logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 16 Nopember 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan lebih rendah dari target pemerintah sebesar 6,3 persen. Angka pertumbuhan kemungkinan maksimal hanya 6,2 persen. Itu pun dengan syarat apabila kinerja selama kuartal IV relatif baik dan mampu mencapai 6,4 - 6,6 persen. Sepintas tampaknya tak ada persoalan serius dengan perkembangan yang tak terlalu menggembirakan itu. Apa artinya bila bedanya hanya 0,1 persen? Tetapi jangan lupa, dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja sangat besar. Setiap 0,1 persen pertumbuhan diperkirakan akan terkait dengan sekitar 100 ribu kesempatan kerja. Jadi akan ada pengurangan sebesar itu.

Padahal, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dengan pertambahan angkatan kerja setahun sebanyak 2,1 juta orang dan kesempatan kerja 2 juta orang, memang akan ada tambahan pengangguran100 ribu. Dan secara akumulatif jumlah pengangguran di negara kita akan semakin besar. Di situlah sebenarnya letak persoalan itu. Angka riilnya bisa jauh lebih besar, karena semua baru perhitungan kasar atas dasar asumsi tertentu. Padahal pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang konsumsi, sementara penggunaan teknologi canggih yang kurang menyerap tenaga kerja semakin banyak dijadikan pilihan.

Mungkin kondisinya sedikit tertolong karena laju inflasi juga bisa ditekan menjadi sekitar 6,5 persen. Jadi pertumbuhan ekonomi tak terlalu dimakan inflasi. Di samping itu daya beli masyarakat tidak semakin merosot. Itulah yang mampu menggairahkan pasar domestik sehingga tingkat konsumsi masyarakat masih meningkat. Kredit perbankan di sektor konsumtif pun tumbuh lebih cepat katimbang untuk sektor produktif seperti investasi. Apalagi yang berjangka panjang. Memang akan lebih mantap apabila pertumbuhan yang terjadi lebih didukung perkembangan investasi dan sektor riil, karena sekaligus menyerap tenaga kerja.

Banyak faktor, baik internal maupun eksternal yang mengakibatkan pertumbuhan sedikit meleset dari perkiraan. Di dalam negeri, menurunnya investasi menjadi penyebab utama, dan itu terlihat juga dari kinerja perbankan dalam penyaluran kredit. Mengapa investor masih enggan bergerak? Ada banyak faktor, terutama menyangkut iklim usaha dan persepsi terhadap prospek bisnis itu sendiri. Sementara itu investor asing pun belum banyak tertarik, sehingga yang masuk lebih banyak aliran modal ke dalam investasi portofolio. Persaingan yang makin ketat dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia pun tentu ada pengaruhnya.

Menggiatkan investasi dan sektor riil adalah strategi yang paling tepat, dan potensi swasta harus menjadi andalan, mengingat kemampuan pemerintah sudah terbatas. Pengeluaran rutin makin memberatkan APBN, sehingga pengeluaran untuk pembangunan, yang sebagian besar lari ke daerah, tidak lagi bisa diharapkan menjadi stimulus. Dalam konteks inilah, perlu upaya serius memperbaiki iklim usaha dan memberikan insentif maksimal bagi kalangan dunia usaha. Celakanya, yang terjadi malah kebijakan-kebijakan yang memberatkan, seperti penyesuaian harga BBM industri, tarif pajak, dan sebagainya.

Kita tahu belum ada perbaikan signifikan pada iklim usaha. Keluhan tentang ekonomi biaya tinggi akibat banyaknya pungli, kepastian hukum serta rumitnya perizinan masih saja terjadi. Belum lagi hal-hal yang terkait dengan ketidakpastian jangka menengah dan panjang. Sebenarnya situasi makro yang makin kondusif bisa menjadi faktor positif. Karena bagaimanapun stabilitas moneter dan ekonomi pada umumnya relatif terjaga dan semakin permanen. Demikian juga stabilitas politik. Kendati belum dijamin benar, namun dinamikanya masih dalam batas kewajaran. Artinya, iklim investasi sebenarnya tidaklah terlampau buruk.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA