| Jumat, 16 Nopember 2007 | SALA |
Hilangnya Koleksi Museum Radya PustakaArca yang Asli dan Palsu Beda AtributMUSEUM Radya Pustaka didirikan 28 Oktober 1890. Kini museum yang terletak di jalan protokol Slamet Riyadi ini sudah berusia 117 tahun. Pendirinya KRA Sosrodiningrat IV Pepatih Dalam Sinuhun PB IX dan PB X. Tempat bersejarah ini merupakan salah satu museum tertua di Indonesia. Meski tercatat sebagai tempat bersejarah, namun Museum Radya Pustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Purbakala maupun Dinas Pariwisata Pemkot Surakarta. Museum ini dikelola oleh Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta yang dibentuk tahun 1951. Paheman artinya lembaga, radya adalah bangsa/negara, sedangkan pustaka ialah hasil budaya utamanya tulisan. Sehingga Radya Pustaka secara umum berarti lembaga ilmu pengetahuan bangsa. Sesuai dengan terminologi tersebut, di museum tersimpan ribuan hasil karya pujangga pada waktu itu. Di antaranya karya Pujangga Besar Keraton Surakarta Ronggo Warsito. Radya Pustaka juga menyimpan ratusan arca yang tak ternilai harganya. Arca-arca tersebut rata-rata dibuat pada abad VII-X M dengan bahan dasar batu andesit. Namun beberapa waktu lalu, warga Solo khususnya dan bangsa Indonesia umumnya digemparkan oleh hilangnya lima arca asli koleksi museum. Lima arca itu adalah, 2 Arca Durga Mahesasuramardhini, Mahakala, Agastya dan Syiwa Mahadewa. Lenyapnya koleksi benda bersejarah ini semakin lengkap, saat petugas BP3 Jawa Tengah (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) mencatat lampu gantung yang terbuat dari perunggu juga sudah dipalsukan. Bukan Pertama Ditemui di Kantor BP3 Prambanan, Kepala Seksi Pelestarian BP3 Jateng Respati Hardjayanto menyatakan, peristiwa yang terjadi di Museum Radya Pustaka bukanlah kali pertama. Sebelum kasus lima arca yang sudah tidak sesuai dengan dokumen 2001, Radya Pustaka sudah kecolongan. Yakni, arca yang berada di depan museum. Namun dia tidak menjelaskan secara rinci kapan kejadian itu dan berapa yang hilang. "Kalau tidak salah antara tahun 2000, arca yang ada di depan itu hilang. Dari peristiwa Itu sekarang arca-arca dipindahkan ke belakang dengan pagar terkunci," ungkapnya. Lima arca yang saat ini ada, dia menjelaskan, secara spesifik ada perbedaan. Di antaranya, pada semua atribut yang dipakai dan dipegang arca. Bahkan ada arca yang berdasarkan dokumen 2001 itu tidak utuh, namun di museum menjadi utuh. Diakui, arca yang saat ini ada juga terbuat dari batu andesit, bahkan bentuknya nyaris sama. Namun, jika dilihat dari sudut pandang berbeda atau dari sisi arkeolog, terdapat perbedaan pada arca setinggi kurang dari satu meter itu. Misalnya, arca Durga Mahesasuramardhini yang perbedaannya mencolok. Di dokumen, arca itu berwarna dasar agak putih terang, bagian dada gelap. Namun arca yang di museum hanya satu warna, yakni warna dasar batu. Respati yang didampingi Zaimul Aza, salah seorang petugas Pokja Regsitrasi dan Penetapan BP3 mengatakan, semua benda purbakala itu berasal dari daerah di Jawa Tengah. Tetapi tidak diketahui persis nama daerahnya . (Heru Susilo-63) |