logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 16 Nopember 2007 SALA
Line

Kualitas Beras Jelek, Girik Raskin pun Dijual

SUKOHARJO - Penjualan beras jatah untuk penduduk miskin (raskin) terjadi di Desa Tawang, Kecamatan Weru, Wonogiri. Sebagian penerima jatah menjual raskin yang mereka terima, dengan alasan kualitasnya jelek.

Mereka menjual kartu girik untuk mengambil raskin kepada pedagang beras. Satu girik dipakai untuk mengambil 20 kg beras seharga Rp 20.000.

Jatah raskin untuk Desa Tawang pada November ini sebanyak 3,72 ton. Tiap kepala keluarga (KK) menadapat 10 kg. Artinya, satu girik dipakai untuk dua KK.

Girik dijual dengan harga Rp 50.000 sampai Rp 65.000 kepada pedagang, dan sudah berlangsung sejak tiga hingga empat bulan lalu.

Penjualan itu baru terungkap Kamis (15/11) kemarin, saat anggota Komisi II DPRD Rohmad Sidik Pramono melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke desa tersebut.

Dia mendapatkan keterangan tentang penjualan beras jatah itu dari anggota Ngadiman, anggota Satgas Raskin Desa Tawang. Ngadiman menjelaskan, sejumlah pedagang biasanya datang ke balai desa, saat pembagian raskin berlangsung.

Pedagang mencegat atau mendatangi para penerima raskin. ''Tapi, tidak semua penerima raskin menjual jatahnya. Hanya sebagian. Saya tidak tahu persis jumlahnya,''jelasnya kepada Rohmad.

Penerima raskin sudah diingatkan oleh pihak desa atau anggota Satgas Raskin agar tidak menjual girik mereka. ''Tapi, kami tidak bisa mencegahnya,'' tegasnya.

Sulit Dicegah

Rohmad Sidik Pramono mengatakan, penjualan girik raskin oleh penduduk sulit dicegah. Sebab, beras yang diterima kualitasnya memang tidak bagus. Bahkan, ada yang jumlahnya tidak sampai 10 kg/orang.

''Saya tanya ke beberapa pedagang, mengapa banyak orang menjual raskin jatah mereka. Pedagang bilang, kualitas berasnya jelek. Selain itu, uang hasil penjualan raskin bisa dipakai untuk membeli lauk pauk,'' unhkap politisi PKS itu.

Dari sampel beras yang dia lihat, raskin yang akan dibagikan banyak mengandung menir (beras pecah). Bahkan, ada yang mencapai 20 persen dari jumlah beras dalam kantong. Bobot beras ada juga yang tidak sesuai, yakni satu kantong 19,5 kg.

Dia menandaskan, masalah tersebut semestinya dievaluasi oleh Bulog selaku penyalur beras, agar kasus penjualan beras jatah penduduk miskin tidak terjadi lagi.

''Bulog juga harus cermat melihat kualitas raskin yang akan disalurkan ke penduduk miskin,'' tegasnya. ''Rekanan penyedia raskin yang tidak bagus reputasinya, jangan dipertahankan.'' (H44-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA