| Jumat, 16 Nopember 2007 | NASIONAL |
Istri Tampil di TV, Roy Marten Menangis
SURABAYA- Hati nurani dan rasa kebapakan Roy Marten tersentuh. Bintang film beken itu menangis saat melihat istrinya, Anna Maria, tampil di TV dan menyampaikan pesan serta dukungan keluarga kepadanya setelah terjerat kasus sabu-sabu (SS) di Surabaya. Saat itu, Roy Marten sedang disidik di Unit Idik III Reskoba Polwiltabes Surabaya. Karena itu, pengacaranya meminta proses penyidikan dihentikan sementara. "Saya ucapkan terima kasih kepada keluarga dan istri saya yang menerima kondisi ini dengan tabah," ujar Roy Marten di Polwiltabes di Jalan Sikatan, Surabaya, Kamis (15/11) malam. Ketika Anna Maria menyampaikan pesan khusus kepada Roy Marten, bintang film Roda-roda Gila itu melihat televisi yang berada di ruang Unit Idik III Reskoba Polwiltabes. Pengacaranya seperti Kris Salam, Guntur P Daulay, dan Budi Sampurno ikut mendampingi. Tak berselang lama, Roy Marten menitikkan air mata. Salah satu pengacaranya meminta penyidik Aipda Suryadi menghentikan penyidikan. Selanjutnya pengacara mengambilkan tisu dan memberikannya kepada Roy Marten. Aktor beken kelahiran Kota Salatiga itu langsung mengusap air mata yang jatuh dan meleleh di pipinya. "Roy Marten sangat terharu dan terkesan dengan ketabahan dan dukungan keluarganya," kata salah seorang pengacaranya. Kepada pers, Roy Marten menyatakan, apapun yang dilakukan istri dan keluarganya menambah semangatnya karena dia tak merasa dikucilkan. "Saya mencoba menghindari telepon dan mencegah tak dihubungi," kata Roy Marten. Ditanya mengenai materi penyidikan, Roy Marten tak mau memberikan keterangan panjang lebar. Sebab, materi penyidikan adalah hal penting yang mesti dikonsultasikan dan disampaikan pengacara. "Saya tak mau jawab karena masih dalam proses penyidikan." Dalam kesempatan sebelumnya, Roy Marten menyatakan tidak ingin merepotkan dan menganggu lagi istri, anak, dan anggota keluarganya akibat kasus berat tersebut. Karena itu, setelah disidik petugas pada Rabu (14/11) sekitar pukul 22.00, dia meminta anak, istri, dan keluarganya tak datang ke Surabaya untuk membesuk. Pria itu ingin masalah tersebut ditanggung sendiri. "Saya tak berharap mereka datang ke Surabaya," ujarnya. Sejak kemarin, proses pemeriksaannya didampingi pengacara. Ada 7 orang mendampinginya terkait kasus SS, yakni Kris Salam (adiknya), Guntur P Daulay, Budi Sampurno, Indra Wiyono, Suharyono, Ery Kurniadi, dan Ferry Kurniawan. Sementara itu, terkait materi inti kasus pesta SS yang melibatkan Roy Marten, Kris Salam meminta penyidik Polwiltabes menetapkan Roy Marten sebagai saksi, bukan tersangka. Sebab, berdasarkan pengakuan Roy Marten kepada tim pengacaranya, yang bersangkutan tak pernah lagi mengonsumsi SS maupun jenis narkotika lainnya. Padahal, sebelumnya Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Anang Iskandar dan Kasat Reskoba AKBP Abi Darrin menyatakan, kelima tersangka pesta SS di Hotel Novotel di Jalan Ngagel Surabaya itu positif memakai narkoba jenis SS. Kenyataan itu didasarkan hasil tes urine dan darah yang dilakukan petugas bagian kesehatan Polwiltabes. Kris Salam menyatakan, hasil tes urine dan darah masih dalam proses di Labfor Mabes Polri cabang Surabaya. "Kita lihat saja hasil tes urine nanti," kata dia. Yang perlu diingat, tambahnya, saat digerebek di kamar 465 Hotel Novotel, di tempat tidur Roy Marten tak ditemukan adanya barang bukti SS. "Pada tempatnya polisi menempatkan Roy Marten sebagai saksi. Saat kejadian Roy Marten sedang tidur. Apalagi tak ditemukan barang bukti di kamarnya," katanya. Bagaimana respon otoritas Polwiltabes Surabaya? "Itu hak mereka. Tapi, kami yakin Roy Marten tersangka dalam kasus ini," tandas AKBP Abi Darrin. Pendapat polisi itu didasarkan pada tes urine, darah, dan keterangan tersangka lain yang ikut pesta SS bersama Roy Marten. Abi Darrin mengungkapkan, kesaksian tersangka lain seperti Winda, Freddy M, Didit, dan A Hong serta hasil tes urine bagian kesehatan Polwiltabes Surabaya menunjukkan pria itu mengonsumsi SS. "Itu sudah bisa kami pakai untuk menjerat Roy Marten jadi tersangka," tegas Abi Darrin. Selain itu, saat digerebek di kamar 465 Hotel Novotel, petugas menemukan dua aluminium foil yang baru pakai pesta SS. Pada salah satu bagian aluminium foil itu juga masih ada sisa SS yang menempel. Bukan Kiamat Kendati sangat menyesalkan tindakan adiknya, namun aktor senior Rudy Salam mengaku tidak akan meninggalkan Roy Marten menghadapi saat-saat sulitnya sendirian. Dia akan senantiasa memberikan dukungan kepada suami Anna Maria itu hingga benar-benar bisa melepaskan diri dari jeratan narkoba. Ditemui di kediamannya di Jakarta kemarin, dia terlihat sangat emosional. Beberapa kali dia meneteskan air mata atas musibah yang kini kembali dihadapi Roy Marten. Meski demikian, dia merasa tidak habis pikir mengapa Roy kembali terantuk masalah yang sama, narkoba. ''Terus terang saya sangat sedih. Kami sekeluarga sangat shock menghadapi kenyataan ini. Saya tidak habis pikir dengan adik saya ini. Bisa dibilang segalanya dia punya. Istri, anak-anak, ketenaran, harta benda. Sekarang ini dia melakukan tindakan yang bisa memusnahkan semua yang dia miliki itu,'' katanya sambil menahan tangis. Menurut Rudy, sekeluarnya dari penjara dalam kasus yang sama beberapa waktu lalu, Roy menunjukkan sikap yang membaik. ''Saya lihat dia sudah seperti Roy yang dulu lagi,'' katanya tanpa merinci lebih lanjut. Karena itu dia sangat terkejut mendapati Roy masih menggunakan narkoba. Akan tetapi, dia dan keluarga besar Salam tidak akan pernah meninggalkan Roy sendirian menghadapi masalah tersebut. ''Saya bisa membayangkan betapa malunya dia. Tertangkap polisi justru setelah berkampanye antinarkoba. Karena itu dia sangat membutuhkan dukungan keluarga. Betapapun, apa yang dia hadapi saat ini, Roy masih punya masa depan. Ini bukan kiamat buat Roy.'' Apapun yang terjadi, katanya, Roy tetap adik yang sangat dibanggakan. ''Dia adalah anggota keluarga kebanggaan kami. Saya boleh dong bangga terhadap adik saya sendiri. Betapapun sampai saat ini, tanpa mengecilkan aktor yang lain, Roy adalah bintang yang belum ada tandingnya. Dia yang terbaik di bidangnya. Saya bangga terhadapnya,'' katanya. Pintu Gerbang Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) Andi Mattalata mengaku tidak tahu apakah sabu-sabu (SS) sebanyak 150 gram yang diperoleh artis Roy Marten dari LP Cipinang, Jakarta. "Namun kasus Roy Marten itu merupakan pintu gerbang buat para penegak hukum polisi termasuk jajaran saya untuk menelusuri lebih lanjut apakah benar itu diperoleh di penjara atau di luar. Yang pasti benda itu ada pada dia," kata dia usai membuka acara Lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan azan warga binaan se-Jateng di aula LP Kelas I Kedungpane Semarang, Kamis (15/11) sore. Menteri Hukum dan HAM mengakui, dirinya tidak menutupi ada transaksi-transaksi narkoba yang lolos dari pantauan aparat, walau petugas sudah mengadakan penggeledahan-penggeledahan. "Seperti kemarin saya datang ke Tengerang, melakukan penggeledahan-penggeledahan kepada bandarnya dan tak menemukan apa-apa, hanya menemukan memang alat-alat komunikasi, yang mungkin itu dipakai untuk melakukan transaksi tertentu," katanya. Bagaimana petugas LP seringkali bisa kecolongan terhadap masuknya narkoba? Dia mengungkapkan ada tiga penyebab. Pertama, jajarannya tidak memiliki alat deteksi. Kedua, petugas belum tentu mengenali zat-zat terlarang tersebut dan terakhir secara kuantitatif petugas kurang. Agar petugas tidak dapat dibina, dirinya sudah meminta kepada seluruh kepala LP supaya tidak membiarkan mereka berinteraksi dengan napi lebih dari satu minggu. "Kalau lebih dari seminggu, nanti bisa terbalik. Bukannya petugas membina napi, namun sebaliknya." (G14,tn,H30,J13-46) | ||||