| Jumat, 16 Nopember 2007 | WACANA |
Surat PembacaLagi, PorwakosSebagai warga Kota Semarang tulen, tak ada salahnya saya juga ingin mengomentari tulisan Bapak Soedjarwo di Padangsari 20 Banyumanik yang dimuat 5 November 2007 tentang pelaksanaan Porwakos. Porwakos (Pekan Olah Raga Warga Kota Semarang) November 2007 digelar untuk kali kedua, tidak hanya sebagai ajang pencarian atlet potensial tapi juga wahana silaturahmi antarwarga. Menurut saya kegiatan ini sebagai acara kemeriahan dalam lingkup kecil milik warga yang ditandai perhelatan melombakan berbagai cabang olahraga. Sebanyak16 kecamatan tak mau ketinggalan ikut memeriahkan. Bila ditelaah lagi, Porwakos tak ubahnya pula sebagai lomba antarklub. Umumnya pemain yang dikirim dari tiap kecamatan, notabene-nya berasal dari klub/komunitasnya. Ini bisa dimaklumi, karena klub cabang olahraga yang bernaung di Pengkot Semarang lebih tahu soal ini ketimbang pecinta olahraga awam: Porwakos juga tidak selaras dengan namanya, POR yang mengatasnamakan warga tapi tidak semua pecinta olahraga awam di kota ini mulai RT, RW hingga Kelurahan bisa menikmati kemeriahannya. Terlebih lagi juga mengemban misi silaturahmi, tentunya dapat dijadikan alat perekat ke seluruh lapisan masyarakat. Sebaiknya acara ini diubah saja namanya jangan mengatasnamakan warga, lebih baik antarklub se-Kota Semarang. Ini lebih fokus pada pembinaan kelompok umur. Dampak jangka panjang, bisa menumbuhkembangkan olahraga kepada anak-anak dengan pembinaan terarah dan berkesinambungan. Dibentuknya KONI kecamatan juga tidak memberikan andil dalam memajukan olahraga di mata masyarakat. Nyatanya sosialisasinya tidak dapat dijumpai di papan-papan pengumuman tingkat RT sampai kelurahan. Lagi-lagi dana yang tidak mencukupi jadi alasan klasik. Berapa pun dana digelontorkan kalau yang mengurusi bukan ahlinya, tidak ada penggilan jiwa serta motivasi untuk membesarkan olahraga, rasanya juga akan sia-sia. Porwakos tetep jadi acara seremonial belaka. Hermawan Kebonharjo RT 2/RW 3, Semarang Orang Tua Wisudawan IKIP PGRI Telantar Momentum wisuda sarjana adalah saat berbahagia yang selalu dinantikan orang tua. Mereka pasti bahagia melihat putra-putrinya bisa menyelesaikan kuliahnya walau harus memeras keringat serta membanting tulang untuk menyediakan biaya. Sayangnya, momentum tersebut hanya berbuah kecewa. Acara wisuda sarjana IKIP PGRI Semarang pada tanggal 30 Oktober 2007 di Bale Merapi kompleks PRPP Semarang berakhir semrawut. Puluhan orang tua wisudawan telantar karena tidak bisa masuk ke ruang wisuda. Padahal mereka datang dari berbagai kota dan untuk sampaike lokasi juga diadang banjir. Seperti mertua saya yang berangkat dari rumah pukul 05.00, sampai di PRPP 07.00 WIB. Tapi keadaan sudah sedemikian semrawut. Ratusan orang berdesak-desakan berebut masuk ke ruang wisuda. Setelah berjuang hampir satu setengah jam, mertua berhasil sampai pintu masuk. Tapi apesnya, pintu masuk sudah digembok dengan alasan ruangan penuh. Aneh bukan, Semua orang tua mendapat undangan wisuda tapi tidak boleh masuk. Padahal untuk acara wisuda dan thethek bengeknya, masing-masing wisudawan harus membayar Rp 875.000. Mahal ternyata tidak menjarnin kualitas. Panitia nampaknya amatiran. Mereka tidak dapat memperkirakan jumlah kursi dengan undangan yang disebar. Akibatnya orang tua wisudawan hanya bisa mondar-mandir seharian tanpa kerjaan di luar seharian menunggu acara wisuda selesai. Lebih konyol lagi, panitia tidak menyediakan televisi di luar untuk menanyakan prosesi wisuda sehingga orang tua masih bisa melihat putra-putrinya walau hanya lewat layar kaca. Semoga hal ini tidak terulang kembali. Joko Suprayoga Jl Dieng I/40 Perum Brangsong, Kendal *** Mengelola Gaji Sering terjadi gaji yang diterima tak bersisa pada pertengahan bulan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai akhir bulan terpaksa mengutang. Tentu hal ini disebabkan banyak hal di antaranya naiknya harga barang yang tidak berbanding lurus dengan naiknya gaji. Juga pola konsumtif yang kurang bisa membedakan antara "kebutuhan" dan "keinginan". Berapa besar pun gaji tidak bisa mengatasi masalah tersebut, karena makin besar gaji maka pengeluaran juga besar. Untuk itu dibutuhkan cara/metode yang efektif untuk mengelola. Dalam mengelola gaji ada 4 tahapan pengeluaran yang harus dilakukan yaitu membayar cicilan utang, menabung, membayar premi asuransi dan biaya hidup. Pertama, begitu mendapat gaji prioritas utama yang dikeluarkan adalah membayar cicilan utang (KPR, cicilan mobil dan kartu kredit). Banyak yang menunda membayar cicilan utang padahal berdampak pada bunganya yang makin berat sehingga utang membengkak. Kedua, menabung. Selama ini banyak yang beranggapan akan menabung jika ada sisa di akhir bulan. Tapi kenyataannya tidak ada yang tersisa. Kenapa tidak dicoba menabung di awal sebelum digunakan untuk biaya hidup ke rekening khusus (auto debet) agar tidak perlu repot ke bank dan menghindari menggunakan tabungan. Ketiga, membayar premi asuransi. Asuransi berfungsi sebagai proteksi. Bila mengaami risiko tertentu (kematian, sakit, kecelakaan), maka keluarga akan mengeluarkan sejumlah uang cukup besar. Asuransi tersebut akan menutupi pengeluaran tersebut. Terakhir, uang sisa tersebut dapat digunakan untuk biaya kebutuhan hidup selama 1 bulan. Dengan tahapan tersebut seolah "dipaksa" untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dari sisa uang. Hal yang perlu diperhatikan bahwa sumber dari masalah keuangan yaitu pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Untuk itu diperlukan kebijakkan terhadap gaji. Selamat mencoba. Bagus Arbianto Jl Jangli 61 RT 1/RW 2, Semarang *** Sony Ericsson S500i Cacat Produksi Pada 9 September 2007 saya membeli ponsel Sony Ericsson tipe S500i bergaransi resmi. Namun baru 3 minggu dipakai, mayoritas keypad retak dan pecah. Karena kerusakan tidak wajar maka saya komplain ke SC di Jl Sriwijaya Semarang sehingga keypad akhirnya diganti setelah ponsel dikirimkan ke Jakarta selama 1 bulan. Ternyata kerusakan ini juga dialami pengguna S500i lainnya dan menurut petugas, kelemahan seri tersebut memang terletak pada keypad-nya walau selama masa garansi tetap diganti. Namun saat saya minta tambahan masa garansi, ditolak. Padahal tidak dapat saya gunakan 1 bulan penuh. Ternyata penggantian keypad tidak menyelesaikan masalah karena retak lagi pada tanggal 5 November 2007. Meski jengkel, terpaksa saya masukkan lagi ke SC dan seperti biasa dijanjikan 1 bulan baru selesai. Rugi waktu, rugi biaya dan rugi tenaga. Perusahaan sebesar Sony Ericsson mestinya berani mengakui bahwa S500i cacat produksi. Juga harus memperhatikan konsumen dengan menarik tipe ini beserta iklannya dari pasaran. Saya menyesal beli ponsel itu. Seandainya ada garansi uang kembali, pasti akan memilih merk lain. Namun karena tidak ada, kini tinggal penyesalan. Mohon tanggapan. Niken Oktavia W. Jl Puri Anjasmoro E1/34, Semarang *** Soal Ujian Nasional Ujian Nasional yang rencananya akan diadakan sekitar bulan April mendatang, sepertinya masih belum ada kepastian. Dari wacana yang beredar, UN akan diujikan 6 mata pelajaran dengan standar kelulusan 5,01. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk bidang sosial (IPS) mata pelajaran yang diujikan Ekonomi, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Geografi dan Sosiologi. Sedang bidang alam (IPA) yang diujikan Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika dan Kimia. Hal ini mengherankan, apakah dengan 6 mata pelajaran tersebut akan mengurangi tingkat ketidaklulusannya. Untuk itu mohon Depdiknas memberi kepastian tentang Ujian Nasional paling tidak November ini. Pertimbangannya, bila kepastian keputusan UN tersebut dapat diterima jauh hari, para siswa bisa lebih siap sehingga persiapannya lebih matang atau paling tidak dapat meminimalisasi ketidaklulusan siswa. Kristoforus Bagus R Siswa SMA Don Bosko, Semarang *** Iklan Cash BCA Tanggal 8 November pukul 20.30 saya membeli obat di apotek Evani, kompleks Semarang Indah. Karena uang tunai untuk membeli obat tak cukup dan daripada harus ke ATM di Supermarket Hero yang jauh, maka saya ingat iklan Cash BCA. Yaitu bisa menarik sajumlah uang tanpa harus repot ke ATM. Nah, di dekat apotek terdapat gerai Indomaret yang memasang neonbox Debet & Cash BCA. Namun rasanya tak enak kalau ambil uang tunai tanpa membeli sesuatu. Akhirnya saya membeli Cheetos dan Q-tella dan setelah bayar, saya utarakan niat ambil cash BCA. Tapi kasir menolak mentah mentah dan mengakatakan harus belanja minimal Rp 20 ribu, baru bisa mengambil cash. Hal ini dia sampaikan di depan tatapan mata banyak orang hingga saya jadi malu. Saya jadi korban iklan. Untuk itu saya sarankan bank ini mencari merchant yang betul-betul bonafid dan melayani pelanggan tanpa syarat (meski Indomaret dan BCA satu grup). Karena tanpa syarat minimal pun saya selama ini sudah terbiasa belanja di tempat ini sejak gerai dibuka. Namun pada saat penting seperti ini, saya kehilangan teman yakni Indomaret. Ign Yongky K (0888 6580058) + Semarang Indah B4-19, Semarang *** Soal Pilgub Jateng Atmosfer Pilgub Jateng 2008 makin menghangat. Di harian ini termuat pernyataan salah satu bakal calon yaitu Sumaryoto mengenai peluangnya. Dia mengatakan optimistis mendapat restu DPP PDI-P. Berbeda dengan bakal calon lain seperti Bibit Waluyo, Eko Budihardjo, M Tamzil, Chaerul Rasjid dan H Imam Suroso yang semuanya orang luar partai tersebut. Sumaryoto adalah kader andalan partai berlambang banteng bermoncong putih, apalagi dalam raihan suara saat pemilihan legislatif 2004 dia menduduki nomor tiga se-Indonesia dan di Jateng raupan suaranya nomor satu untuk PDI-P. Menurut pandangan matematis dan logis bagi kaum awam, dia sudah dapat dipastikan mengungguli bakal calon lainnya. Tetapi partai ini punya sejarah "aneh" dalam hajat yang sama. Misalnya, saat pilkada di DKI (2003) dan Pilkada Jateng (2003), justru kadernya dikalahkan oleh tokoh dari luar namun direstui oleh DPP. Bagaimana drama pilih-memilih bakal calon gubernur lewat jalur itu akan berakhir. Sungguh menarik untuk dicermati. Saya menunggu pendapat dari pembaca. Nursito Karsoputro (08156995507) Pabuaran Rt 1/RW 4, Purwokerto Utara *** Jangan Tutup Pintu Pagar Sekolahan Ketika ada razia oleh Poltabes terhadap para siswa yang berkeliaran di mall, ada yang beralasan tidak masuk karena pintu pagar sekolahnya ditutup. Membaca ini saya teringat ketika pernah membantu kasek ngurusi siswa, ada kebijakan bahwa tidak pernah menutup pintu pagar sekolah. Sebaiknya siswa yang terlambat perlu diberi arahan tegas dan dicari penyebabnya, barangkali pihak sekolah dapat membantu. Karena secara moral seorang siswa yang berangkat ke sekolah berarti ada niat untuk belajar. Tetapi ternyata di perjalanan ada sedikit hambatan maka dia terlambat dan kecewa ini ditambah dengan pintu pagar ditutup. Kebijakan ini akan menambah makin frustasi sehingga akhirnya berkeliaran di mall. Melalui hubungan kasih sayang, siswa yang terlambat diminta penjelasannya. Namun kepada siswa yang langganan terlambat harus mendapat perhatian khusus. Saya berharap hal ini membangkitkan pikiran kasih sayang kasek untuk tidak membuat kebijakan yang tidak mendidik. Sekali lagi harus direnungkan bahwa mendidik adalah perbuatan yang tidak mudah apalagi dengan situasi global yang begitu kompleks. Parmanto SH MHum Jl Meranti Raya 301, Semarang *** Bila Siswa Tawur, Kasek Harus Ditegur Masih sering terjadi tawuran siswa hingga bisa mengganggu orang di sekitarnya. Hal ini mengingarkan saya ketika pernah ngurusi siswa di sekolah yang cukup terpandang di kota ini. Kalau dicermati, terjadinya siswa tawuran bisa disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya siswa tersebut memang istimewa yang kelebihan energi. Kedua, tidak ada pembinaan khusus terhadap para siswa. Ketika saya ngurusi mereka, kasek mempunyai pola tetap dan tegas yaitu bila ada yang terlibat tawuran maka akan dikeluarkan. Akibatnya secara moral siswa menjadi takut. Kalau pihak Poltabes menangkap yang tawuran, saya sependapat bahkan kalau perlu orang tuanya dipanggil untuk turut bertanggung jawab serta minta penjelasan tentang kehidupan dalam keluarganya. Kemudian ditambah lagi dengan teguran khusus kepada kasek, sudah tentu seizin pihak Diknas . Melalui kasek akan diperoleh penjelasan tuntas tentang siswa tersebut. Program mengadakan razia terhadap para siswa yang berkeliaran di mal juga perlu dilanjutkan secara periodik dan terprogram. Mungkin tidak berlebihan, dengan program yang mantap mengadakan pembinaan serta memberi bermacam aktivitas akan menyebabkan siswa tidak berpikir tawuran. Untuk ini peranan kasek sangat dituntut kreativitasnya dalam mendidik dan membina mereka. Kasek harus bisa membuat siswa sesibuk mungkin sehingga tidak kelebihan energi untuk melempar paving ke orang lain. Semoga tulisan ini mengingatkan para bapak yang cinta kepada anak bangsa untuk membina para siswa dengan penuh kasih sayang. Parmanto SH MHum Jl Meranti Raya 301, Semarang *** Kecewa ATM BCA Saya pemegang rekening BCA dolar No 0094139712 sejak tahun 2000. Pada 23 September 2007 pagi saya mengambil uang melalui ATM-nya di ADA Siliwangi Semarang. Karena salah menekan tombol, yang terproses adalah pengambilan nominal Rp 1.250.000 (saya berniat menekan tombol 'transaksi lainnya' yang letaknya di bawah tombol tersebut. Saat uang keluar (dalam bentuk lembaran lima ribuan, kertas lama/tidak baru) dan saya hitung, jumlahnya hanya Rp 1.150.000 (23 lembar lima puluh ribuan). Saya hitung ulang sampai 5 kali tetap kurang 2 lembar. Segera saya hubungi Halo BCA dan diminta menunggu proses. Surat balasan BCA tertanggal 1 Oktober 2007 dan saya terima 2 hari berikutnya menyatakan, sangat menyesal tidak dapat melakukan koreksi atas keluhan saya karena tidak ada gangguan di mesin ATM maupun jalur komunikasi saat transaksi. Jawaban tersebut mengecewakan karena bank lebih mempercayai mesin daripada nasabahnya yang sudah 7 tahun. Memang jumlah uang di rekening hanya sedikit dan saya satu orang di antara jutaan nasabah besarnya, namun uang Rp 100 ribu sangat besar artinya bagi saya. Di saat bank itu mencantumkan moto "50 tahun melayani" dengan tinta emas, saya merasa dikecewakan atas pelayanannya. C Tri Wulansari (08122892069) Jl Bligo 7 Pondok Beringin, Semarang *** Mohon Pinjaman Lunak Saya bersama rekan mendirikan warung makan di Semarang dengan aneka masakan karena ingin mandiri dan merubah nasib keluarga. Dengan modal pas-pasan dan keteguhan hati, warung tersebut berjalan lancar selama 1 tahun dan punya banyak pelanggan tetap. Tapi karena kontrak hampir habis dan belum punya modal lagi maka warung terancam tutup. Saya berusaha pinjam modal tapi tak ada jaminan. Untuk itu kepada pembaca kalau ada yang berniat memperkerjakan saya atau kerja sama bagi hasil dengan meminjamkan modal (pinjaman lunak). Sarji (024 70339088) Jl Gajah Raya 104, Semarang |