilang masih sangat survive. "Di Pati ada 35 grup ketoprak. Sekitar 10 laris tanggapan. Ketoprak Bakaran, misalnya, setahun bisa pentas 150-an kali," kata dia. Pernyataan itu membuat peserta seminar "Ketoprak Menembus Zaman" di aula dekanat FBS Unnes, kampus Sekaran, Gunungpati, Kamis (15/11), tercengang. Sebab, paparan penulis cerita bersambung Saridin Mokong di Suara Merdeka edisi Suara Muria itu agak bertolak belakang dengan nasib mengenaskan kesenian tradisional yang di banyak tempat ditinggalkan para pencinta. Sucipto tak membual. Paparan itu adalah hasil penelitian terhadap Ketoprak Bakaran. Ya, dia baru saja merampungkan tesis "Ketoprak Pati Tak Mati-mati" di program S2 Pendidikan Seni Program Pascasarjana Unnes. Seniman Ruspentil yang hadir pada seminar itu menuturkan ketoprak Pati tetap eksis karena masyarakat berpihak pada seni tradisional. Mereka rutin menanggap, sehingga grup ketoprak tetap hidup. "Situasi itu jelas berbeda dari di sini (Semarang-Red). Kon nonton thok, gratis, gedhunge kothong blong," katanya. Bagaimana ketoprak Pati bisa eksis? "Sebab, ketoprak itu disangga fungsi. Masyarakat mendukung penuh dengan menanggap ketoprak untuk berbagai keperluan, dari pesta sunatan, pernikahan, haul, sampai sedekah bumi atau sedekah laut," ujar Sucipto. Regenerasi Pembicara lain, Dr Teguh Supriyanto MHum, mempertanyakan keterlibatan anak muda, baik sebagai seniman maupun penonton. Sebab, selain diukur dengan frekuensi tanggapan, keterlibatan dan ketertarikan anak muda merupakan indikator yang harus diperhitungkan bagi eksistensi seni tradisi. "Bagaimana disebut eksis, jika pemain berusia 70 tahun lebih seperti Budiyono masih main? Bagaimana regenerasi ketoprak berjalan? Jangan-jangan penonton ketoprak yang disebut eksis itu tak lebih dari orang tua seumuran para pemain?" ujar dia. Doktor sastra lulusan UGM itu juga menyoroti inovasi ketoprak Pati. "Inovasi, sepanjang untuk kelanjutan kehidupan seni tradisi, harus dilakukan. Juga, bagaimana menarik anak muda dekat dengan ketoprak," katanya. Sucipto mengemukakan keberadaan seniman gaek seperti Budiyono merupakan fenomena yang menunjukkan kesetiaan terhadap seni tradisi. Namun, di luar itu, regenerasi seni ketoprak tetap berlangsung. (Achiar M Permana-53) |