logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 16 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Maraknya Penipuan dan Penggelapan Uang (2)

Bunga Tak Wajar, Sebaiknya Segera Menjauh


SM/Riyono Toepra GELEDAH KANTOR:Sejumlah personel Satreskrim Polwiltabes Semarang menggeledah kantor PT GNF yang diduga terlibat penipuan dan penggelapan uang nasabahnya.(30)

PERILAKU mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu ''sekejap'' memang sangat mengubah sikap seseorang dalam mengambil suatu keputusan. Mereka tidak hanya mengandalkan iming-iming bunga tinggi, tetapi cara-cara di luar logika pun ditempuh.

Sebagai contoh, kisah petualangan dukun ''maut'' Iskandar di Kabupaten Tegal. Dia yang tak lulus SD dan mantan tukang becak, menipu ratusan orang berduit. Bahkan ia membunuh puluhan kliennya yang ingin mendapatkan uang lewat jalur mistik dukun pengganda uang itu.

Kasus yang membuat merinding bulu kuduk masyarakat itu seperti tidak mengusik nurani sejumlah orang. Buktinya, muncul lagi kisah petualangan dukun pengganda uang bernama Ahmad Muntoha asal Desa Pilangsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.

Korbannya tak tanggung-tanggung. Mulai dari pengusaha, pejabat, anggota legislatif, calon bupati hingga petinggi militer. Bahkan nilai kerugiannya juga fantastis dan boleh dibilang tertinggi untuk saat ini di Tanah Air. Penyidik di Unit II Sat I Opsnal Ditreskrim Polda Jateng menaksir kerugian akibat perbuatan Ahmad Muntoha alias Toha mencapai triliunan rupiah.

Kapolda Jateng Irjen Drs H Dody Sumantyawan HS SH juga menyatakan prihatin atas maraknya kasus tersebut. Dia meminta masyarakat agar hati-hati dan tidak tergiur dengan berbagai jalan pintas yang akhirnya merugikan masyarakat sendiri.

Untuk menegaskan keprihatinan dan demi meningkatkan kewaspadaan, melalui Kabid Humas Kombes Drs Syahroni, Polda Jateng meminta masyarakat waspada.

Menyangkut penawaran bisnis investasi dengan mengatasnamakan perusahaan tertentu dan menjanjikan bunga atau keuntungan sangat besar.

Polisi meminta masyarakat mengecek keberadaan dan kebenaran perusahaan yang menawarkan bisnis dimaksud. Tidak mudah tergiur bunga tinggi dan iming-iming barang mewah.

''Ya bagi para korban penipuan bisnis seperti ini, segeralah melapor. Atau kalau menjumpai hal yang mencurigakan terkait praktik bisnis semacam ini, secepatnya melapor ke polisi sebelum jadi korban penipuan,'' terang dia.

Karakter Jalan Pintas

Sementara itu salah seorang pemerhati pasar keuangan, Muh Zamroni, menyayangkan banyaknya nasabah yang menjadi korban penipuan dan penggelapan oleh lembaga keuangan. Hal itu menunjukkan karakter masyarakat yang masih menyukai jalan pintas mendapatkan keuntungan.

Seharusnya mereka teliti lebih dulu sebelum menempatkan uangnya di sebuah lembaga serta jelas mengetahui produk keuangan yang dipilihnya. Seringkali nasabah hanya berpikir keuntungan tinggi, namun tidak mau menanggung risiko.

Padahal dalam hukum dasar investasi menyebutkan semakin besar ekspektasi keuntungan yang direguk, maka semakin tinggi pula risikonya. Meski kasus penipuan investasi dan penggelapan lembaga keuangan telah berulang kali terjadi, masih saja ada nasabah yang berbondong-bondong mencari keuntungan tinggi di luar kewajaran dan logika.

''Bila sudah menemui tawaran keuntungan tinggi yang di luar kewajaran, maka lebih baik menjauh sebelum uang Anda hilang,'' katanya. (Riyono Toepra, Moh Anhar, Fahmi ZM-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA