logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 16 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Sepak bola

Nasib Klub setelah Bantuan APBD Dihentikan (2)

Duit Susah, Prestasi pun Payah

SETALI tiga uang dengan nasib Persis Solo yang kelimpungan karena kekurangan dana. Sejak September lalu, PSIS pun sudah kehabisan bahan bakar. Yang makin memprihatinkan, kekurangan dana itu ternyata sangat berpengaruh terhadap pencapaian tim.

PSIS kini tidak lagi bersinar cerah di Liga Indonesia. Jika dua musim lalu Laskar Mahesa Jenar mampu menduduki peringkat tiga dan runner up, kali ini terpuruk di urutan 12. Posisi itu di luar zona Liga Super yang hanya diperuntukkan bagi tim berposisi ''9 Besar'' tiap-tiap wilayah. Meski demikian, peluang menerobos Liga Super belumlah tertutup.

Keterpurukan tim kebanggaan warga Semarang itu tidak lepas dari berbagai masalah yang dihadapi. Mulai dari ketidakjelian perekrutan pemain, pelatih, hingga pendanaan. Ketidakjelian perekrutan pemain dapat dilihat dari lalu lintas keluar masuk pemain, baik lokal maupun asing, pada pertengahan kompetisi. Begitu juga dengan pergantian pelatih Bonggo Pribadi ke Sartono Anwar pada awal putaran kedua.

Ketika suasana tim kembali bergairah dan grafik permainan Julio Lopez cs meningkat setelah pergantian pelatih, PSIS kembali dirundung masalah. Kali ini masalahnya sangat berat karena langsung berkaitan dengan kelangsungan hidup tim, yaitu pendanaan.

Ya, permintaan dana tambahan sebesar Rp 3,1 miliar ke APBD Perubahan Kota Semarang ditolak Dewan. Hal itu tidak lepas dari Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Permendagri No 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Permendagri No 26/2006 tentang Pedoman Penyusunan APBD 2007, yang salah satu isinya melarang pemberian bantuan kepada lembaga non-pemerintahan secara terus menerus.

Padahal dana dari APBD murni 2007 sebesar Rp 14,4 miliar sudah habis sejak Agustus silam. Kompetisi masih bergulir hingga Desember.

''Kompetisi tahun ini molor hingga akhir Desember. Otomatis, dana yang dibutuhkan membengkak,'' ungkap Manajer Tim PSIS, Yoyok Sukawi.

Dana sebesar Rp 14,4 miliar tersebut hampir setengahnya tersedot untuk membayar gaji dan kontrak pemain serta ofisial tim.

Pemain PSIS musim ini berjumlah 25 orang. Sedangkan ofisial tim yang terdiri atas pelatih, asisten pelatih, pelatih fisik, dokter, psikolog, massuer, ahli gizi, hingga pembantu umum berjumlah 11 orang.

Sesuai aturan PSSI, kontrak pemain dan ofisial harus dibayar di muka sebesar 25 persen. Itu artinya, seusai mereka menandatangani kontrak dengan manajemen pada September 2006, gaji sudah harus dibayarkan. Total uang muka yang dibayarkan mencapai Rp 2.693.500.000.

Sedangkan kekurangan dari kontrak tersebut dibayar setiap bulan dalam bentuk gaji. Totalnya, PSIS harus merogoh kocek Rp 630 juta untuk gaji pemain dan ofisial tim setiap bulan. Jika mereka dikontrak sejak September 2006, maka total biaya yang dikeluarkan manajemen sampai Agustus 2007 sejumlah Rp 7.560.000.000.

Khusus pemain asing, manajemen masih dibebani biaya administrasi. Contohnya dalam pengurusan kartu izin tinggal sementara (Kitas) di Singapura dan perizinan di Kantor Imigrasi Jakarta. Dari delapan pemain asing yang dimiliki Mahesa Jenar, manajemen harus mengeluarkan biaya administrasi kontrak sebesar Rp 318.020.000.

Hal itu masih ditambah dengan pajak pemain asing yang setiap tahunnya Rp 24 juta per orang. Dengan demikian, total pajak ekspatriat yang harus dibayar sebesar Rp 192.000.000. Delapan pemain asing itu adalah Julio Lopez, Zoubairou, Igor Joksimovic, Didier Koutouzi, Joao Carlos, Fofee Kamara, Ebi Sukore, dan Alfredo Figueroa. Tiga pemain terakhir diberhentikan manajemen di tengah kompetisi.

Perekrutan pemain musim ini juga diwarnai dengan transfer. Pemain yang direkrut melalui transfer di antaranya Ebi Sukore dari Persik Kediri, Marthen Tao dan Persmin Minahasa, dan Joao Carlos dari Arema Malang. Manajemen harus mengeluarkan Rp 490.000.000 untuk transfer tiga pemain tersebut.

Biaya lain yang dikeluarkan manajemen di antaranya perlengkapan, obat-obatan, latihan, katering, operasional pemain-ofisial, uji coba dan turnamen, bonus, biaya kompetisi, administrasi sekretariat dan mess, serta alat tulis kantor sekretariat.

Hingga Agustus, biaya kompetisi baik pertandingan kandang maupun tandang mencapai Rp 1.267.678.030. Total bonus tim yang dikeluarkan Rp 1.203.800.000.

''Biaya yang dikeluarkan hingga Agustus lalu sudah sekitar Rp 15 miliar. Itu belum termasuk pajak yang harus dibayarkan ke pemkot,'' kata Yoyok.

Bagaimana dengan pemasukan PSIS dari penjualan tiket dan parkir selama pertandingan kandang?

Musim ini, panitia pertandingan PSIS dipegang oleh Manajer Operasional Ichwan Ubaidilah. Pemasukan dari penjualan tiket minim. Setiap pertandingan kandang, panpel hanya memperoleh Rp 25 juta sampai Rp 65 juta. Padahal, biaya pelaksanaan pertandingan seperti sewa stadion dan aparat keamanan sekitar Rp 90 juta - Rp 110 juta.

Minimnya pemasukan tersebut tidak lepas dari adanya siaran langsung salah satu televisi swasta nasional. Hampir setiap pertandingan kandang tim Kota ATLAS ini disiarkan langsung. Hal tersebut membuat jumlah penonton yang melihat pertandingan di Stadion Jatidiri berkurang.

''Padahal jika tidak disiarkan langsung, pemasukan dari penjualan tiket cukup besar. Antara Rp 130 juta sampai Rp 210 juta,'' terang Yoyok.

Utang ke pihak ketiga dan mengetuk hati para pengusaha Semarang menjadi pilihan PSIS untuk menyambung hidup dalam kompetisi musim ini. Jika keran APBD tahun depan benar-benar ditutup, entah dari mana utang itu akan dilunasi, dan siapa pula yang bertanggung jawab. (Budi Winarto, Gunarso, Setyo Wiyono, Muhammadun Sanomae-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA