logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 17 Nopember 2007 BANYUMAS
Line

Obat Askeskin di RSUD Langka

  • Pasien Beli Sendiri di Luar

BANYUMAS- Rekanan pemasok obat-obatan untuk pasien askeskin di RSUD Banyumas, terpaksa menghentikan pengiriman obat. Hal itu karena rumah sakit itu belum membayar obat yang diterimanya, akibat klaim askeskin dari PT Askes tak kunjung cair. Dampaknya adalah pasien askeskin yang berobat di RSUD Banyumas terpaksa harus membeli obat sendiri di luar. Kondisi itu sudah berlangsung lebih dari sebulan.

Seorang keluarga pasien askeskin, Warsun (45) asal Kebasen mengungkapkan adiknya yang dirawat dua hari di RSU terpaksa beli obat sendiri di apotek. ''Obat jatah askeskin habis. Dokter rumah sakit hanya memberi resep. Obatnya saya tebus sendiri di apotek,'' tuturnya.

Direktur RSUD Banyumas dokter Hartono SpA kemarin mengatakan, rekanan akan memasok obat lagi, setelah tunggakan pembayaran sudah dilunasi. ''Pihak ketiga belum dibayar bukan karena pihak RSUD ngemplang melainkan klaim askeskin yang harus dibayar PT Askes kepada RSUD Banyumas belum dibayar,'' jelasnya.

Tunggakan klaim askeskin yang belum dibayarkan ke RSUD Banyumas, hingga kini mencapai Rp 7 miliar. Kalau sampai bulan Desember tak dibayar, klaim yang harus dibayar PT Askes kepada RSUD Banyumas bisa mencapai Rp 9 miliar.

Terbesar

Menurut Hartono, klaim sebesar itu merupakan yang terbesar dari seluruh rumah sakit di wilayah eks Karesidenan Banyumas. Hal itu karena jumlah pasien askeskin di RSUD Banyumas sangat banyak.

''Jumlah pasien askeskin di RSUD Banyumas mencapai 60 % dari seluruh pasien yang ada. Rata-rata satu bulan, pasien askeskin dari Kabupaten Banyumass yang rawat jalan lebih dari 3.000 orang. Kemudian yang rawat inap 750 orang. Itu belum termasuk pasien askeskin dari luar Banyumas yang tiap bulannya sekitar 700 orang,'' jelasnya.

Ia menambahkan, pihak rumah sakit tidak boleh menolak. Agar beban tidak terlalu berat, RSUD menyeleksi pasien askeskin. Pasien yang cukup menjalani rawat jalan, tak perlu dirawat inap.

Kemudian untuk obat-obatan, RSUD juga terpaksa memberikan resep dokter saja. Pasien askeskin, mestinya mendapat pelayanan sekaligus dengan obatnya. Tapi karena pasokannya distop, mereka terpaksa membeli sendiri di luar. (G23-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA