| Jumat, 16 Nopember 2007 | NASIONAL |
Dampak Tekanan Ekonomi Global
EKONOMI global saat ini mengalami beberapa tekanan yang datang silih berganti dan cukup berat. Setelah pasar modal dihempas oleh krisis subprime mortgage (krisis kredit perumahan) , kini giliran pasar komoditas diterjang oleh rally harga minyak mentah yang semakin mendekati angka seratus dolar per barrel. Sebenarnya, tinggal masalah waktu saja harga minyak akan menembus batas psikologis tersebut. Sering kita bertanya-tanya apa dampak dari berbagai guncangan tersebut bagi ekonomi nasional. Dengan memahami hal tersebut kita bisa menempuh berbagai langkah yang meminimumkan berbagai risiko yang akan terjadi. Pertama adalah dampaknya terhadap neraca pembayaran. Dalam jangka pendek ini, kecenderungan naiknya harga minyak dapat meningkatkan surplus neraca pembayaran karena adanya peningkatan surpus neraca transaksi berjalan. Naiknya harga minyak sudah terbukti memicu kenaikan berbagai harga komoditas lainnya seperti gas, batu bara, CPO, karet dan komoditas lainnya. Karena ekspor Indonesia didominasi oleh komoditas primer, kecenderungan ini tentunya akan meningkatkan nilai ekspor. Namun perlu diperhatikan bahwa volume ekspor sulit untuk dinaikan kecuali dalam jangka menengah dan panjang. Gas, minyak bumi, dan produk perkebunan sangat sulit untuk ditingkatkan produksinya karena memerlukan waktu yang cukup lama dalam investasi. Sementara itu dari sisi impor, praktis peningkatan hanya terjadi di dalam komponen impor minyak bumi. Komponen impor lainnya, didominasi oleh bahan baku dan barang modal yang harganya tidak terkait secara langsung dengan harga minyak. Karena itu peningkatan impor tidak akan sekencang peningkatan ekspor. Dalam jangka pendek, menurunnya tingkat suku bunga internasional menyusul krisis subprime mortgage akan menciptakan dampak positif bagi neraca pembayaran. Dengan relatif rendahnya return dalam instrumen finansial global, dana-dana jangka pendek akan membanjiri the emerging market untuk mencari return yang lebih menarik. Karena itu neraca modal kita akan membaik dalam jangka dekat ini. Tetapi, arus dana jangka pendek biasanya menciptakan kerawanan baru yaitu ketika dana tersebut berbalik arus. Krisis Asia di tahun 1997-1998 dan krisis Amerika Latin di pertengahan 1980-an merupakan episode kolapsnya perekonomian yang dipicu oleh pelarian modal. Karena itu, dalam jangka menengah maupun panjang kemungkinan besar kita sedang berada pada posisi yang relatif berbahaya. Anggaran Membengkak Kedua adalah dampaknya terhadap APBN yang kemungkinan besar bersifat netral. Kenaikan harga minyak memang akan menyebabkan membengkaknya anggaran subsidi BBM dan listrik. Tapi itu bisa diimbangi dengan kenaikan dalam penerimaan negara dari bagi hasil migas dan barang tambang lainnya serta pajak penghasilan dari perusahaan-perusahaan yang mengalami wind fall profit. Dampak positif akan sangat terasa tertuma di daerah-daerah yang APBD-nya meningkat karena terjadi peningkatan bagi hasil sumber daya alam. Daerah seperti ini kemungkinan akan mengalami booming dan surplus dalam APBD-nya akan terus meningkat. Kemungkinan besar hal tersebut terjadi di Riau dan Kalimantan Timur. Ketiga adalah dampaknya terhadap stabilitas ekonomi makro yang kemungkinan besar agak mengkhawatirkan terutama terhadap inflasi, pengangguran dan kemiskinan. Walaupun kemungkinan besar pemerintah tidak akan berani menaikkan harga BBM bersubsidi karena terlalu dekat dengan Pemilu 2009, ancaman inflasi masih terbuka lebar. Kenaikan harga BBM industri yang tidak disubsidi tentunya akan meningkatkan ongkos produksi barang-barang manufaktur. Pada gilirannya hal ini akan dibebankan kepada konsumen. Ancaman inflasi juga disebabkan oleh kenaikan harga komoditi dunia yang kemudian mendorong kenaikan harga barang-barang tradeable di pasar domestik. Contohnya adalah kenaikan harga minyak goreng yang beberapa waktu yang lalu menimbulkan polemik. Dengan menyeruaknya inflasi, biasanya pengentasan kemiskinan menjadi terhambat. Memang, pertumbuhan ekonomi yang akhir-akhir ini sedang mengalami perbaikan akan mengurangi kemiskinan. Tetapi meningkatnya inflasi justru akan menyebabkan beban biaya hidup kalangan miskin menjadi meningkat. Bisa jadi angka kemiskinan akan menurun. Tetapi penurunan tersebut lebih lambat dari yang seharusnya. Begitu pun dengan angka pengangguran. Karena komoditas primer yang mengalami kenaikan harga, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja tidak akan begitu banyak. Ini karena pertambangan dan perkebunan adalah sektor yang intensif modal. Di lain pihak justru sektor manufaktur yang intensif tenaga kerja sedang mengalami tekanan karena biaya produksi meningkat. Karena itu menjadi lebih sulit saat ini untk berharap bahwa tingkat pengangguran bisa kita kurang secara progresif. Dengan menelaah berbagai kemungkinan tersebut di atas, sebaiknya pemerintah beserta dunia usaha berhati-hati terutama dalam jangka menengah dan panjang. Prinsipnya adalah sedia payung sebelum hujan. Bersiaplah terhadap segala kemungkinan yang terburuk.(60) - Iman Sugema, direktur International Center for Applied Finance and Economics (Inter CAFE), Institut Pertanian Bogor | ||||